PANGKALAN BUN-Momentum keramaian penumpang arus mudik lebaran yang mulai terlihat, rupanya dimanfaatan sekelompok orang untuk meraup cuan dengan jalan menghalalkan segala cara. Mereka tega memanfaatkan harapan calon penumpang untuk segera pulang ke kampung halaman.
Seperti dialami, Nunuk Parwati, seorang calon pemudik yang bakal berlebaran di kampung halamannya di Pulau Jawa, namun harus menelan pil pahit setelah jadi korban penipuan tiket kapal. Wanita itu pun harus merelakan uangnya senilai Rp5,2 juta raib.
Korban merupakan warga Despot, Desa Riam Durian, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Uang sejumlah Rp 5,2 juta itu guna membayar 1 tiket mobil dan dua tiket penumpang dengan tujuan Kumai-Semarang untuk keberangkatan kapal DLU tanggal 14 Maret mendatang.
Nunuk mengatakan, penipuan itu berawal ketika ia melihat akun tiktok PT Dharma Lautan Utama yang menawarkan tiket kapal laut dengan tujuan Kumai - Semarang.
"Kemudian malam pukul 21.56 WIB saya menghubungi nomor WA yang saya dapat dari akun tiktok yang mengatasnamakan PT DLU itu. Kemudian saya order tiket kapal untuk 1 kendaraan dan 2 penumpang, dengan total Rp5.244.250 yang harus saya bayarkan," terangnya, Minggu (1/3).
Setelah itu ia kemudian membayar sejumlah tersebut melalui Virtual Account (VA), dan setelah dikirim ia kemudian meminta tiket yang dijanjikan. Namun, alih-alih diberikan tiket, justru korban kembali dimintai uang senilai Rp1,060.000 dengan dalih untuk biaya pass masuk pelabuhan.
"Di situ saya sadar bahwa ini tidak beres dan terindikasi penipuan. Lalu saya meminta uang saya kembali. Dia (pelaku) berkilah tidak mau mengurusnya dan menyuruh saya mengurus sendiri kalau bisa. Lalu akun WA saya diblock. Di saat saya panik, chat WA penipu itu sudah dihapus semua," beber Nunuk.
Rencananya, kasus penipuan tersebut akan ia laporkan kepada kepolisian, mengingat data kependudukan miliknya masih dikantongi oleh pelaku dan dikhawatirkan digunakan untuk hal yang negatif.
"Kami juga telah membuat grup korban penipuan tiket kapal dan sejauh ini sudah enam orang yang menjadi korban," beber Nunuk.(tyo/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama