SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com – Kondisi Jembatan Patah di Jalan Kapten Mulyono, Sampit, kembali menuai sorotan.
Kali ini, warga dibuat heran dengan ditemukannya lantai besi jembatan yang patah berada di pinggir jalan, tepatnya di rerumputan tak jauh dari lokasi jembatan.
Temuan tersebut memunculkan dugaan adanya upaya pencurian material jembatan.
Salah seorang warga yang melintas, Nanang, mengaku sudah melihat besi tersebut berada di pinggir jalan sejak beberapa waktu lalu.
Menurutnya, posisi besi yang tidak lagi berada di badan jembatan menimbulkan kecurigaan.
“Sudah saya lihat besinya ada di pinggir, di rumput. Kayaknya ada yang mau nyolong. Mau saya angkat dan kembalikan ke jembatan juga berat, enggak kuat,” ungkap Nanang.
Besi tersebut diketahui merupakan lantai besi jembatan yang dipasang untuk melindungi lantai kayu agar tidak cepat rusak akibat beban kendaraan.
Namun kini, sebagian besi justru terlepas dan tidak terpasang sebagaimana mestinya, menambah kekhawatiran warga terhadap keselamatan pengguna jalan.
Kondisi ini semakin mempertegas fakta bahwa Jembatan Patah Kapten Mulyono kian memprihatinkan.
Jembatan yang berada di Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) itu sudah lama mengalami kerusakan dan hanya mendapat perbaikan sementara.
Pantauan di lapangan, Jumat (16/1), jembatan kayu tersebut mengeluarkan suara derit panjang setiap kali dilintasi kendaraan.
Lantai kayu tampak bergoyang, sejumlah papan patah, paku mencuat ke permukaan, serta bagian tengah jembatan terlihat melendut.
Kondisi menjadi semakin berbahaya saat hujan karena permukaan licin dan berisiko menyebabkan pengendara tergelincir ke sungai.
Salah seorang pengendara sepeda motor, Andi, mengaku selalu merasa was-was setiap kali melintasi jembatan tersebut. “Kalau lewat sini pasti was-was. Jembatan ini sudah rusak parah,” ujarnya.
Jembatan tua yang dibangun puluhan tahun lalu itu masih menjadi akses vital warga kawasan Sei Mentawa.
Namun usia bangunan dan beban kendaraan yang terus meningkat membuat kondisinya semakin mengkhawatirkan. Kerusakan berulang terjadi meski jembatan telah beberapa kali diperbaiki.
Struktur jembatan yang menggunakan rangka besi dengan lantai kayu ulin dinilai tidak lagi mampu menahan beban lalu lintas, terutama truk bermuatan crude palm oil (CPO) yang kerap melintas melebihi kapasitas.
Akibatnya, baut penyangga kerap longgar, lantai cepat rusak, bahkan material besi berpotensi lepas seperti yang kini ditemukan warga.
“Sore sampai malam banyak mobil CPO lewat. Kelihatannya melebihi tonase. Jembatan yang baru diperbaiki cepat rusak lagi. Kami sudah terlalu sering menerima perbaikan tambal sulam,” terang Andi.
Warga pun kembali mendesak pemerintah daerah agar segera mengambil langkah konkret berupa pembangunan ulang jembatan secara permanen, bukan sekadar perbaikan sementara.
Mereka khawatir, jika dibiarkan, kondisi jembatan tidak hanya membahayakan pengguna jalan, tetapi juga rawan dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab.
“Kami berharap pemerintah segera membangun ulang jembatan ini. Ini jalur penting, dilalui warga setiap hari, termasuk anak-anak sekolah,” harap Andi.
Diketahui, kondisi Jembatan Patah Sei Mentawa juga telah menjadi perhatian DPRD Kotim. Namun hingga kini, pemerintah daerah masih mengandalkan pemeliharaan rutin sambil menunggu kajian teknis pembangunan ulang, dengan keterbatasan anggaran sebagai kendala utama.
Sementara itu, temuan lantai besi jembatan yang berada di pinggir jalan menjadi alarm tambahan bahwa kondisi jembatan tidak hanya rusak secara struktural, tetapi juga rawan terhadap risiko keselamatan dan keamanan.
Warga berharap, sebelum terjadi insiden yang lebih serius, solusi permanen dapat segera direalisasikan. (oes)
Editor : Slamet Harmoko