SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 Hijriah di Kompleks Perguruan Muhammadiyah Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kamis (20/3/2026).
Namun di balik suasana kemenangan, khutbah yang disampaikan HM Fatchurrahman justru menyentil kebiasaan umat yang kerap berubah setelah Ramadan berlalu.
Dalam khitbahnya, ia mengajak jamaah untuk kembali merenungi makna Ramadan sebagai bulan yang penuh kemuliaan, pendidikan, dan sumber ilmu.
“Ramadan adalah bulan termulia, bulan yang sangat dirindukan. Di dalamnya kita dididik menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Ia menggambarkan bagaimana semangat ibadah umat begitu tinggi di awal Ramadan. Masjid dan musala dipenuhi jamaah, namun perlahan mulai berkurang memasuki pertengahan hingga akhir bulan.
“Ketika memasuki sepuluh malam terakhir, yang seharusnya menjadi puncak ibadah, justru sebagian beralih ke pusat perbelanjaan dan urusan dunia,” katanya.
Padahal, lanjutnya, inti Ramadan justru terletak pada sepuluh malam terakhir yang penuh keutamaan.
Dalam khutbahnya, ia juga mengingatkan bahwa setelah Ramadan, ujian sesungguhnya dimulai: apakah umat tetap mampu menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan.
Ia mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:
"Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu." ucapnya mengutip. (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 168)
“Ketika Ramadan kita mampu menahan lapar dan dahaga, maka setelahnya kita juga harus mampu menahan diri dari yang haram,” tegasnya.
Tak hanya itu, ia juga mengingatkan bahwa seluruh anggota tubuh manusia akan menjadi saksi atas perbuatannya kelak di hari kiamat.
"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan." tambahnya menukil Surah Ya-Sin 36: Ayat 65
Pesan yang paling menyentil disampaikan saat ia menyoroti kebiasaan sosial umat. Menurutnya, selama Ramadan banyak orang berlomba-lomba melakukan kebaikan, termasuk rutin mengunjungi panti asuhan dan membantu sesama.
Namun, ia mengingatkan agar kebiasaan baik tersebut tidak hilang setelah Ramadan.
“Selama Ramadan kita rajin ke panti asuhan, bersedekah, membantu sesama. Jangan sampai setelah Ramadan justru berubah arah, bahkan mendatangi tempat-tempat yang tidak bermanfaat atau dilarang,” ujarnya mengingatkan.
Ia juga menyinggung fenomena umat yang lebih sibuk dengan gawai dan media sosial dibandingkan membaca Al-Qur’an setelah Ramadan berakhir.
“Al-Qur’an jangan sampai hanya dibaca sekilas saat Ramadan, lalu kalah dengan kesibukan dunia dan layar smartphone,” katanya.
Dalam bagian lain khutbahnya, ia mengutip firman Allah SWT:
"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 36)
Ia pun mengajak seluruh jamaah untuk menjaga istiqamah dalam ibadah, serta mempertahankan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari.
“Ramadan seakan berkata: aku hanya pulang, tapi aku seperti tamu yang tidak diharapkan kembali,” ucapnya.
Di akhir khotbah, doa dipanjatkan untuk umat Muslim di berbagai belahan dunia, khususnya di Timur Tengah, agar diberikan kesabaran dan pertolongan oleh Allah SWT.
Ia juga memohon agar umat Islam diberikan kekuatan untuk tetap istiqamah hingga bertemu kembali dengan Ramadan di masa mendatang. (oes)
Editor : Slamet Harmoko