Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Ratusan Pengidap HIV Jalani Pengobatan di RSUD dr Murjani Sampit. Rentang Usia 25-49 Paling Banyak Terinfeksi

Heny Pusnita • Rabu, 28 Januari 2026 | 05:00 WIB
ilustrasi-upaya pengobatan ODHIV
ilustrasi-upaya pengobatan ODHIV

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com- Penyebaran virus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengkhawatirkan. Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh, dan jika tidak diobati, akan berkembang menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dalam rentang beberapa tahun kemudian.

Pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Murjani Sampit,  terus mengintensifkan penanganan pasien HIV,  dengan menekankan pentingnya deteksi dini dan pengobatan rutin.

Menurut Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr Murjani Sampit, dr Anggun Iman Hernawan Sp Okupasi,  langkah itu menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas dan harapan hidup pasien. Mengingat HIV kerap datang tanpa gejala dan baru terdeteksi ketika kondisi kesehatan mulai menurun.

“Tanpa tanda bahaya yang jelas, banyak pasien baru mengetahui status HIV-nya ketika kondisi kesehatan sudah mulai menurun. Jadi layanan penanganan HIV di rumah sakit berjalan setiap hari, baik untuk pasien rawat jalan maupun rawat inap. Hal ini menunjukkan bahwa HIV masih menjadi persoalan kesehatan yang nyata dan memerlukan penanganan berkelanjutan,” ujarnya.

Anggun Iman mengungkapkan, sepanjang tahun 2024, RSUD dr Murjani Sampit mencatat sekitar 270 pasien HIV yang mendapatkan pengobatan. Jumlah tersebut menunjukkan adanya tren peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, pihak rumah sakit memastikan seluruh identitas pasien dijaga ketat kerahasiaannya sesuai etika medis, mengingat stigma negatif terhadap HIV masih cukup kuat di masyarakat.

“Sebagian besar pasien tidak datang dengan tujuan memeriksakan HIV. Mereka datang karena keluhan lain. Seperti tubuh mudah lelah, infeksi yang tidak kunjung sembuh, atau kondisi kesehatan yang tidak biasa. Dari pemeriksaan lanjutan dan hasil laboratorium, barulah diketahui pasien terinfeksi HIV,” paparnya.

Sementara itu lanjutnya,  masih di bulan Januari 2026 ini, RSUD dr Murjani Sampit mencatat sebanyak 148 pasien HIV, dengan 80 pasien di antaranya rutin menjalani pengobatan intensif. Diakuinya, data tersebut tidak selalu mencerminkan kondisi lapangan secara utuh.

“Pada tahun 2024, dari total 270 pasien, sebanyak 68 orang tercatat lost contact dan tidak lagi menjalani pengobatan rutin di RSUD dr Murjani Sampit. Selain lost contact alias henti obat, sebagian pasien melanjutkan pengobatan di fasilitas kesehatan lain yang lebih dekat dengan domisili mereka,” terang Anggun Iman.

 Baca Juga: Kotawaringin Barat Peringkat Ketiga se-Kalteng soal Jumlah Pengidap HIV/AIDS

Dirinya juga mengungkapkan, mayoritas pasien HIV berasal dari kelompok usia muda dan produktif. Kasus pada usia lanjut maupun anak-anak relatif jarang ditemukan. Kelompok usia produktif dengan mobilitas tinggi dan aktivitas sosial yang luas menjadi kelompok yang paling banyak terdeteksi.

Terkait pola penularan, Anggun Iman menyebutkan mayoritas kasus HIV disebabkan oleh hubungan seksual tanpa pengaman dengan pasangan yang berganti-ganti. Mereka yang paling banyak terinfeksi berada pada  rentang usia 25 hingga 49 tahun.

Selain itu, terdapat pula kasus HIV pada usia balita yang tertular dari ibu, baik selama kehamilan maupun melalui pemberian ASI. Risiko penularan tersebut dapat ditekan secara signifikan apabila ibu menjalani pengobatan Antiretroviral (ARV) secara rutin dan terpantau sejak dini.

“Karena itu, pemeriksaan dan pendampingan medis sejak awal, terutama bagi ibu hamil, sangat penting untuk mencegah penularan HIV,” imbuhnya.

Anggun Iman menambahkan, secara medis, terdapat dua garis waktu penting dalam memahami HIV. Pertama adalah masa pemeriksaan, yakni sekitar tiga bulan setelah terpapar, di mana status HIV sudah dapat diketahui melalui tes yang tepat. Namun, munculnya gejala sering kali terjadi jauh lebih lambat.

“Gejala yang benar-benar berkaitan dengan HIV bisa muncul satu hingga lima tahun setelah infeksi, saat sistem kekebalan tubuh mulai melemah. Inilah yang membuat banyak orang merasa sehat, padahal virus sudah bekerja perlahan di dalam tubuh,” bebernya.

Kondisi tersebut lanjutnya, menyebabkan tidak sedikit pasien baru datang berobat ketika penyakit telah memasuki tahap lanjut. Karena itu, deteksi dini menjadi kunci utama dalam penanganan HIV. “Dengan pengobatan yang tepat dan rutin, penyandang HIV tetap bisa hidup produktif dan sehat, sekaligus menekan risiko penularan ke orang lain,” pungkas Anggun Iman.

Ia menambahkan, selain di RSUD dr Murjani Sampit, layanan penanganan HIV/AIDS juga tersedia di Rumah Sakit Pratama Parenggean, Puskesmas Ketapang I, dan Puskesmas Baamang II.

Sementara itu diketahui, pemerintah berkomitmen mengakhiri penyebaran AIDS pada tahun 2030. Sebagai bentuk komitmen tersebut, Kemenkes telah menyusun strategi penanggulangan HIV AIDS dan PIMS yang mengacu pada strategi global melalui percepatan dengan target “95-95-95”, yaitu 95% Orang Dengan (ODHIV) mengetahui status HIV. Kemudian 95% ODHIV yang terinfeksi HIV tetap mendapatkan terapi ARV, dan 95% ODHIV yang mendapat terapi ARV mengalami supresi virus.

Dalam upaya pencegahan dan pengendalian HIV dilakukan berbagai strategi, diantaranya melakukan peningkatan pemeriksaan Viral Load (VL) HIV dan perluasan akses layanan. (hgn/gus)

 

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#Kekebalan Tubuh #RSUD dr Murjani Sampit #Kabupaten Kotim #jalani pengobatan #virus hiv #sampit #ODHIV #AIDS #rentang usia