Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Gasing Kayu Ulin Beradu, Tradisi Dayak Menggema di Jantung Kota

Usay Nor Rahmad • Kamis, 8 Januari 2026 | 14:30 WIB
Salah satu peserta berlaga dalam bacurai atau adu lama putaran, tanda lomba habayang atau bagasing dimulai. (Oes/Radar Sampit)
Salah satu peserta berlaga dalam bacurai atau adu lama putaran, tanda lomba habayang atau bagasing dimulai. (Oes/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com — Bunyi hantaman keras kayu ulin saling beradu memecah suasana di halaman voli indoor Jalan Tjilik Riwut, Sampit. Putaran gasing yang kencang disambut sorak penonton yang mengelilingi arena.

Di tengah hiruk-pikuk kota, permainan tradisional bagasing atau habayang kembali menggema dalam Festival Budaya Habaring Hurung (FBHH) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kamis (8/1/2026).

Gasing-gasing itu bukan sembarang kayu. Seluruhnya terbuat dari kayu ulin kayu besi khas Kalimantan yang dikenal keras dan tahan benturan. Saat dilepaskan, gasing berputar cepat, saling mendekat, lalu beradu dengan suara nyaring.

Tak jarang, benturan keras membuat gasing terpental, bahkan pecah. Justru di situlah daya tarik bagasing: keras, jujur, dan penuh adrenalin.

Tahun ini, lomba bagasing diikuti 18 tim, terdiri atas 12 tim putra dan 6 tim putri. Setiap tim beranggotakan tiga orang dan bertanding secara beregu dengan sistem poin yang menuntut strategi dan ketepatan.

Koordinator lomba, Musliadi, menjelaskan pertandingan diawali dengan adu putaran gasing. Gasing yang mampu berputar paling lama berhak mendapat kesempatan untuk menikam gasing lawan.

“Peserta diberi lima kali kesempatan untuk menjatuhkan atau menikam gasing lawan. Berapa banyak yang berhasil dijatuhkan, itulah poin untuk tim,” jelasnya.

Panitia menyiapkan enam juara, masing-masing tiga juara untuk kategori putra dan tiga juara untuk kategori putri. Namun, bagi sebagian besar peserta, kemenangan bukan satu-satunya tujuan. Lebih dari itu, lomba ini menjadi ruang untuk merawat tradisi.

Kepala Bidang Seni dan Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim Ahmad Santri, menyebut antusiasme peserta tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Peserta terbanyak datang dari Kecamatan Kota Besi, Tinduk, dan Telaga Antang wilayah yang hingga kini masih menjaga tradisi bagasing.

“Jumlah pesertanya meningkat. Ini menunjukkan bagasing masih hidup, terutama di wilayah pedesaan,” ungkapnya.

Menurut Ahmad Santri, permainan tradisional seperti bagasing kini memang lebih banyak dimainkan di desa.

Di kawasan perkotaan, peminatnya mulai berkurang, meski beberapa sekolah sudah mulai mengenalkan permainan tradisional kepada siswa.

“Ke depan, kami ingin bekerja sama dengan Dinas Pendidikan agar permainan tradisional masuk ke muatan lokal. Harapannya, sejak SD sudah ada pembinaan, sehingga bagasing bisa diwariskan kepada generasi muda,” pungkasnya.

Di tengah riuh festival dan denting kayu ulin yang beradu, bagasing tak sekadar diperlombakan. Ia hadir sebagai penanda identitas, menghubungkan tradisi Dayak dengan ruang kota agar tetap hidup dan tak lekang oleh zaman. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
#gasing #Festival Budaya Habaring Hurung #kayu ulin #sampit #kotim #bagasing #kalteng