SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Olahraga tradisional sepak sawut kembali digelar dalam Festival Budaya Habaring Hurung (FBHH) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) 2026.
Meski hanya diikuti empat tim, pertandingan bola api khas Kalimantan Tengah (Kalteng) ini tetap berlangsung meriah dan penuh tantangan.
Sepak sawut digelar di kawasan Stadion 29 Nopember Sampit, Senin malam (12/1/2026). Koordinator pertandingan, Ahmad Mawardi, menyebutkan bahwa sepak sawut bukan sekadar olahraga, melainkan warisan budaya yang sarat nilai kearifan lokal.
Keunikan utama sepak sawut terletak pada bola yang digunakan. Bola tersebut terbuat dari kelapa tua yang telah dibuang kulit luarnya, kemudian direndam dalam minyak tanah. Sebelum pertandingan dimulai, bola kelapa dibakar hingga menghasilkan bara api.
“Kami menyiapkan sekitar 25 bola kelapa untuk pertandingan ini. Dalam setiap babak biasanya ada bola yang rusak, sehingga harus segera diganti,” ujar Mawardi.
Ia menjelaskan, aturan permainan sepak sawut hampir menyerupai futsal. Setiap tim beranggotakan tujuh orang, terdiri dari lima pemain inti dan dua pemain cadangan.
Namun terdapat aturan khusus yang membedakan, yakni bola tidak boleh direbut lawan setelah menyentuh tangan penjaga gawang.
“Tantangan lainnya, semua pemain wajib bertanding tanpa menggunakan alas kaki,” tambahnya.
Salah satu pemain, Ramadan, mengaku sepak sawut memberikan pengalaman berbeda dibandingkan olahraga lainnya.
Dengan persiapan yang terbilang singkat, ia dan rekan setimnya harus beradaptasi dengan panasnya api serta kerasnya bola kelapa. “Bola berapi jelas menjadi tantangan tersendiri.
Lapangan juga cukup gelap, jadi agak sulit melihat posisi teman satu tim. Ditambah bolanya dari kelapa, kaki terasa sakit,” ungkapnya.
Meski demikian, Ramadan justru tertarik dengan olahraga tradisional tersebut dan berharap dapat kembali mengikuti pertandingan serupa.
Menurutnya, sepak sawut menjadi bagian penting dalam menjaga dan melestarikan budaya asli Dayak Kalimantan Tengah.
Dalam FBHH Kotim 2026, pertandingan sepak sawut juga menjadi ajang penjaringan atlet. Pemain terbaik dari seluruh tim akan dipilih untuk mewakili Kotim pada Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) Kalimantan Tengah.
Para pemain terpilih nantinya akan mendapatkan pembinaan khusus sebelum berlaga di tingkat provinsi.(oes)
Editor : Slamet Harmoko