Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Mandau Tua di Sampit Expo, Jejak Identitas Dayak yang Dirawat Puluhan Tahun

Usay Nor Rahmad • Jumat, 9 Januari 2026 | 09:20 WIB

Penggerak Komunitas Pecinta Mandau memamerkan Mandau-Mandau kebanggaan dalam Sampit Expo 2026. (Oes/Radar Sampit)
Penggerak Komunitas Pecinta Mandau memamerkan Mandau-Mandau kebanggaan dalam Sampit Expo 2026. (Oes/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Deretan mandau tersusun rapi di salah satu stan Sampit Expo. Bilahnya berkilau, gagangnya sarat ukiran, sarungnya teranyam penuh detail. Di balik senyap benda-benda itu, tersimpan cerita panjang tentang identitas, filosofi, dan persatuan orang Dayak.

Syahrifendy, Penggerak Komunitas Pecinta Mandau di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), berdiri di antara pusaka-pusaka tersebut.

Dengan mata berbinar, ia bercerita bahwa komunitas ini terbentuk sejak awal 2000-an, berangkat dari kegelisahan yang sama: banyak seniman Mandau di Kotim, tetapi jarang disatukan.

“Kami mengumpulkan pengukir, penganyam, penempa, dan pemilik Mandau menjadi satu. Ternyata seniman Mandau di Kotawaringin Timur itu banyak dan kualitasnya bagus,” ujarnya.

Mandau yang dipajang bukan sekadar koleksi. Seluruhnya merupakan karya seniman Mandau dari Kotim, sekaligus perwakilan Mandau dari berbagai wilayah Kalimantan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, dan yang paling dominan, Kalimantan Tengah dari sub suku Dayak Ngaju.

Setiap Mandau memiliki ciri khas. Baik dari bilah, gagang, hingga sarungnya. “Mandau Kalimantan Tengah punya tanda yang cukup khas. Di gagangnya biasanya ada semacam tali rantai yang mengikat dan menyambung,” jelas Syahrifendy.

Bagi dia, rantai itu bukan sekadar ornamen. Ada makna sejarah yang dalam. Tali rantai tersebut melambangkan persatuan Dayak pasca Perjanjian Damai Tumbang Anoi sebuah simbol bahwa tidak ada lagi permusuhan antar-suku di Kalimantan.

“Setiap Mandau pasti punya nilai filosofis. Empu yang membuatnya memberi makna tersendiri pada karyanya,” katanya.

Sebagian Mandau yang dipamerkan sudah berusia lebih dari 50 tahun dan tergolong pusaka. Bahkan, tak sedikit yang diperkirakan berumur ratusan tahun. Perkiraan itu dilihat dari garis keturunan pemiliknya ada yang telah diwariskan hingga enam sampai tujuh generasi.

“Kalau kami menerima Mandau, yang ditanya pertama itu sejarahnya. Mandau ini dari mana, milik siapa, turun ke siapa,” tuturnya.

Di komunitas pecinta Mandau, istilah jual beli nyaris tak dikenal. Yang ada adalah hibah, titipan rawat, atau dimaharkan.

Syahrifendy sendiri menerima sebagian Mandau untuk dirawat, sebagian lain memang diwariskan kepadanya. Yang paling berkesan adalah Mandau yang berasal dari garis keturunan keluarganya sendiri.

“Secara keseluruhan kami punya sekitar 125 Mandau. Yang dibawa ke sini hanya sebagian kecil,” ungkapnya.

Merawat Mandau bukan perkara mudah. Musuh utamanya adalah karat. Setiap bilah membutuhkan perhatian khusus, termasuk penggunaan minyak tertentu.

“Paling tidak setahun sekali dibersihkan. Ada bilah yang cepat berkarat, ada juga yang lebih tahan,” jelas Syahrifendy, yang sehari-hari berprofesi sebagai guru.

Salah satu Mandau tertua yang ia rawat diperkirakan berusia hingga 250 tahun, warisan dari leluhurnya.

Meski berdarah campuran dari Sampit, Kalimantan Barat, hingga Katingan Syahrifendy lahir dan besar di Sampit, dan Mandau menjadi bagian dari identitas yang ia jaga.

“Mandau itu identitas orang Dayak. Orang tahu Dayak, orang tahu Mandau. Itu sebabnya saya ikut kegiatan seperti ini, supaya orang tahu kita punya sesuatu yang bisa dibanggakan,” katanya.

Komunitas pecinta Mandau Kotim sendiri beranggotakan sekitar 35 orang, terdiri dari pengukir, penempa, penganyam, hingga pemilik Mandau. Melalui pameran ini, mereka berharap generasi muda tidak hanya mendengar cerita tentang Mandau, tetapi bisa melihat langsung wujud dan maknanya.

“Sekarang Mandau itu sudah langka, sulit didapat. Saya sendiri mengoleksinya sudah sekitar 24 tahun,” pungkas Syahrifendy.

Di tengah gemerlap Sampit Expo di areal Stadion 29 Nopember Sampit, Mandau-Mandau itu tak sekadar dipamerkan. Ia sedang bercerita tentang akar, persatuan, dan jati diri yang terus dirawat agar tak lapuk oleh zaman. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
#Mandau Tua #Komunitas Pecinta Mandau