SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Tahun 2025 menjadi pengingat penting bagi Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) bahwa banjir masih menjadi ancaman yang perlu diwaspadai.
Rekapitulasi yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat puluhan bencana banjir terjadi di berbagai kecamatan sepanjang tahun ini, dengan intensitas yang bervariasi.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, mengatakan bahwa kejadian banjir tidak hanya terjadi di wilayah tertentu, melainkan menyebar hampir di sejumlah kecamatan.
Data menunjukkan Kecamatan Bukit Santuai berada pada posisi tertinggi dengan delapan kali banjir, disusul Tualan Hulu tujuh kali. Telaga Antang dan Mentaya Hilir Selatan masing-masing lima kali kejadian, kemudian Cempaga Hulu empat kali serta Parenggean tiga kali.
Sementara itu Telawang, Baamang, Antang Kalang, dan Pulau Hanaut masing-masing mencatat dua kejadian.
Adapun Mentawa Baru Ketapang, Teluk Sampit, Kota Besi, dan Mentaya Hulu masing-masing mengalami satu kali banjir sepanjang 2025. yang berada di dataran rendah juga memperbesar potensi genangan.
“Ini menjadi evaluasi bersama. Masyarakat jangan sampai abai karena potensi banjir masih ada, terutama pada puncak musim hujan,” ujarnya, Selasa (30/12//2025).
Multazam menegaskan, meski sebagian banjir cepat surut dalam hitungan jam hingga hari, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. BPBD juga tetap siaga melalui posko kebencanaan, tim reaksi cepat, serta koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa.
Ia mengimbau masyarakat lebih peduli dengan lingkungan sekitar, mulai dari menjaga kebersihan drainase, tidak membuang sampah sembarangan, hingga memastikan kesiapsiagaan keluarga saat cuaca ekstrem.
“Kesadaran masyarakat sangat berperan. Pemerintah terus berupaya melakukan mitigasi, tapi pencegahan terbaik dimulai dari lingkungan kita sendiri,” tegasnya.
Dengan melihat kembali catatan banjir sepanjang tahun, BPBD berharap masyarakat semakin waspada dan memahami titik rawan di wilayahnya.
Langkah kecil seperti menjaga aliran air tetap lancar dinilai mampu membantu menekan risiko bencana, sehingga dampak banjir ke depan dapat diminimalisasi. (oes)
Editor : Slamet Harmoko