SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Potret buram dunia pendidikan di pelosok kembali terungkap. Di SDN Desa Tumbang Ramei, Kecamatan Antang Kalang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), keterbatasan ruang belajar membuat enam jenjang kelas harus digabung hanya dalam dua ruangan.
Satu ruangan dipakai bersama untuk siswa kelas 1 hingga kelas 3, sementara ruangan lainnya untuk kelas 4 sampai kelas 6. Total siswa di sekolah ini sekitar 40 orang.
Kepala Desa Tumbang Ramei Natalis mengatakan, situasi itu sudah berlangsung lama dan sangat memprihatinkan.
”Jadi anak-anak itu digabungkan di satu kelas dan masing-masing kelas itu dibuat sekat, sehingga kalau kita melihat kondisinya sangat memprihatinkan,” ujarnya.
Dia mengatakan, pemerintah desa hampir setiap tahun mengusulkan pembangunan ruang kelas baru melalui proses perencanaan tingkat kecamatan.
Namun, usulan itu selalu kandas dengan alasan anggaran tidak mencukupi atau dianggap belum mendesak.
Natalis menyebut, kondisi ruang belajar yang sesak dan pengap sering dikeluhkan para siswa.
”Ruangan terlalu menumpuk dan pengap, apalagi tiga kelas digabung menjadi satu, sehingga pembelajaran jadi tidak efektif,” katanya.
Dia berharap pemerintah daerah segera memberi perhatian nyata terhadap kondisi pendidikan di desanya.
”Kami berharap pemerintah bisa membuka mata untuk memenuhi hak-hak pendidikan di wilayah ini, terutama infrastruktur sekolah seperti ruang belajar dan fasilitas pendukungnya,” tegas Natalis.
Dua ruang kelas yang kini digunakan bukan hasil pembangunan pemerintah daerah, melainkan dibangun melalui program Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus (P2DTK) pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
”Itu sekolahnya dapat dari program Presiden SBY dulu, dan selanjutnya tidak ada lagi penambahan ataupun pembangunan baru dari pemerintah daerah maupun pihak terkait,” ungkapnya. (ang/ign)
Editor : Gunawan.