Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Lawang Sakepeng Diminati Generasi Muda Kotim

Usay Nor Rahmad • Jumat, 9 Januari 2026 | 14:00 WIB
Pekuntau saat berlaga pada Lawang Sekepeng dalam Festival Habaring Hurung 2026.
Pekuntau saat berlaga pada Lawang Sekepeng dalam Festival Habaring Hurung 2026.

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Sorak penonton pecah ketika dua pekuntau (seni bela diri khas Suku Dayak) muda melangkah mantap ke arena.

Balutan kostum adat, hentakan kaki, dan ayunan tangan yang tegas menjadi penanda dimulainya lomba Lawang Sakepeng dalam Festival Budaya Habaring Hurung (FBHH) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Jumat (9/1/2026).

Di kawasan Stadion 29 Nopember Sampit, Lawang Sakepeng tak sekadar dipertandingkan. Ia hidup.

Ia bergerak bersama semangat generasi muda yang mendominasi arena lomba. Sebanyak 27 regu ambil bagian, terdiri atas 17 regu putra dan 10 regu putri. Peserta datang dari berbagai kecamatan, perguruan silat, sanggar seni, hingga sekolah-sekolah di Kotim.

Koordinator lomba, Agus Sanang, menyebut antusiasme tahun ini meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Baginya, tingginya jumlah peserta menjadi sinyal positif bahwa Lawang Sakepeng masih diminati, terutama oleh kalangan muda.

“Mayoritas pesertanya anak-anak muda. Ini bukti Lawang Sakepeng sebagai identitas budaya masih terjaga
dan terus diwariskan,” ujarnya di sela kegiatan.

Penilaian lomba dilakukan secara menyeluruh. Mulai dari keragaman gerak, ketangkasan, kemantapan, kostum, hingga durasi penampilan yang dibatasi antara lima hingga tujuh menit. Setiap regu dituntut tampil disiplin sekaligus ekspresif.

Tak sekadar adu gengsi, lomba ini juga menjadi ajang seleksi. Juara pertama putra dan putri akan mewakili Kotim pada Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Tengah. Para pemenang akan mendapat pembinaan lanjutan sesuai petunjuk teknis provinsi.

Agus menyebut, rekam jejak Kotim di cabang Lawang Sakepeng cukup membanggakan. “Di tingkat provinsi, hampir setiap tahun kita raih juara. Bahkan pada 2018, putra dan putri Kotim sama-sama juara satu,” katanya.

Salah satu peserta, Rafli dari Kecamatan Cempaga, mengaku tampil maksimal setelah menjalani latihan intensif selama sepekan terakhir. Sejak awal 2025, ia mulai menekuni Lawang Sakepeng dan kerap tampil di berbagai acara, termasuk hajatan pernikahan.

“Latihan siang dan malam. Soal juara atau tidak, itu urusan juri. Yang penting sudah tampil maksimal,” ujar Rafli.

Di tengah gempuran budaya populer, Lawang Sakepeng justru menemukan ruangnya kembali. Di tangan generasi muda Kotim, tradisi ini bukan sekadar warisan, melainkan kebanggaan yang terus bergerak mengikuti zaman.(oes)

Editor : Slamet Harmoko
#sampit #Lawang Sakepeng #kotim #kalteng