Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Konflik Iran–AS-Israel Memanas, Pemerintah Pastikan Penyelenggaraan Haji Masih Sesuai Rencana

Slamet Harmoko • Minggu, 15 Maret 2026 | 10:03 WIB

Calon jemaah haji Indonesia gelombang 2 tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Untuk memudahkan layanan, mereka sudah mengenakan ihram sejak dari Indonesia. (MCH 2025)
Calon jemaah haji Indonesia gelombang 2 tiba di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Untuk memudahkan layanan, mereka sudah mengenakan ihram sejak dari Indonesia. (MCH 2025)

JAKARTA, radarsampit.jawapos.com – Meningkatnya eskalasi konflik antara Iran dan aliansi Amerika Serikat–Israel memunculkan kekhawatiran terkait penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Apalagi, rangkaian awal pelaksanaan haji diperkirakan mulai berlangsung sekitar satu bulan lagi.

Meski situasi kawasan Timur Tengah memanas, pemerintah memastikan hingga saat ini belum ada perubahan kebijakan terkait penyelenggaraan haji oleh Arab Saudi sebagai tuan rumah.

Pelaksana Tugas Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Heni Hamidah, menyampaikan bahwa pihak Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi juga belum memberikan informasi mengenai kemungkinan perubahan pelaksanaan ibadah haji tahun ini.

“Jadi sampai saat ini pelaksanaan ibadah haji masih tetap sebagaimana yang direncanakan dan belum ada skenario lain dari Arab Saudi,” ujarnya.

Ia mengimbau masyarakat, khususnya calon jemaah haji Indonesia, agar tetap tenang dan tidak berspekulasi mengenai berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi. Para calon jemaah diminta terus memantau informasi resmi dari pemerintah.

“Kalaupun nanti ada perkembangan lebih lanjut tentunya akan disampaikan oleh kementerian haji dan umroh,” tambahnya.

Ujian Penyelenggaraan Haji

Di sisi lain, Ketua Komnas Haji, Mustolih Siradj, menilai situasi geopolitik saat ini dapat menjadi ujian berat bagi pemerintah, khususnya bagi Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia, yang untuk pertama kalinya menangani penyelenggaraan haji secara penuh.

Menurutnya, keselamatan jemaah harus menjadi prioritas utama. Namun keputusan pembatalan pengiriman jemaah secara sepihak juga berpotensi menimbulkan dampak besar.

Selain menyebabkan penumpukan antrean haji (waiting list), pembatalan juga berpotensi menimbulkan persoalan administratif dan finansial yang kompleks.

“Uang triliunan biaya haji yang sudah dibayarkan sebagai komitmen pembiayaan berbagai kebutuhan penyelenggaraan ibadah haji, mulai dari penerbangan, hotel, konsumsi, transportasi hingga layanan di masyair, akan menjadi rumit jika dilakukan pembatalan,” ujarnya.

Terlebih sebagian besar kontrak tersebut telah dilakukan dengan pihak swasta atau syarikah di Arab Saudi.

“Oleh karena itu, Kemenhaj harus ekstra hati-hati dalam mengambil keputusan,” tegasnya.

Menunggu Kebijakan Arab Saudi

Mustolih menekankan bahwa keputusan utama tetap berada di tangan Arab Saudi sebagai penyelenggara ibadah haji dunia. Pemerintah Saudi bisa saja tetap melaksanakan haji secara normal atau menerapkan pembatasan seperti yang pernah terjadi saat pandemi COVID-19.

“Sampai hari ini Pemerintah Arab Saudi masih menyatakan sangat konfiden dan siap menyelenggarakan ibadah haji. Tapi Kemenhaj harus berani meminta jaminan keamanan atas ratusan ribu jemaah Indonesia yang akan berangkat,” ujarnya.

Ia juga mendorong pemerintah melakukan kajian komprehensif dengan berbagai pihak, termasuk DPR, Tentara Nasional Indonesia, Badan Intelijen Negara, hingga perwakilan diplomatik Indonesia di Arab Saudi sebelum mengambil keputusan strategis.

Selain itu, sikap negara-negara pengirim jemaah besar seperti Malaysia, Pakistan, dan Turki juga dinilai perlu menjadi pertimbangan.

Serangan Drone di Arab Saudi

Sementara itu, konflik di kawasan masih terus berlangsung. Iran dilaporkan tidak hanya melancarkan serangan ke Tel Aviv, tetapi juga menargetkan sejumlah pangkalan militer milik Amerika Serikat di Timur Tengah, termasuk yang berada di Arab Saudi.

Pada Sabtu (14/3), sistem pertahanan udara Saudi dilaporkan berhasil mencegat sedikitnya delapan pesawat tanpa awak (drone) yang dikirim Iran.

Dilansir dari Anadolu Agency, Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan beberapa drone berhasil dihancurkan di wilayah timur negara tersebut setelah sistem pertahanan udara diaktifkan.

Sementara laporan The Wall Street Journal menyebutkan lima pesawat pengisian bahan bakar milik Angkatan Udara AS mengalami kerusakan di Prince Sultan Air Base, Arab Saudi.

Seorang sumber menyebutkan kerusakan tersebut diduga akibat dampak serangan rudal Iran yang menargetkan pangkalan tersebut dalam beberapa hari terakhir. (jpg)

Editor : Slamet Harmoko
#haji #iran #ibadah haji #Israel #Jadwal Haji #konflik #as