SAMPIT,radarsampit.jawapos.com- Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Kotawaringin Timur (Kotim), dengan menggandeng aparat dari sejumlah instansi pemerintah, termasuk unsur TNI/Polri mendatangi kawasan eks Bioskop Golden Sampit, di kawasan Jalan Rahadi Usman, Kelurahan Mentawa Baru Hulu, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Senin (12/1).
Kawasan ini sebelumnya dikenal sebagai ‘kampung narkoba’ lantaran seringnya didapati kasus peredaran barang haram itu, saat ditangani aparat keamanan.
Kepala BNNK Kotim AKBP Muhammad Fadli mengatakan, mereka melakukan sosialisasi kepada warga setempat untuk memerangi narkoba. Hal itu merupakan langkah awal dari upaya jangka panjang pemerintah dalam menghadirkan negara di tengah masyarakat yang terdampak persoalan narkoba.
Ia menegaskan, pemerintah tidak tinggal diam dan hadir untuk melindungi warga dari ancaman peredaran barang terlarang.
“Bulan Desember lalu kami sudah merencanakan kegiatan turun langsung ke lapangan, dan Alhamdulillah hari ini bisa terlaksana bersama lintas sektor. Ini baru awal. Ke depan akan ada kegiatan lanjutan sebagai bentuk keseriusan pemerintah membantu masyarakat, khususnya dalam penegakan hukum terhadap peredaran narkoba,” ujar Fadli.
Ia mengungkapkan, dari pertemuan yang digelar pihaknya bersama warga, di masjid di kawasan tersebut, aspirasi warga setempat mengerucut pada keinginan dibangunnya pos terpadu di kawasan belakang eks bioskop Golden itu. Aktifnya pos tersebut direncanakan melibatkan aparat kepolisian, TNI, BNNK, unsur pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta tokoh agama.
“Warga di sini sudah tinggal bertahun-tahun dan mereka ingin ada pos terpadu. Tujuannya untuk pengawasan bersama, karena berdasarkan informasi yang kami terima, pelaku jual beli narkoba itu bukan warga di sini. Melainkan orang luar yang memanfaatkan lokasi-lokasi kosong,” beber Fadli.
Diungkapkannya pula, selama ini warga setempat cenderung memilih diam karena tidak ingin mengambil risiko. Mereka merasa selama keluarga aman dan tidak terlibat, maka lebih baik menghindar. Namun kondisi tersebut justru membuat lingkungan mereka dicap sebagai kawasan rawan narkoba.
“Warga merindukan kehadiran pemerintah dan aparat penegak hukum yang bersatu dengan mereka, agar citra lingkungannya dipulihkan,” tambah Fadli.
Saat kegiatan itu berlangsung, petugas sempat mendapati sekelompok orang mencurigakan dan langsung membubarkan diri ketika melihat aparat dan rombongan turun ke lokasi. Meski tidak ditemukan transaksi narkoba, Fadli menyebut gelagat tersebut menguatkan dugaan adanya aktivitas peredaran narkoba di kawasan itu.
“Bukan transaksi, tapi ada kelompok yang langsung balik arah dan melarikan diri saat melihat kami. Ini indikasi yang patut diwaspadai,” bebernya.
Dari hasil dialog dengan warga dan para ketua RT, BNNK Kotim juga memperoleh fakta baru bahwa pelaku peredaran merupakan pendatang yang kerap berpindah-pindah domisili. Karena itu, diperlukan langkah terpadu dan berkelajutan.
Rencana pembangunan pos terpadu, lanjut Fadli, masih akan dibahas lebih mendalam karena membutuhkan dukungan anggaran serta keterlibatan banyak pihak, termasuk dari DPRD.
“Ini rencana jangka panjang. Kami akan rapat internal dengan seluruh elemen untuk mencari solusi terbaik,” imbuhnya.
Terpisah, Kasat Narkoba Polres Kotim AKP Suherman juga mengungkapkan pengalaman saat dalam mengungkap peredaran narkoba di wilayah tersebut. Sampai saat ini sudah puluhan kasus yang mereka ungkap, baik di dalam maupun di luar Eks Bioskop Golden
Namun, ia mengaku ada tantangan tersendiri setiap ingin melakukan pengungkapan di wilayah itu. Selain memiliki banyak akses, warga yang tinggal wilayah itu cukup apatis dan jarang ingin diajak bekerjasama dalam memberantas peredaran narkoba.
"Kadang, kami juga sulit mencari saksi. Tantangan itu sering kami alami saat melakukan pengungkapan di wilayah ini," tandasnya. (yn/sir/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama