Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Karhutla ‘Memanggil’ Bencana Kabut Asap di Kalteng

Agus Jaka Purnama • Jumat, 27 Maret 2026 | 06:00 WIB

Pemadalam karhan di Baamang, Kabupaten Kotim, Rabu (25/3)
Pemadalam karhan di Baamang, Kabupaten Kotim, Rabu (25/3)

SAMPIT,radarsampitjawapos.com- Musim kemarau atau musim kering yang mulai terasa di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) belakangan ini, kembali memicu kerawanan kembali datangnya bencana kabut asap akibat kebakaran lahan. Tidak segera diatasi, bencana itu berpotensi kembali terulang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi H Asan Kotawaringin Timur kembali merilis potensi kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng).

Berdasarkan analisa parameter cuaca, sebagian besar wilayah provinsi ini pada 26 Maret 2026 didominasi kategori sangat mudah terbakar. Kondisi ini ditandai dengan luasnya area berwarna merah pada peta potensi karhutla yang dirilis BMKG.

Wilayah dengan status tersebut menunjukkan tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran, terutama pada lahan kering dan gambut yang mudah tersulut api.

Sementara itu, pada 27 Maret 2026, kondisi mulai bervariasi. Sejumlah wilayah bagian selatan hingga tengah Kalteng mengalami penurunan tingkat kerawanan menjadi kategori aman hingga tidak mudah terbakar.

Meski demikian, area bagian barat dan utara masih didominasi kategori mudah hingga sangat mudah terbakar.

Dalam keterangan BMKG, klasifikasi potensi kebakaran dibagi menjadi empat kategori, yakni aman (biru), tidak mudah terbakar (hijau), mudah terbakar (kuning), dan sangat mudah terbakar (merah).

Tak hanya itu, BMKG juga mencatat pada 25 Maret 2026 terdeteksi satu titik panas (hotspot) di wilayah Kecamatan Bukit Santuai, tepatnya di Kelurahan Tumbang Tilap, Kabupaten Kotim. Kemunculan hotspot tersebut mengindikasikan adanya potensi kebakaran yang perlu diwaspadai sejak dini, terutama di tengah kondisi cuaca yang cenderung kering.

BMKG pun mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi karhutla, khususnya di wilayah yang masih berada pada kategori mudah hingga sangat mudah terbakar. Aktivitas pembakaran lahan diminta untuk tidak dilakukan guna mencegah meluasnya kebakaran.

Selain itu, instansi terkait juga diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di daerah rawan, mengingat kondisi cuaca yang dapat berubah dan memicu kebakaran dalam waktu singkat.

Sementara itu, kebakaran lahan skala besar masih saja terjadi. Seperti di wilayah Kabupaten Kotim, Rabu (25/3).  Api melahap lahan seluas 5 hektare di Desa Bengkuang Makmur, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Asap tebal pun sempat membumbung tinggi dan menyebar di lokasi sekitarnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim Multazam mengungkapkan,  lokasi kebakaran berada di kawasan yang cukup jauh.Titik api berada di akses Jalan Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, sekitar 4 kilometer dari Jalan HM Arsyad.

“Aksesnya melalui Jalan Desa Eka Bahurui, kurang lebih 4 kilometer dari Jalan H.M. Arsyad,” ujarnya.

Menurutnya, medan menuju lokasi menjadi tantangan tersendiri bagi tim pemadam kebakaran. Sehingga penanganan kebakaran lahan itu lamban dilakukan. Pihaknya telah mengerahkan Tim Reaksi Cepat (TRC) untuk melakukan operasi pemadaman sekaligus pendinginan di lokasi kejadian, hingga malam hari.

Kondisi di lapangan cukup gelap, sehingga petugas harus ekstra hati-hati karena api di lahan gambut bisa menyala di bawah tanah. Sebanyak 8 personel diterjunkan dengan dukungan 1 unit kendaraan rescue.

“Tim juga membawa berbagai peralatan, seperti 2 unit pompa portable, 20 roll selang tembak, bahan bakar minyak (BBM), nozzle jet, hingga chainsaw yang digunakan untuk membuka akses, termasuk membuat jembatan darurat. Pemadaman dan pendinginan dilaksanakan bersama Pondok Kerja Manggala Agni serta Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Eka Bahurui,” papar Multazam.

Petugas  juga fokus membatasi penyebaran api agar tidak meluas ke area lain, mengingat kondisi lahan yang kering berpotensi mempercepat menjalarnya api.

Di hari yang sama, kebakaran lahan juga terjadi tak jauh dari Kota Sampit. Yaitu di sekitar Jalan Ir Soekarno, Kelurahan Baamang Tengah. Lokasi yang mudah dijangkau membuat tim BPBD yang berjumlah tujuh personel berhasil memadamkan api dengan cepat menggunakan mobil tangki air.

Lahan seluas sekitar 1,08 hektare yang terbakar itu, didominasi semak belukar di atas gambut. Kondisi lahan sudah cukup kering sehingga mudah tersulut api.

Multazam menegaskan, kemunculan dua titik karhutla dalam sehari bukan hanya insiden, melainkan peringatan dini yang tidak boleh diabaikan. Jika tren ini terus berlanjut tanpa pencegahan serius, kebakaran lahan berpotensi meluas dan sulit dikendalikan.

BPBD pun mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar, terutama di tengah kondisi cuaca yang mulai mengering dan memasuki musim kemarau.

“Ini sudah masuk fase rawan. Kalau masih ada yang membakar lahan, risikonya bisa menjadi kebakaran besar,” tandas Multazam.

Selain di wilayah Kotawaringin Timur (Kotim), sejak awal Maret 2026, kebakaran lahan dan areal perkebunan juga marak terjadi di Kabupaten  Kotawaringin Barat, di wilayah Kecamatan Kumai dan Kecamatan Kotawaringin Lama.

Bupati Kotawaringin Barat Nurhidayah, juga terus meminta masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena praktik tersebut berisiko menimbulkan kebakaran besar terutama saat cuaca panas dan angin kencang.

Selain itu, ia meminta aparat desa dan masyarakat setempat untuk ikut berperan aktif dalam melakukan pengawasan di lingkungannya masing-masing. "Partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya kebakaran sejak dini," cetusnya. (oes/ang/gus)

 

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama