SAMPIT,Radarsampit.jawapos.com – Serangan buaya yang menewaskan Muhran, warga Desa Satiruk, membuka kembali kenyataan pahit bahwa masyarakat di wilayah pesisir Pulau Hanaut hidup berdampingan dengan ancaman satwa liar setiap hari. Camat Pulau Hanaut, Fahrujiansyah, mengungkapkan kondisi korban yang ditemukan sangat memprihatinkan dan menggambarkan betapa besar risiko yang dihadapi warga yang menggantungkan hidup dari sungai.
“Memang warga sudah terbiasa melihat buaya ketika menangkap ikan. Namanya mencari nafkah, mereka tetap harus turun ke sungai. Tapi kejadian kemarin ini apesnya,” ujar Fahrujiansyah kepada wartawan.
Menurutnya, ukuran buaya yang ditemukan di sekitar lokasi serangan diperkirakan mencapai 3,5 hingga 4 meter. Ia menilai gangguan habitat dan minimnya sumber makanan bisa menjadi pemicu buaya bertindak agresif hingga memangsa manusia.
“Mungkin karena terganggu atau kurang makan, ini yang memacu mereka memangsa manusia,” jelasnya.
Fahrujiansyah menyadari bahwa selama ini warga sering kebingungan harus meminta pertolongan ke mana saat kejadian darurat seperti serangan buaya. Karena itu, pihak kecamatan berinisiatif membentuk Tim Penanggulangan Buaya yang akan bertugas menangani situasi darurat sekaligus melakukan sosialisasi.
“Nanti kami bentuk tim di kecamatan. Tim ini yang akan bergerak pertama saat darurat. Tidak hanya saat kejadian, tapi juga untuk sosialisasi supaya masyarakat tidak abai,” tegasnya.
Tim tersebut nantinya akan berkoordinasi dengan BPBD, aparat desa, dan pihak terkait lainnya, terutama pada waktu-waktu yang dianggap rawan.
Camat Pulau Hanaut meminta masyarakat lebih waspada saat beraktivitas di sungai, termasuk saat menangkap ikan. Ia menekankan pentingnya memperhatikan situasi dan kondisi sekitar.
“Kalau bisa jangan pergi sendirian. Berangkat dalam jumlah banyak. Kejadian kemarin, setelah korban diserang, warga lainnya langsung kabur ke desa mencari pertolongan. Ini berbahaya,” ucapnya.
Ia juga menyoroti ketergantungan warga pada pola hidup tradisional yang membuat mereka tetap harus turun ke sungai meski berisiko. Menurutnya, edukasi berkelanjutan wajib diberikan agar masyarakat lebih memahami potensi bahaya.
Di sisi lain, Fahrujiansyah berharap Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur dapat memberikan perhatian lebih kepada masyarakat pesisir Pulau Hanaut yang hidup dalam kondisi terbatas.
“Contohnya mengendalikan harga kebutuhan pokok di sana. Itu sangat membantu warga. Karena mereka tetap harus turun ke sungai untuk mencari makan kalau kebutuhan mahal,” tuturnya.
Dengan adanya tim penanggulangan dan perhatian lebih dari pemerintah, ia berharap kejadian serupa tidak lagi memakan korban. Warga pun diimbau meningkatkan kewaspadaan dan selalu memastikan keselamatan saat beraktivitas di sungai yang menjadi habitat alami buaya muara. (oes)
Editor : Agus Jaka Purnama