SAMPIT, Radarsampit.jawapos.com - Sorak penonton pecah setiap kali sumpit dilepaskan. Anak panah kecil melesat, menantang jarak dan ketepatan. Itulah suasana lomba Manyipet atau Menyumpit dalam Festival Budaya Habaring Hurung.
Sipet atau sumpit yang dulunya senjata tradisional kini berada di panggung yang bukan sekadar adu keterampilan, tetapi juga perayaan warisan olahraga tradisional Dayak.
Koordinator Manyipet Festival Habaring Hurung, Aprianto N Sawung, menyebutkan antusiasme peserta tahun ini cukup tinggi.
Sebanyak 21 peserta putra dan 9 peserta putri ambil bagian dalam perlombaan yang menuntut fokus, teknik pernapasan, serta akurasi tinggi.
“Untuk kategori putra, jarak tembak ditetapkan 25 meter, sedangkan putri 20 meter,” ujar Aprianto, di areal Stadion 29 Nopember Sampit, Jumat (9/1/2026).
Ajang ini bukan sekadar lomba seremonial. Dari arena Habaring Hurung, panitia akan menjaring tiga juara terbaik masing-masing kategori putra dan putri.
Mereka inilah yang nantinya diproyeksikan mewakili daerah pada Festival Isen Mulang, event budaya terbesar di Kalimantan Tengah.
Manyipet atau menyumpit bukan olahraga biasa. Di balik kesunyian saat sumpit diarahkan, tersimpan filosofi kedisiplinan, kesabaran, dan ketajaman insting.
Dahulu, manyipet digunakan untuk berburu dan bertahan hidup. Kini, ia bertransformasi menjadi cabang olahraga tradisional yang sarat nilai budaya.
Menurut Aprianto, menjaga manyipet tetap hidup berarti menjaga identitas. “Lewat festival ini, kita ingin anak-anak muda mengenal, mencintai, dan bangga pada olahraga tradisionalnya sendiri,” katanya.
Di tengah gempuran olahraga modern, manyipet membuktikan diri masih punya tempat. Bukan hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai ajang prestasi dan pintu menuju panggung budaya yang lebih besar dari Habaring Hurung menuju Festival Isen Mulang. (oes)
Editor : Slamet Harmoko