Masjid berkonstruksi kayu Ulin ini jadi saksi bisu penyebaran Islam di Kalimantan Tengah (Kalteng), pada masa berdirinya Kesultanan Kutaringin ratusan tahun silam, atau sekitar abad ke 17 masehi. Di bulan Ramadan, kegiatan ibadah masih terus bergema dari masjid yang memiliki arsitektur perpaduan Jawa dan Kalimantan ini.
----------------------------------
Masjid ini didirikan pada tahun 1632 Masehi, bertepatan dengan masa Kesultanan Kutaringin, dan hingga kini tetap terjaga keasliannya sebagai warisan berharga masyarakat.
Lokasinya di pinggir Sungai Lamandau, tepatnya di Jalan Merdeka, Kelurahan Kotawaringin Hulu, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar).
Posisinya hanya sekitar 100 meter dari Astana Al Nursari milik Kesultanan Kutaringin kala itu. Letaknya yang strategis di tepian sungai memperlihatkan bagaimana jalur air pada masa lampau menjadi urat nadi transportasi sekaligus media penyebaran ajaran Islam.
Pembangunan masjid dengan konstruksi kayu ulin berukuran besar tersebut bukanlah perkara mudah. Hampir seluruh bagian bangunan, mulai dari tiang hingga atap, menggunakan kayu ulin pilihan.
Keunikan lainnya, proses pembangunan dilakukan tanpa menggunakan paku besi. Setiap sambungan kayu hanya mengandalkan pasak atau paku yang terbuat dari kayu.Sedangkan bagian atap diikat menggunakan rotan, memperlihatkan kearifan lokal dalam teknik konstruksi tradisional.
Masjid Kyai Gede tercatat sebagai cagar budaya bersejarah di Kelurahan Kotawaringin Hulu, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Masjid ini menjadi pusat penyebaran Islam oleh ulama asal Jawa, Kiai Gede. Arsitekturnya memadukan unsur Jawa dan Kalimantan, bahkan ada yang menyebut ada unsur Cina dengan bentuk panggung khas berbahan kayu ulin.
Menurut berbagai sumber, pendirian masjid ini juga menjadi bentuk penghormatan dan hadiah kepada Kiai Gede yang diutus untuk menyebarkan Islam di wilayah Kotawaringin.
Bangunannya berbentuk persegi berukuran sekitar 13 x 13 meter untuk bagian dalamnya. Atapnya bertingkat tiga atau tumpang khas Jawa, berdiri di atas struktur panggung kayu ulin khas Kalimantan, serta tetap mempertahankan konstruksi tanpa paku besi, melainkan menggunakan pasak kayu.
Keunikan lainnya, terlihat pada tiang-tiang masjid yang tidak ditanam ke dalam tanah, melainkan diletakkan di atas tumpuan berbentuk mangkuk sehingga memudahkan penggantian tiang jika diperlukan. Di bagian dalam, terdapat beduk tua yang hingga kini masih digunakan. Terletak di bagian tenggara alun-alun Kelurahan Kotawaringin Hulu dan berdekatan dengan situs makam Kiai Gede, masjid ini menjadi salah satu cagar budaya terpenting di Kalimantan Tengah serta simbol kuat sejarah Islam di Kotawaringin.
Hingga kini, Masjid ini tetap berdiri kokoh sebagai saksi perjalanan waktu. Pengurus masjid, Muhammad Padli, menyampaikan bahwa bangunan bersejarah ini telah beberapa kali menjalani pemugaran. Meski demikian, setiap proses perbaikan dilakukan tanpa mengubah bentuk keaslian bangunan yang menjadi ciri khasnya sejak dahulu.
"Pemugaran pernah dilakukan karena pada saat itu posisinya agak miring sehingga disejajarkan dan benahi beberapa bagian yang perlu diganti,” ungkapnya, menegaskan bahwa keaslian arsitektur tetap dipertahankan.
Memasuki bulan Ramadan, suasana di Masjid Jami Kiai Gede terasa semakin hidup. Aktivitas ibadah meningkat signifikan, tidak hanya untuk salat wajib lima waktu, tetapi juga rangkaian kegiatan khas Ramadan. Menjelang waktu berbuka puasa, jamaah berkumpul untuk melaksanakan dzikir bersama hingga azan magrib berkumandang.
Tradisi berbuka puasa di masjid ini juga memperlihatkan kebersamaan jamaah. Menu berbuka disiapkan secara bergiliran oleh warga sekitar, menciptakan suasana kekeluargaan yang hangat.
Jemaah yang datang bukan hanya warga setempat, tetapi juga para musafir dari luar daerah yang singgah dalam perjalanan. Tidak sedikit pula peziarah yang datang untuk berziarah ke makam Kiai Gede sekaligus beribadah di masjid bersejarah tersebut.
Usai berbuka puasa, rangkaian ibadah kembali berlanjut sebagaimana masjid pada umumnya. Salat tarawih 23 rakaat bersama salat witir dilaksanakan berjamaah, kemudian diteruskan dengan tadarus Al-Qur’an. Aktivitas serupa juga berlangsung saat waktu Subuh, bergulir setiap hari sepanjang Ramadan dengan kekhusyukan yang terjaga.
Di luar Ramadan, Masjid Kiai Gede tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan. Setiap sepekan sekali digelar pengajian rutin, sementara pada malam Senin dilaksanakan maulid habsyi.
Karena nama besar dan nilai sejarahnya, masjid ini juga tak luput dari kunjungan sejumlah tokoh penting, mulai dari Bupati, Gubernur, Kapolda Kalimantan Tengah, hingga Menteri Agama era orde baru Tarmizi Taher, juga pernah menapakkan kaki di masjid bersejarah tersebut. (*)
Editor : Agus Jaka Purnama