Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Gara-gara Ini! Harga Kebutuhan Pokok di Kotim Kompak Naik Usai Lebaran

Rado. • Selasa, 24 Maret 2026 | 20:41 WIB

KABAR PASAR: Suasana pasar tradisional di Kota Sampit, Kotawaringin Timur.
KABAR PASAR: Suasana pasar tradisional di Kota Sampit, Kotawaringin Timur.

SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah berlalu, harga sejumlah kebutuhan pokok (pangan) di pasar tradisional mengalami lonjakan yang cukup signifikan.

Kondisi ini dikeluhkan masyarakat karena terjadi di tengah tingginya kebutuhan pasca perayaan Lebaran.

Sejumlah komoditas utama terpantau mengalami kenaikan, di antaranya cabai sempat menyentuh harga Rp20 ribu per ons atau setara Rp200 ribu per kilogram.

Sementara itu, daging ayam potong berada di kisaran Rp70 ribu per kilogram bahkan sempat menembus Rp80 ribu per kilogram pada hari-hari awal Lebaran.

Lonjakan harga ini tidak terjadi tanpa sebab. Selain karena tingginya permintaan masyarakat pasca Lebaran, faktor utama lainnya adalah belum normalnya aktivitas pasar. Banyak pedagang yang masih libur dan belum kembali berjualan, sehingga pasokan barang menjadi terbatas.

Seorang warga Cempaga, Martias, mengaku merasakan langsung dampak kenaikan harga tersebut. Ia mengatakan harga ayam potong sempat sangat tinggi pada hari kedua Lebaran sebelum perlahan mulai turun.

“Saya beli ayam potong satu kilo hari kedua Lebaran sampai Rp80 ribu, hari ketiga sudah turun jadi Rp70 ribu. Tapi tetap saja masih mahal dibanding hari biasa,” ungkapnya.

Menurut Martias, kenaikan harga ini cukup membebani masyarakat, terutama bagi keluarga yang masih menggelar acara silaturahmi atau menjamu tamu setelah Lebaran.

Di sisi lain, Widodo, pedagang keliling membenarkan bahwa lonjakan harga terjadi hampir merata di sejumlah komoditas. Ia menyebut kondisi ini sebagai fenomena yang kerap berulang setiap tahun setelah Lebaran.

“Memang sudah naik di pasaran. Setelah Lebaran banyak pedagang belum berjualan, jadi barang terbatas sementara pembeli banyak. Hukum pasar saja, permintaan tinggi, stok kurang,” jelasnya.

Widodo menambahkan, distribusi barang dari luar daerah juga belum sepenuhnya pulih. Sejumlah pemasok masih libur, sehingga pasokan ke pasar tradisional menjadi tersendat. Hal ini ikut memperparah kenaikan harga di tingkat pengecer.

“Biasanya setelah beberapa hari baru mulai normal lagi. Kalau distribusi sudah lancar dan pedagang sudah buka semua, harga akan turun dengan sendirinya,” tambahnya.

Kenaikan harga pasca Lebaran ini tidak hanya terjadi pada cabai dan ayam potong, namun juga berpotensi merambat ke komoditas lain seperti bawang merah, telur, hingga bahan kebutuhan dapur lainnya. Meski belum semuanya mengalami lonjakan signifikan, tren kenaikan mulai terlihat di beberapa titik pasar.

Secara ekonomi, kondisi ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan sementara antara pasokan dan permintaan. Pada momen pasca Lebaran, konsumsi rumah tangga masih tinggi karena tradisi saling berkunjung dan menjamu tamu masih berlangsung. Namun di sisi lain, aktivitas distribusi dan perdagangan belum sepenuhnya pulih.

“Kondisi ini bersifat sementara dan akan berangsur normal dalam waktu dekat. Dengan catatan, jalur distribusi kembali berjalan lancar dan pedagang kembali aktif berjualan,” imbuhnya. (ang/fm)

Editor : Farid Mahliyannor
#harga pangan #lebaran #kabar pasar