PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com – Maraknya penjualan bibit kelapa sawit abal-abal di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) membuat pekebun pemula berada dalam ancaman kerugian besar.
Bibit palsu yang dijual bebas berpotensi menghasilkan tanaman yang tidak produktif, jauh dari standar kelapa sawit unggul.
Bibit yang tidak jelas asal-usulnya berisiko menghasilkan buah yang tidak maksimal dan gagal mencapai masa produktif hingga 20 tahun seperti bibit bersertifikat.
Meski begitu, hingga kini peredaran kecambah atau bibit kelapa sawit abal-abal belum mendapat perhatian dari dinas terkait.
Hal tersebut diungkap Rahmat, pekebun kelapa sawit di Pangkalan Bun. Menurutnya, menggunakan bibit tanpa kejelasan justru merugikan petani itu sendiri.
”Memang harganya murah dibandingkan bibit unggul bersertifikat yang harganya per pokok di usia 8 sampai 9 bulan sudah mencapai di atas Rp50 ribu, tetapi hasilnya juga memuaskan," ujarnya.
Tak heran jika banyak pekebun mandiri mengeluhkan hasil produksi buah segar ketika memasuki masa panen.
Rahmat menyarankan petani agar lebih selektif dalam memilih bibit. Lebih baik membayar lebih mahal tetapi mendapatkan kualitas yang terjamin.
Pekebun lainnya, Mahyudin, mengaku tak mau mengambil risiko membeli bibit murah.
Meski harus mengeluarkan biaya lebih besar, ia memilih bibit yang kualitasnya terjamin.
Dia juga meminta pemerintah daerah memberikan teguran atau menetapkan regulasi untuk melarang penjualan bibit dari kecambah yang tidak jelas karena merugikan masyarakat.
”Saat ini banyak yang jualan bibit yang enggak jelas, namun karena masyarakat tergiur harga yang murah mereka beli juga. Untuk antisipasi, mending pemerintah menggelontorkan anggaran untuk pengadaan bantuan bibit kelapa sawit untuk masyarakat, itu lebih menjamin kualitas dan hasil bagi pekebun kelapa sawit," katanya. (tyo/ign)
Editor : Gunawan.