SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Setelah perdebatan panjang, event Gubernur Motor Prix Open Race akhirnya tetap dipastikan digelar di Taman Kota Sampit pada 13–14 Desember 2025.
Namun, gelaran balap tahun ini dibungkus dengan sejumlah syarat ketat: tanpa panggung hiburan dan komitmen mensterilkan Jalan Yos Sudarso dari penonton.
Kepastian itu lahir dari rapat mediasi yang berlangsung lebih dari 2,5 jam pada Selasa (9/12).
Pertemuan tersebut mempertemukan tokoh masyarakat dari pihak gereja di Jalan Yos Sudarso—yang sebelumnya menolak Taman Kota sebagai arena balap—dengan panitia dan pemerintah daerah.
Mediasi difasilitasi Pemkab Kotim yang dipimpin Plt Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat. Hasilnya, pihak yang semula menolak akhirnya menyepakati pelaksanaan open race tetap di Taman Kota Sampit.
”Berdasarkan hasil pertemuan rapat Selasa lalu, telah kita sepakati bersama pelaksanaan event Gubernur Motor Prix Open Race tetap dilaksanakan di Taman Kota Sampit dengan beberapa catatan penting,” kata Oktav Pahlevi.
Salah satu poin penting adalah pengalihan titik start dan finis yang sebelumnya berada di Jalan Yos Sudarso, kini dipindah ke Jalan S Parman.
Tata letak sound system pun diubah agar tidak menghadap ke arah Jalan Yos Sudarso.
”Panitia juga sudah menyepakati akan menyediakan akses jalan keluar masuk untuk pasien Klinik Obor Terapung selebar 2,5 meter dari trotoar, dipasang pagar dan terpal pembatas, dan memastikan Jalan Yos Sudarso steril dari penonton,” ujarnya.
Pemkab Kotim melalui Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi dan Kawasan Permukiman (DSDABMBKPRKP) Kotim selaku pemilik aset di kawasan Taman Kota Sampit juga siap memberikan rekomendasi terkait pelaksanaan event open race tersebut.
”Surat rekomendasi akan dikeluarkan oleh DSDABMBKPRKP Kotim selaku SOPD yang berwenang mengelola aset Taman Kota Sampit dan Pemkab Kotim memastikan event open race terakhir dilaksanakan di Taman Kota Sampit tahun ini,” tegasnya.
Sebelumnya, Ketua Panitia Gubernur Motor Prix Open Race, Hendra Tambang, menegaskan bahwa ajang ini bukan sekadar hiburan semata, tetapi juga sarana menjaring atlet muda yang akan diseleksi mewakili Kotim dalam ajang Porprov di Pangkalan Bun tahun 2026.
”Kenapa dilaksanakan di Taman Kota Sampit, karena cuma Taman Kota yang paling representatif. Dan, pelaksanaan road race sudah sejak tahun 1997 diselenggarakan di Taman Kota Sampit,” kata Hendra Tambang.
Dia menjelaskan, sebelum kegiatan digelar, panitia telah berupaya berkoordinasi dengan pihak gereja dan Klinik Terapung untuk mencari solusi agar kegiatan tetap dapat berjalan.
”Kami sudah sosialisasikan kegiatan ini ke masyarakat, RT setempat, para pedagang, SMK Don Bosco dan sudah berupaya bertemu dengan pihak gereja tetapi belum ketemu,” ujarnya.
Dalam setiap event road race, panitia juga melibatkan Klinik Terapung sebagai rujukan evakuasi pertama apabila terjadi insiden yang tidak diinginkan.
”Pelaksanaannya juga kami pertimbangkan waktunya dengan jam ibadah di gereja. Kegiatan ibadah dimulai jam 07.00–09.00 pagi, kegiatan itu Sabtu–Minggu bisa kita mulai jam 10.00 WIB,” ujarnya.
Panitia, lanjut Hendra, juga siap bertanggung jawab apabila ada fasilitas yang rusak di sekitar areal Taman Kota Sampit.
Mereka menjamin akses jalan bagi pasien yang menuju ke Klinik Terapung dan jemaat gereja tetap dibuka tanpa pungutan biaya parkir.
”Kami siap bertanggung jawab apabila ada kerusakan yang ditimbulkan karena faktor ketidaksengajaan. Kami bermohon dengan sangat ini agar event ini bisa tetap dilaksanakan di Taman Kota Sampit dan kami pastikan event road race terakhir dilaksanakan di Taman Kota Sampit tahun ini,” ucapnya. (hgn/ign)
Editor : Gunawan.