SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Suasana duka penuh tangis kehilangan dialami keluarga Angel Juliana Tan, korban karena tenggelam di wisata Pemandian Alam Salju Sampit, pada Kamis (1/1) sore.
Suara tangisan semakin ramai ketika peti putih berisikan jasadnya dikuburkan ke liang lahat, di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jalan Jenderal Sudirman KM 6 pada pukul 10.00 WIB, Sabtu (3/1).
Pemakaman disaksikan sejumlah keluarga, jemaat Gereja Eka Sinta Lingkungan 6 yang datang melayat. Termasuk teman-temannya di SDN 1 Baamang Barat juga turut hadir merasakan sangat kehilangan atas kepergian Angel.
Mirisa (36), selaku ibu Angel mengaku sangat terpukul akan kepergian selamanya buah hatinya itu, yang mendadak dan terasa seperti mimpi.
Apalagi anaknya itu dikenal sebagai anak rumahan, pendiam, tidak suka keramaian. Selain itu juga dikenal anak yang ceria di sekolah dan di gereja.
"Saya tidak menyangka anak gadisku meninggal saat usianya masih 12 tahun. Dia anak yang pintar dan sudah bisa diandalkan bantu cuci piring di rumah. Sekarang hanya cuma punya Destan, adik kandungnya," ujar Mirisa saat ditemui Radar Sampit di rumah duka Jalan Langsat 4 Gang Hapakat, Sabtu (3/1).
Angel yang lahir pada 28 Juli 2013, juga dikenal suka berolahraga bulu tangkis dan juga aktif menjadi penari Tamborin di GKE Jalan Walter Hugo dekat dikediamannya
"Dulu anakku pernah ku tanya, apa cita-citamu Nak ? Aku hanya mau jadi pelayan gereja mengabdi untuk Tuhan saja Mah," ucap Mirisa, mengenang dialognya bersama putri sulungnya itu.
Diungkapkannya pula, sebelum tragedi maut menimpa, Angel sudah antusias ingin masuk sekolah pertama setelah libur sekolah.
"Dia sudah kelas VI di SDN 1 Baamang Barat. Dia semangat sekali ingin masuk sekolah setelah libur ini. Sudah pesan rak buku, pulpen dan gantungan kunci pakai jasa Cash on Delivery (COD) dia selipkan uang di bawah serbet. Rak bukunya sudah datang, orangnya sudah enggak ada," papar Mirisa.
Mirisa pun mengaku sangat menyayangi buah hati yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang.
"Jangankan pergi selamanya, pergi kemana saja, pasti saya mencari dia kemana, sama siapa, di mana. Namanya orang tua pasti sayang sekali sama anak sendiri, kalau dia pergi ada rasa khawatir. Apalagi ditinggal pergi untuk selamanya," ucapnya seraya mengusap air mata yang terus mengalir sejak kepergian sang anak.
Keluarga Tunggu Itikad Baik Pihak Pemandian
Mirisa pun mengaku sangat kecewa dengan sikap pihak pengelola Kolam Pemandian Alam Salju di Jalan Jenderal Sudirman KM 6 yang tidak sigap saat musibah itu berlangsung.
"Ada setengah jam saya mencari pihak pengelola ke sana kemari. Barulah ada petugas saya tidak tahu apakah itu pengelola Alam Salju atau bukan. Dia umumkan lewat pengeras suara," ungkapnya.
Mirisa menyadari Angel tak ada, setelah Destan, adiknya bersama kelima saudara sepupunya selesai mandi. Namun, Angel tak juga terlihat dan membuat dirinya panik.
"Dede, adiknya Angel tanya, Mah Cece mana. Disitu saya bingung, saya berpesan ke Angel jaga adiknya, karena merasa dia sudah besar, saya nitip dia jaga dedeknya, ternyata malah dia yang enggak ada," bebernya.
Mirisa juga mengungkapkan, saat berenang ke dalam kolam, Angel diawasi tantenya. Namun dikarenakan kolam ramai pengunjung diperkirakan ada 70an pengunjung, pandangan tak terlalu fokus mengawasi.
"Angel dan sepupunya berenang di areal anak-anak kedalamannya 150 cm, tinggi Angel 153 cm. Saat mandi, ada tantenya yang mengawasi di tepian kolam, saya agak jauh di samping dekat parkiran mobil. Namanya situasinya ramai pengunjung, tidak begitu fokus memperhatikan mereka," ujarnya.
Setelah mengetahui Angel tak kunjung terlihat, Mirisa mengabari pamannya Angel.
"Saya lekas lapor ke Omnya, Angel dari tadi gak ada terlihat. Dia bisa berenang gak, tanya Omnya. Saya jawab gak bisa, begitu tahu tidak bisa berenang, Omnya langsung terjun ke kolam mencari ke tengah kolam area dewasa," urai Mirisa.
Angel dan kelima saudara sepupunya diketahui mulai berenang ke kolam jam 12.30 WIB dan ditemukan dalam kondisi pucat tidak sadarkan diri sekitar jam 15.00 WIB, Kamis (1/1).
"Omnya Isur dan Hamlan mencari dan menyentuh kaki Angel di tengah kolam areal dewasa, sekitar 5 meter dari tali pembatas areal anak-anak. Saat di areal kolam dewasa ini bawahnya berlumpur ada lubang," lanjut Mirisa.
Saat proses pencarian, menurutnya pihak pengelola hanya mengumumkan melalui pengeras suara tanpa terjun langsung ke kolam mencari korban.
"Saya sendiri yang terjun ke kolam. Seharusnya di tempat wisata umum seperti ini, ada tim penyelamat yang siaga, peralatan safety juga tidak ada. Saya sempat marah, kalau hanya pemberitahuan lewat mic tanpa ada yang terjun langsung ke kolam bagaimana korban bisa ditemukan," sahut Hamlan salah satu Paman Angel.
Saat berada di daratan tanah, beberapa pengunjung lain ikut membantu. "Sudah dengan berbagai upaya di lakukan, pertolongan pertama, kaki di naikkan ke atas tetap tidak sadar, kami bawa naik mobil pribadi, setelah itu tidak lama tim BPBD datang mengawal kami sampai ke rumah sakit. Namun, Angel dinyatakan sudah wafat jam 16.10 WIB," papar Hamlan.
Atas kejadian ini, Hamlan mewakili pihak keluarga korban menuntut pertanggungjawaban dari pihak pengelola atas kelalaian dalam menjamin keamanan Wisata Pemandian Alam Salju.
"Kami tunggu itikad baik dari pihak pengelola. Untuk saat ini kami belum berpikir memproses ini ke jalur hukum, namun harus ada bentuk pertanggungjawaban dari pihak pengelola karena musibah ini terjadi di situ," tegasnya.
Saat mengujungi Wisata Pemandian Alam Salju, pengunjung datang tidak gratis. Pengunjung dewasa dikenakan tarif masuk Rp 10.000 dan anak-anak Rp 5.000.
"Hari kedua kematian Angel, pihak pengelola ada datang kemari memberikan sembako dan mengatakan akan kemari lagi. Jadi, kami tunggu itikad baiknya," papar Hamlan.
Ia kembali menegaskan, dalam hal ini, pihak keluarga korban menuntut pertanggungjawaban biaya pemakaman hingga selesai yang menelan dana lebih dari Rp 20 juta.
Secara rinci ia mengungkapkan biaya peti mati Rp 4 juta, gali lubang kuburan Rp 3 juta, suntik formalin Rp 2 juta, konsumsi makanan selama tiga hari berturut-turut ibadah perkabungan Rp 10 juta belum termasuk daging babi 50 kg seharga Rp 6,5 juta.
"Tenda kursi dan konsumsi sementara ini ada dibantu jemaat gereja. Pemakaman ini memerlukan biaya lebih dari Rp20 juta. Belum lagi nanti memesan atang kuburan, belum kebutuhan konsumsi untuk ibadah peringatan ke-40 hari, ke-100 hari, ke-1.000 hari semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sehingga, kami harap ada itikad baik dari pihak pengelola untuk membantu sebagai bentuk pertanggungjawaban,"pungkas Hamlan. (hgn/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama