Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Selama 2025, Sudah 6 Warga Kotim Disambar Buaya

Fahry Ilhami Samosir • Sabtu, 22 November 2025 | 20:55 WIB

 

Petugas gabungan saat menyisir lokasi hilangnya Muhran (63), setelah diterkam Buaya, Sabtu (22/11)
Petugas gabungan saat menyisir lokasi hilangnya Muhran (63), setelah diterkam Buaya, Sabtu (22/11)

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com-Daftar korban keganasan Buaya di perairan Sungai Mentaya Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali bertambah. Terbaru, pada Sabtu (22/11) dini hari sekitar pukul 04.00 WIB, seorang warga bernama Muhran (63), dilaporkan hilang usai diterkam predator tersebut ketika sedang mencari udang.

Posisi korban ketika itu berada di Sungai Rangkang (salah satu anak Sungai Mentaya) yang berada di Desa Satiruk,  Kecamatan Pulau Hanut, Kabupaten Kotim. Berangkat sekitar pukul 02.00 WIB dari rumah.

Ada dua saksi yang melihat korban ketika diterkam dan diseret buaya itu ke tengah perairan. Namun mereka tak berani menolong lantaran ganasnya binatang tersebut, sehingga saksi segera mencari pertolongan.

Kapolsek Pulau Hanaut Iptu Purwono membenarkan peristiwa itu. "Dari hasil pemeriksaan saksi, korban hilang setelah diterkam dan diseret buaya ke arah laut. Karena posisi kejadiannya itu dekat dengan bibir pantai," ujarnya kepada Radar Sampit melalui sambungan telepon.

Ia menceritakan, insiden ini bermula saat korban sedang mencari ikan bersama dua orang saksi yakni Erwin dan Kimi. Sebelum diterkam, korban mencari ikan dengan cara menyungkur di air.Rupanya, saat itu hewan predator itu telah mengintai hingga menerkam korban. Korban yang tak berdaya lalu diseret ke arah laut dalam keadaan hidup-hidup.

"Sebelum ditarik ke laut, korban ada berteriak minta tolong. Namun, karena saat itu kondisi sangat gelap, saksi tidak berani menolong dan melaporkan kejadian itu ke polisi,” ujar Purwono.

Camat Pulau Hanaut Fahrujiansyah juga mengungkapkan, Muhran sempat berteriak meminta tolong, dan suaranya menjauh diseret buaya ke laut.

“Namun Erwin dan Kimi yang melihat kejadian itu, tidak dapat menolong karena panik. Keduanya langsung mengabarkan kejadian ini ke warga kampung dan pihak keluarga dan bergegas melakukan pencarian di sekitar lokasi kejadian,"ujarnya kepada radarsampit.

Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim Multazam mengatakan, pihaknya telah menerima laporan korban hilang diterkam buaya dan langsung menggelar proses pencarian.

"Tim gabungan dari Pos SAR Sampit, BPBD Kotim, Ditpolair, Pos Angkatan Laut Sampit, Polsek Pulau Hanaut, perwakilan kecamatan dan Desa Satiruk mulai melakukan pencarian korban dari jam 09.00 pagi hingga jam 17.00 WIB. Hasilnya masih nihil, korban belum ditemukan. Rencana akan dilanjutkan pencarian," pungkasnya.

Kejadian tersebut menambah daftar korban keganasan buaya  di Sungai Mentaya. Tercatat sejak Januari 2025 sampai 22 November 2025, sudah ada 6 orang. Satu diantaranya meninggal dunia, dan satu masih dinyatakan hilang.

Beberapa hari sebelum kejadian tersebut, pada Senin (17/11) seekor buaya berukuran cukup besar terekam  ponsel warga saat berada di tepian Sungai Mentaya, Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotim. Video itu pun tersebar di media sosial.

Dalam rekaman tersebut terlihat beberapa warga sedang melintas menggunakan perahu dan merekam buaya  tersebut dari jarak yang sangat dekat. Hewan yang diperkirakan sepanjang tiga meter itu tampak berjemur di pinggir sungai yang tengah surut.

Selain itu, warga Desa Satiruk juga pernah digemparkan kemunculan buaya berukuran besar di Sungai Rangkang, pada Rabu 6 Agustus 2025 lalu. Buaya tersebut diperkirakan memiliki panjang lebih dari lima meter, bahkan melebihi ukuran perahu ces yang biasa digunakan nelayan setempat.

"Ada buaya besar di Sungai Rangkang Desa Satiruk. Ukurannya besar," kata Arief, salah satu warga setempat, ketika itu.

Menurutnya, kemunculan buaya di sungai bukan hal baru bagi warga setempat. Saat air pasang, predator itu kerap muncul, bahkan tidak hanya satu ekor. "Kalau di sini memang banyak buaya. Tidak hanya yang ini saja, buaya lain juga sering muncul," sebut Arief.

Sungai Rangkang merupakan jalur vital menuju kebun dan ladang, serta akses utama warga Desa Satiruk untuk menyeberang ke Kota Samuda (Kecamatan Mentaya Hilir Selatan) yang hanya bisa dicapai menggunakan perahu. Anak sungai tersebut juga sering jadi tempat nelayan mencari ikan dan untuk aktivitas mandi.(sir/hgn/gus)

Daftar Korban Serangan Buaya di Perairan Sungai Mentaya  tahun 2025

  1. Pada 13 Januari 2025 : Sari (30) disambar Buaya saat mencuci pakaian dan luka di kaki.
  2. Pada 4 April 2025: Sani (35) diserang buaya saat mandi dan ditemukan meninggal dunia.
  3. Pada 3 Mei 2025: Samsul Anwar, diserang buaya saat berwudhu dan mengalami luka di tangan kanan.
  4. Pada 21 Juli 2025: Nursehan (62) diserang buaya saat mandi, mengalami luka di tangan kanan.
  5. Pada 27 Oktober 2025: Itai (65) disambar buaya saat sikat gigi di tepi sungai dan mengalami luka di kaki.
  6. Pada 22 November 2025: Muhran (63) diterkam buaya saat mencari udang di sungai dan masih dinyatakan hilang.

 

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#sungai mentaya #Sungai rangkang #Kotawaringin Timur (Kotim) #tim sar #disambar buaya #Desa Satiruk #bpbd kotim #daftar korban #Kecamatan Pulau Hanaut