SAMPIT,radarsampit.jawapos.com- Satuan Reserse Kriminal Polres Kotawaringin Timur (Kotim) tengah memburu kawanan perampok yang telah menggasak uang senilai Rp 551 Juta lebih milik korbannya, ketika beraksi di sekitar Desa Kabuau, Kecamatan Parenggean, Sabtu (10/1) pagi.
"Kasus ini sedang ditangani oleh pihak Satreskrim Polres Kotim," kata Kapolsek Parenggean AKP Danny Saputra saat dihubungi Radar Sampit, Minggu (11/1) siang.
Menurut Danny, korban perampolan sudah melaporkan kejadian itu ke Polisi. Tim kepolisian pun tengah bergerak cepat untuk memburu para kawanan pelaku kejahatan itu.
"Tim dari Polres Kotim sudah bergerak dan ada berkoordinasi dengan kami juga. Anggota saat ini disebar memburu kawanan pelaku," tegasnya.
Kasatreskrim Polres Kotim AKP Sugiharso telah membenarkan tentang aksi begal itu. Namun, belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait kronologi perampokan dengan menggunakan senjata api itu."Benar. Saat ini kasusnya sedang kami tangani," ungkapnya singkat.
"Saat ini anggota masih di lapangan. Jika ada informasi lebih lanjut akan kami sampaikan. Yang jelas, korbannya selamat. Namun, uang yang dibawanya dilaporkan hilang diduga dibawa kawanan pelaku,"tambahnya.
Informasi dihimpun jurnalis radar sampit mengungkapkan, peristiwa itu terjadi Sabtu (10/1) pagi sekira pukul 08.30 WIB. Berawal seorang juragan sawit bernama Sumardi warga Bukit Harapan, Parenggean meminta anak buahnya yang bernama Panji Trisno, pria 25 tahun asal Lombok, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk mengantarkan uang replas timbangan sawit.
Panji menunggu bosnya itu di rumah Jalan Padat Karya, Parenggean. Tidak berapa lama datang Sumardi membawa uang tersebut yang disimpan dalam tas ransel. Kemudian tas yang berisi uang Rp551 juta lebih itu kepada Panji.
Panji menceritakan, sebelum perampokan terjadi dia tidak menaruh curiga, karena memang sehari-harinya dia bekerja dengan Suwardi di PT Sinar Jaya Borneo yang bekerjasama dengan PT Katingan Indah Utama (KIU).
“Saya sudah dua tahun ikut pak Suwardi, sejak tahun 2024, sehari-harinya saya bertugas mengelola uang replas untuk pembayaran buah sawit yang akan masuk pabrik,” ungkapnya.
Panji pun menguraikan kronologis sebelum perampokan terjadi. Seperti biasanya, ia bersiap berangkat kerja, membawa uang replas ke pabrik.
“Saya menunggu pak Wardi (Suwardi) di rumah. Pak Wardi menyerahkan uang Rp. 551.856.000 yang disimpan dalam tas laptop,” ujarnya mengawali cerita.
Pagi itu, dia berangkat ke pabrik dengan mengendarai sepeda motor Honda Beat. Panji membawa uang ratusan juta yang disimpan dalam tas. Di perjalanan, tepatnya di perbatasan PT Sinarmas Parenggean (SMP) dan PT. Katingan Indah Utama (KIU), tiba-tiba dia dihadang satu orang yang berdiri di jalan.
“Saya tidak menaruh curiga, saya mengira orang yang berdiri itu adalah pekerja PT SMP, di dekat belokan saya langsung ditodong senjata api, seperti pistol, saya pun ketakutan dan pasrah aja,” cerita Panji.
Diungkapkannya pula, selain satu orang yang menodongkan pistol, terlihat juga dua orang berdiri dekat pepohonan di rerumputan, satu orang lainnya seperti sedang mengawasi lokasi kejadian.
“Saya waktu itu tidak bisa berbuat apa-apa dan pasrah, saya ketakutan karena ditodong pistol,” lanjut Panji.
Karena dalam keadaan ketakutan, Panji tidak sempat memperhatikan ciri-ciri para pelaku. Namun sekilas yang sempat diingatnya saat itu adalah satu pelaku yang menodongkan pistol.
“Pelaku yang todong pistol, pakai kaos warna hitam dan celana pendek abu-abu, wajahnya tidak jelas karena tertutup kain slayer,” bebernya.
Ketika itu menurut Panji, pelaku yang todong pistol sempat mendorongnya dari motor dan berucap “serahkan tas”. Karena ketakutan, Panji langsung menyerahkan tas berisi uang itu.
Setelah tas beralih tangan, para pelaku langsung kabur meninggal korban di lokasi kejadian. “Saya sempat melihat, pelaku naik motor Honda Beat warna hitam dan pelat nomor tidak jelas,” lanjut Panji.
Panji masih beruntung, karena dia tidak sempat diluka oleh para perampok. Ketika itu dia memang tidak berani melawan (ketakutan). Selang berapa lama usai kejadian, baru ada warga yang melintas di Lokasi kejadian, Panji ditolong warga dan diantarkan ke pos pengamanan PT SMP.
“HP dan kunci motor saya diambil pelaku, saya tidak bisa menghubungi. Lalu saya diantarkan oleh warga ke pos PT SMP dan juga melapor ke kantor polisi,” lanjutnya.
Panji berharap para pelaku segera ditangkap, hingga kini masih syok pas perampokan yang dialaminya.“Dari total uang yang saya bawa saat itu, sekitar 50 juta itu uang milik orang tuanya saya, uang pembayaran buah sawit,” pungkasnya.(sir/fm/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama