Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Aroma Lamang di Festival Habaring Hurung: Tradisi yang Menyatukan Lintas Iman dan Generasi

Usay Nor Rahmad • Rabu, 7 Januari 2026 | 14:30 WIB
Malamang, memasak ketan di dalam bamboo dengan cara dibakar dalam Festival Habaring Hurung, Rabu (1/7/2026). (Oes/Radar Sampit)
Malamang, memasak ketan di dalam bamboo dengan cara dibakar dalam Festival Habaring Hurung, Rabu (1/7/2026). (Oes/Radar Sampit)

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Asap tipis mengepul dari deretan bambu yang disusun rapi. Aroma ketan dan santan perlahan menyebar, membaur dengan tawa dan obrolan para peserta.

Di Festival Habaring Hurung 2026, tradisi Malamang kembali hidup bukan sekadar ritual memasak, tetapi peristiwa budaya yang menyatukan banyak cerita.

Bagi Damang Kepala Adat Seranau Yanto, salah satu peserta Malamang, Lamang bukan hanya makanan. Ia adalah warisan leluhur Suku Dayak yang sarat makna.

“Malamang merupakan tradisi budaya asli. Ini cara orang Dayak memasak ketan dengan santan, biasanya disajikan dalam acara-acara khusus seperti Mamapas Lewu,” ujarnya, ditemui disela lomba Malamang di areal Stadion 29 Nopember Sampit, Rabu (7/1/2026).

Perbedaannya, kata Yanto, hanya pada pelengkap. “Bagi saudara kita yang Kaharingan, Lamang biasanya dimasak bersama lemak atau daging babi. Sementara bagi yang beragama Islam, bisa diganti dengan lauk lain, misalnya daging ayam atau durian. Tapi itu bukan keharusan,” jelasnya.

Esensi Lamang, lanjut Yanto, tetap sama: beras ketan yang dimasak dengan sari pati kelapa di dalam bambu, lalu dibakar perlahan hingga matang. Sederhana, tetapi penuh filosofi tentang kesabaran, kebersamaan, dan rasa syukur.

“Tantangannya adalah menjaga apinya. Kalau terlalu besar, bamboo terbakar sehingga beras ketannya tidak bisa masak dengan sempurna. Proses memasaknya 2 hingga 3 jam,” jelas Yanto.

Festival Habaring Hurung 2026 menjadi panggung kebersamaan itu. Lima kecamatan ikut ambil bagian, masing-masing mengirimkan satu kelompok yang terdiri dari lima orang. Mereka datang dengan latar belakang berbeda, namun disatukan oleh api tungku dan bambu Lamang.

“Kalau di wilayah perkotaan memang sudah jarang. Tapi kalau saudara-saudara di hulu, tradisi ini masih dijaga. Masih rutin mereka lakukan saat acara-acara khusus,” kata Yanto.

Di sinilah Malamang tak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga menjembatani perbedaan. Di antara asap, bambu, dan ketan yang matang sempurna, budaya Dayak terus bernapas hangat, inklusif, dan lestari. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
#Habaring Hurung #bambu #sampit #kotim #masak #HUT ke 73 Kotim #kalteng #malamang