SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menunjukkan tren peningkatan.
Memasuki musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering akibat pengaruh El Nino, pemerintah daerah tak ingin kecolongan dan langsung menetapkan status siaga darurat.
Langkah itu diputuskan dalam rapat koordinasi penanganan karhutla dan kekeringan yang digelar di Sampit, Selasa (7/4).
Hasil penilaian menunjukkan indeks n status bencana berada di angka 1,6 atau kategori waspada. Namun, Pemkab memilih menaikkan status menjadi siaga darurat sebagai bentuk antisipasi dini.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, mengingatkan bahwa kondisi cuaca kering dalam beberapa bulan ke depan akan meningkatkan kerawanan kebakaran, terutama di kawasan gambut.
“Lahan gambut sangat rentan. Sekali terbakar, api cepat meluas dan sulit dikendalikan,” ujarnya.
Menurut dia, faktor manusia masih menjadi pemicu utama kebakaran. Karena itu, kesadaran masyarakat dinilai krusial untuk menekan potensi karhutla.
“Jangan membuka lahan dengan cara dibakar. Dalam kondisi kering, api kecil bisa menjadi kebakaran besar,” tegasnya.
Tak hanya karhutla, ancaman kekeringan juga mulai diwaspadai. Minimnya curah hujan berpotensi mengganggu ketersediaan air bersih, terutama di wilayah yang bergantung pada sumber air alami.
Berdasarkan hasil rapat, status siaga darurat karhutla ditetapkan selama 180 hari, mulai 8 April hingga 4 Oktober 2026. Kebijakan ini sekaligus menjadi dasar penguatan kesiapsiagaan menghadapi peningkatan hotspot.
Pemkab juga menyiapkan skenario lanjutan. Jika jumlah titik panas dan kejadian kebakaran melonjak signifikan, status akan ditingkatkan menjadi tanggap darurat melalui rapat koordinasi berikutnya.
Sejumlah langkah mitigasi telah disiapkan. Di antaranya patroli terpadu di wilayah rawan, penguatan posko siaga, hingga kesiapan personel dan peralatan pemadaman. Sosialisasi kepada masyarakat juga digencarkan, termasuk melibatkan perusahaan di wilayah konsesi.
Dengan status siaga darurat ini, seluruh pihak diharapkan bergerak cepat dan solid untuk menekan risiko karhutla dan dampak kekeringan selama musim kemarau tahun ini. (oes)
Editor : Slamet Harmoko