Serangan Israel ke Lebanon Nodai Gencatan Senjata. Iran Kembali Tutup Selat Hormuz

Agus Jaka Purnama • Dipublikasikan Kamis, 9 April 2026 | 13:19 WIB
Peta Selat Hormuz. (net)
Peta Selat Hormuz. (net)

radarsampitjawapos.com-Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang bahkan belum genap 24 jam kini berada di ambang kegagalan.Langkah Israel yang tetap menggempur Lebanon menjadi pemicu utama keputusan Teheran untuk kembali membatasi pelayaran di Hormuz.

Sebagai respon, Teheran dilaporkan mengumumkan kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons langsung atas serangan Israel yang terus berlanjut di Lebanon. Kondisi ini menjadi pukulan telak bagi kesepakatan yang sebelumnya digadang-gadang sebagai peluang meredakan konflik di Timur Tengah itu.

Penutupan kembali Selat Hormuz bukan sekadar simbolis. Jalur ini merupakan salah satu rute pelayaran paling vital di dunia, dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.

Dalam kesepakatan sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, setuju menunda serangan selama dua minggu dengan syarat Iran  membuka dan menjamin keamanan jalur tersebut. Artinya, pembukaan Hormuz adalah fondasi utama dalam gencatan senjata, bukan sekadar elemen tambahan.

Namun kini, dengan keputusan militer Iran menutup kembali jalur tersebut, dasar kesepakatan itu praktis runtuh bahkan sebelum benar-benar berjalan. Mengutip laporan media lokal, Iran menilai Israel telah melanggar semangat gencatan senjata melalui serangan simultan ke wilayah Iran dan Lebanon.

Di sisi lain, Washington sebelumnya memang menyatakan bahwa konflik di Lebanon tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan AS dengan Iran. Presiden Donald Trump menegaskan bahwa situasi Lebanon adalah 'terpisah' dari kesepakatan dengan Iran.

Baca Juga: Imbas Perang AS - Iran, Harga Plastik di Sampit Naik Signifikan, Pedagang Mulai Kurangi Stok

Diberitakan sebelumnya, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sejak awal memang telah menyatakan bahwa gencatan senjata tidak berlaku untuk Lebanon.

Serangan besar-besaran pun terus dilakukan, dengan puluhan hingga ratusan korban jiwa dilaporkan dalam gelombang serangan terbaru.

Menteri Pertahanan Israel menegaskan bahwa target utama adalah infrastruktur milik Hizbullah. Sementara itu, Hizbullah menegaskan 'hak untuk merespons' atas serangan yang terus berlangsung.

Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, melaporkan puluhan korban tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat serangan terbaru. Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah seiring proses evakuasi yang terus berlangsung. Serangan ini juga memperparah krisis kemanusiaan di Lebanon, yang sejak awal Maret telah mencatat ribuan korban dan jutaan pengungsi.(ri/bay/jpc)

 

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
selat hormuz iran donald trump Israel amerika serikat (AS)