SAMPIT,radarsampitjawapos.com- Tarian empat barongsai diiringi dentuman tabuhan genderang dan suara petasan menghibur warga yang memadati lokasi perayaan Cap Go Meh 2577 Kongzili di halaman Kelenteng Harmoni Kehidupan, Jalan MT Haryono Sampit, Selasa (3/3) malam.
Kehadiran barongsai sekitar pukul 21.00 WIB, mengenakan kostum dominasi warna merah, hitam, abu-abu dan ungu, bukan hanya pertunjukan budaya. Perayaan tahun ini menghadirkan pesan kuat tentang toleransi. Cap Go Meh yang jatuh pada 3 Maret 2026 bertepatan dengan bulan Ramadan.
Panitia pun menyesuaikan waktu pertunjukan sebagai bentuk penghormatan kepada umat Islam yang melaksanakan ibadah Salat Tarawih.
“Hiburan di majelis Konghucu ada dua sesi. Pertama pentas seni dari sekolah minggu Konghucu di indoor. Kemudian pertunjukan barongsai, dijeda hingga malam hari baru tampil, tujuannya untuk menghormati saudara kita yang muslim yang sedang menunaikan ibadah tarawih. Kita dahulukan pentas seni di indoor agar tidak mengganggu kenyamanan umat Islam melaksanakan ibadah tarawih,” ujar Pemuka Agama Konghucu Sampit, Wen Shi Suhardi.
Cap Go Meh merupakan puncak sekaligus penutup rangkaian Tahun Baru Imlek , dirayakan pada malam ke-15 bulan pertama kalender lunar. Sebelum kemeriahan dimulai, umat Konghucu terlebih dahulu melaksanakan ibadah Yuan Xiao Jie di dalam kelenteng sebagai ungkapan syukur dan doa bersama.
“Cap Go Meh setiap tahun dirayakan dua minggu setelah Tahun Baru Imlek. Acara Cap Go Meh ini merupakan penutupan daripada rangkaian Tahun Baru Imlek. Jadi setelah Cap Go Meh ini sudah tidak lagi ada perayaan Imlek,” terang Suhardi.
Seusai ibadah, barongsai melakukan penghormatan di sejumlah altar dewa. Ritual sakral itu menjadi penanda dimulainya perayaan. Dari dalam kelenteng, rombongan barongsai bergerak menuju gerbang utama untuk menyalakan petasan, diiringi tabuhan genderang, gong, dan gembrengan yang bertalu-talu.
Sorak sorai penonton pecah ketika petasan dinyalakan. Anak-anak hingga orang dewasa antusias menyaksikan gerakan atraktif barongsai yang sesekali berinteraksi dengan warga. Tak sedikit yang menyelipkan angpao ke mulut barongsai sebagai simbol berbagi rezeki dan harapan baik.
Perayaan ini tidak hanya dihadiri umat Konghucu. Warga dari berbagai latarbelakang agama turut menikmati atraksi tersebut.
Di sisi lain, panitia juga menyajikan lontong Cap Go Meh, hidangan khas yang menjadi simbol akulturasi budaya Tionghoa dan Nusantara. Makan bersama menjadi wujud syukur sekaligus perekat kebersamaan.
“Setiap tahun setiap pelayanan Cap Go Meh kita ada makanan ciri khas yaitu lontong Cap Go Meh simbolnya adalah berbagi kebahagiaan dengan makan bersama, dan makanan yang paling familiar, yang paling disukai pada umumnya adalah makan lontong,” papar Wen Shi Suhardi
Harapan panjang juga diutarakannya, agar momentum Imlek dan Cap Go Meh tahun ini membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat.
“Selain itu memperoleh kesehatan, terutama untuk negeri kita tercinta, dijauhkan dari bencana alam, dari konflik intoleran, dari sifat-sifat radikalisme dan lain sebagainya. Kita mengharapkan negara kita tercinta ini akan selalu kondusif, damai, harmonis dan rukun. Kita berharap semuanya, selamat selalu sehat memperoleh kemajuan dalam seluruh aspek kehidupan yang kita jalani,” pungkas Wen Shi Suhardi. (yn/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama