SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Kenaikan harga pupuk non-subsidi di daerah, termasuk di Sampit, tidak hanya dipicu faktor lokal, melainkan imbas tekanan global yang semakin kompleks.
Gejolak di kawasan Timur Tengah, krisis energi, hingga kebijakan ekspor negara produsen menjadi pemicu utama melonjaknya harga.
Dalam beberapa bulan terakhir, harga pupuk terus merangkak naik seiring meningkatnya biaya produksi global. Bahan baku utama seperti amonia, fosfat, dan kalium yang masih bergantung pada impor mengalami kenaikan signifikan.
Selain itu, lonjakan harga gas dunia sebagai komponen utama produksi pupuk urea turut mendorong biaya produksi meningkat tajam.
Di sisi lain, kebijakan pembatasan ekspor oleh negara produsen besar seperti Rusia dan China semakin memperketat pasokan pupuk di pasar internasional. Dampaknya, harga pupuk di dalam negeri ikut terdongkrak.
Faktor geopolitik dan krisis energi global juga memperparah situasi. Gangguan jalur pelayaran, kenaikan harga bahan bakar, hingga terbatasnya kontainer menyebabkan biaya logistik melonjak.
Adi, salah seorang pedagang pupuk di Sampit, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi di seluruh rantai distribusi, bukan hanya dari tingkat pabrik.
“Sekarang ongkos kirim lewat kapal juga mahal, itu yang bikin harga ikut naik. Jadi bukan hanya dari pabrik, tapi distribusinya juga berpengaruh,” ujarnya.
Ia menyebutkan, harga pupuk urea yang sebelumnya berkisar Rp385 ribu per sak kini naik menjadi sekitar Rp495 ribu di tingkat kios, sebelum kembali meningkat saat dijual ke petani.
Tak hanya urea, pupuk jenis lain seperti NPK, RP, dan borat juga mengalami kenaikan. Meski tidak setinggi urea, kondisi ini tetap menekan margin keuntungan petani.
Jika tidak ada intervensi kebijakan dari pemerintah, lonjakan harga pupuk ini berpotensi menimbulkan efek domino, mulai dari penurunan produktivitas pertanian hingga ancaman kenaikan harga pangan di tingkat konsumen. (ang)
Editor : Slamet Harmoko