Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Datu Kelampayan Belum Masuk Daftar Pahlawan Nasional, Warga Banjar: 'Sidin Sudah Pahlawan di Hati Kami'

Usay Nor Rahmad • Selasa, 11 November 2025 | 16:16 WIB
DATU KELAMPAYAN: Diusulkan sejak 2023 lalu, ulama besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, atau yang dikenal sebagai Datu Kelampayan, belum disetujui sebagai Pahlawan Nasional. (Dok Radar Banjarmasin)
DATU KELAMPAYAN: Diusulkan sejak 2023 lalu, ulama besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, atau yang dikenal sebagai Datu Kelampayan, belum disetujui sebagai Pahlawan Nasional. (Dok Radar Banjarmasin)

Radarsampit.jawapos.com – Harapan masyarakat Kalimantan Selatan agar ulama besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, atau yang akrab dikenal sebagai Datu Kelampayan, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional hingga kini belum terwujud.

Sejak diusulkan pada tahun 2023, nama beliau belum juga masuk dalam daftar resmi tokoh yang dianugerahi gelar tertinggi oleh Presiden Prabowo Subianto pada peringatan Hari Pahlawan ke-80, Senin (10/11/2025).

Mengutip Radar Banjarmasin, Kepala Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Farhani, mengungkapkan bahwa kendala utama dalam pengusulan tersebut terletak pada aspek dokumentasi kepahlawanan.

“Memang sudah diusulkan. Tapi kesulitannya yang sangat mendasar adalah dokumentasi kepahlawanannya. Sedangkan kita tahu Datu Kelampayan sudah tidak diragukan lagi,” ujarnya, Senin (10/11/2025).

Kendati demikian, bagi masyarakat Banjar, sosok Datu Kelampayan sudah lama menjadi pahlawan sejati bukan hanya karena keilmuannya, tetapi juga keteladanannya dalam mengabdikan diri untuk umat.

“Datu pahlawan di hati urang Banjar,” tulis salah satu warganet dalam kolom komentar.

Warganet lain bernama Nawie juga menyampaikan pandangan serupa.

“Gelar Syekh tuh luar biasa sudah. Mungkin ada sisi baiknya di mata Allah sidin kada jadi Pahlawan Nasional. Kalau-kalau ada terbawa ke politik kena oleh segelintir orang,” tulisnya.

Karya monumental beliau, Kitab Sabilal Muhtadin, hingga kini menjadi rujukan penting dalam hukum Islam di Asia Tenggara. Kitab tersebut lahir dari pergulatan panjang selama beliau menimba ilmu di Makkah dan Madinah lebih dari tiga dekade.

Selain itu, Datu Kelampayan juga menulis berbagai kitab tentang tauhid, tasawuf, dan hukum Islam yang memperkuat fondasi keagamaan masyarakat Banjar.

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari lahir pada 1710 di Lok Gabang, Martapura, dan wafat pada 1812 di Desa Kelampayan. Meski dikenal sebagai ulama besar, beliau tetap membumi. Ia mengajarkan masyarakat cara bercocok tanam, mengatur tata lahan, serta memperbaiki sistem irigasi.

Dalam bidang politik, beliau menjadi penasihat Kesultanan Banjar, menyusun hukum adat yang berpadu dengan syariat Islam, dan menegakkan keadilan sosial. Kepahlawanannya tidak diwujudkan dengan mengangkat senjata, tetapi melalui ilmu, pengabdian, dan keberpihakan kepada rakyat.

Sementara itu, dalam Keputusan Presiden Nomor 116.TK/Tahun 2025, pemerintah menetapkan sepuluh tokoh bangsa sebagai Pahlawan Nasional tahun ini, di antaranya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Jenderal Besar TNI HM Soeharto, Marsinah, dan Syaikhona Muhammad Kholil.

Meski nama Datu Kelampayan belum tercantum, masyarakat Banjar menegaskan bahwa pengakuan rakyat lebih bermakna daripada gelar formal.

“Sidin itu bukan hanya pahlawan bagi urang Banjar, tapi juga pencerah umat,” tulis seorang warganet lainnya.(oes)

Editor : Slamet Harmoko
#Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari #Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari #Datu Kalampayan #kalsel #banjarmasin