Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Puluhan Karhutla Terjadi Sepanjang 2025 di Kotim, Ancaman Masih Membayangi 2026

Usay Nor Rahmad • Selasa, 30 Desember 2025 | 16:20 WIB
Kebakaran hutan dan lahan dilihat dari udara di Kabupaten Kotawaringin Timur beberapa waktu lalu.
Kebakaran hutan dan lahan dilihat dari udara di Kabupaten Kotawaringin Timur beberapa waktu lalu.

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menjadi persoalan yang perlu diwaspadai di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).

Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, puluhan kejadian Karhutla terjadi sepanjang tahun 2025.

Potensi serupa diperkirakan dapat kembali terjadi pada 2026 apabila kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan tidak meningkat.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan kondisi lahan dan cuaca. Meski beberapa kebakaran dapat ditangani dengan cepat, data menunjukkan bahwa risiko masih cukup tinggi di wilayah tertentu.

"Dalam sepanjang 2025 masih ada puluhan kasus Karhutla di beberapa kecamatan di Kotim. Kondisi ini menjadi evaluasi agar tahun 2026 lebih siap dalam pencegahan," ujarnya, Selasa (30/12/2025).

Dari rilis data BPBD, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang menjadi wilayah dengan jumlah kejadian Karhutla terbanyak yakni 17 kali. Disusul Baamang dengan 8 kejadian, Mentaya Hilir Selatan 3 kejadian, Seranau 2 kejadian, sementara Cempaga, Pulau Hanaut, Kota Besi, Teluk Sampit, Mentaya Hilir Utara, dan Parenggean masing-masing 1 kejadian.

Multazam menjelaskan bahwa faktor pemicu Karhutla sebagian besar berasal dari aktivitas manusia, seperti membuka lahan dengan cara membakar atau kelalaian saat beraktivitas di area kering. Pada waktu tertentu, cuaca panas makin mempercepat rambatan api.

“Karhutla ini nyata dampaknya. Jika tidak dicegah sejak dini, 2026 bisa kembali mengalami hal yang sama atau bahkan lebih besar,” tegasnya.

BPBD bersama aparat terkait terus melakukan mitigasi, pemantauan titik panas, serta sosialisasi ke masyarakat. Namun upaya pencegahan tetap membutuhkan peran warga sebagai garda terdepan.
Masyarakat diimbau untuk tidak membakar lahan, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan jika melihat tanda-tanda kebakaran agar dapat ditindaklanjuti dengan cepat.

“Pencegahan jauh lebih efektif daripada penanganan ketika api sudah membesar. Kami berharap kesadaran dan partisipasi warga meningkat, sehingga risiko Karhutla pada 2026 dapat ditekan,” pungkas Multazam.

Data ini diharapkan menjadi pengingat bersama bahwa menjaga lingkungan adalah tanggung jawab kolektif. Dengan kesiapsiagaan lebih baik, Kotim dapat meminimalkan potensi Karhutla pada tahun mendatang. (oes)

Editor : Slamet Harmoko
#kebakaran hutan #sampit #kotim #kalteng