Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Utara-Selatan Kotim Dikepung Bencana. Sudah 6 Desa Terendam, Banjir Rob Turut Mengancam

Usay Nor Rahmad • Jumat, 5 Desember 2025 | 22:15 WIB

 

Banjir yang melanda Desa Tanjung Jariangau Kecamatan Mentaya Hulu, Kotim, Jumat (5/12).
Banjir yang melanda Desa Tanjung Jariangau Kecamatan Mentaya Hulu, Kotim, Jumat (5/12).

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Potensi bencana Hidrometeorologi, di wilayah Kotawaringin Timur makin besar terjadi. Curah hujan yang tinggi dalam beberapa hari terakhir mulai berdampak di wilayah utara.

Hingga Jumat (5/12) petang, sudah tercatat enam desa dari tiga wilayah kecamatan diterjang banjir, akibat air sungai yang meluap. Dikhawatirkan, banjir terus meluas  dan turun ke wilayah perkotaan.

Berdasarkan data Pos Curah Hujan (PCH) BWS Kalimantan II, intensitas hujan di wilayah hulu sangat tinggi. PCH Tumbang Mankup mencatat 68,5 mm, sedangkan PCH Tumbang Sangai 86 mm dalam periode 3–4 Desember 2025. Kondisi ini memicu kenaikan debit sungai yang cepat.

Data Pos Duga Air (PDA) Kuala Kuayan pada 3 Desember 2025 menunjukkan tren peningkatan debit air pada kategori Siaga 1. Ketinggian muka air tercatat 7,58 meter pada pukul 07.00 WIB, naik menjadi 7,66 meter pada pukul 18.00 WIB. Dengan TMA 7,78 meter, situasi ini menjadi alarm bagi potensi banjir susulan, terutama jika hujan kembali mengguyur wilayah Antang Kalang dan Telaga Antang.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, telah menyiagakan tim reaksi cepat (TCR) di wilayah terdampak banjir itu. TCR juga sudah mulai membantu pengungsian warga, menggunakan perahu karet. Dilaporkan, sejumlah akses jalan di enam desa terdampak, telah terendam banjir sejak, kemarin.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam memaparkan, di  wilayah Kecamatan Mentaya Hulu, banjir meluas di Desa Tanjung Jariangau dan Kelurahan Kuala Kuayan. Di Tanjung Jariangau, tinggi air mencapai 70–80 sentimeter. Sudah menggenangi permukiman hingga fasilitas pendidikan SDN 3 Tanjung Jariangau.

Kemudian di Kuala Kuayan, banjir menggenangi kawasan Pelangkong dengan ketinggian sekitar 15 sentimeter di atas badan jalan.

Selain itu di Desa Rantau Suang wilayah Kecamatan Telaga Antang, juga sempat dilanda banjir setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama 11 jam. Mulai 1 Desember pukul 02.00 WIB hingga 2 Desember pukul 13.00 WIB. Beruntung, banjir di desa itu sudah surut pada 3 Desember.

Terjangan banjir juga cukup parah terjadi di tiga desa wilayah Kecamatan Tualan Hulu. Yaitu Desa Luwuk Sampun, Desa Merah, dan Tumbang Mujam.

Di Luwuk Sampun, banjir menerjang setinggi 120–130 sentimeter, merendam badan jalan sepanjang 300–350 meter, membuat akses darat lumpuh total. Warga setempat kini mengandalkan jalur sungai untuk melintas, dan jumlah armadanya terbatas.

Di Desa Merah, tinggi banjir mencapai 60–100 sentimeter dan menutup jalan tanah sepanjang 400–500 meter. Fasilitas kesehatan pun terganggu, karena tenaga medis harus menggunakan perahu untuk mengunjungi warga. Tercatat, sebanyak 12 rumah, 13 KK, dan 40 jiwa terdampak.

Jalan poros desa sepanjang 400 hingga 500 meter terendam dengan ketinggian air 60 hingga 100 sentimeter. Kondisi tersebut menyebabkan desa terisolasi dan pelayanan kesehatan terganggu karena Puskesmas Tualan Hulu berada di Desa Merah.

Kemudian di Desa Tumbang Mujam, banjir makin meluas akibat hujan deras dan air kiriman dari hulu. Banyak warga mengungsi ke rumah kerabat yang lebih aman. Sejumlah fasilitas umum ikut terendam. Termasuk gereja, balai basarah, pasar desa, gedung serbaguna, dan kantor desa lama. Akses menuju sekolah juga terendam sehingga aktivitas belajar untuk sementara dihentikan.

Sebelumnya, banjir di Tumbang Mujam sempat surut pada 1–2 Desember 2025. Namun, hujan ekstrem di kawasan hulu kembali menaikkan debit air. Data Telemetri BWS Kalimantan II di POS PKL Tumbang Sangai mencatat, intensitas hujan mencapai 126,5 mm pada 29 November 2025, kategori sangat lebat.

Sekretaris Desa Tumbang Mujam Dolik mengungkapkan, peningkatan debit air terjadi sejak malam akibat curah hujan yang sangat tinggi dan air kiriman dari wilayah hulu. Situasi ini membuat sebagian warga memilih mengungsi ke rumah keluarga yang masih aman dari rendaman banjir.

“Sebagian sudah ngungsi ke rumah keluarga yang belum tergenang. Air naik lagi sejak malam karena hujan lebat dan air kiriman dari daerah hulu juga,” ungkapnya.

Sementara itu bencana yang membayangi dari wilayah Selatan Kotim, yakni adanya ancaman banjir ROB pada 6–13 Desember 2025. Fenomena ini dipicu posisi bulan terdekat dengan bumi (perigee). Jika rob bertepatan dengan hujan lebat di hulu, aliran sungai bisa terhambat dan menyebabkan pasang ekstrem.

Multazam membeberkan, tiga wilayah rawan ROB yaitu Teluk Sampit (Desa Ujung Pandaran), Pulau Hanaut, dan Mentaya Hilir Selatan. Rob bahkan bisa meluas hingga Mentawa Baru Ketapang seperti kejadian November lalu di Desa Pelangsian dan sekitarnya.

“Banjir ROB memang hanya 4–5 jam, tetapi masyarakat tetap harus waspada,” imbuhnya.

Hujan deras yang mengguyur Sampit pada Jumat ( 5/13/) malam, turut membuat warga kota ikut khawatir, mengingat banjir di wilayah utara berpotensi merambat ke wilayah tengah.

”Hujan selepas Isya cukup deras di Sampit. Khawatir banjir. Apalagi di wilayah utara sudah banjir. Tidak menutup kemungkinan di sini juga banjir,” kata Junaidi, warga Mentawa Baru Ketapang.

Pihak BPBD Kotim pun terus melakukan pemantauan di seluruh wilayah, termasuk dalam kota, sambil menyiapkan langkah darurat jika situasi memburuk.

Multazam menambhakan, pihaknya mulai mempertimbangkan penetapan status siaga banjir, dengan melihat perluasan dampaknya di sejumlah titik.

”Sangat dimungkinkan (penetapan status darurat banjir). Akan kami lakukan kaji cepat untuk mengamati perluasan kejadian,” pungkasnya.  (oes/gus)

 

 

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#Mentaya Hulu #antang kalang #bencana banjir #Hidrometeorologi #utara kotim #kuala kuayan #Utara Selatan #sampit #tualan hulu #kotim #banjir rob #bpbd kotim #curah hujan