Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Lestarikan Adat Budaya, Disbudpar Kotim Rencanakan Upacara Tiwah Massal di Kota Sampit

Heny Pusnita • Selasa, 28 Oktober 2025 | 17:00 WIB
DISBUDPAR KOTIM UNTUK RADAR SAMPIT RITUAL KEAGAMAAN : Upacara tiwah yang dilaksanakan di Desa Pondok Damar, Minggu (26/10).
DISBUDPAR KOTIM UNTUK RADAR SAMPIT RITUAL KEAGAMAAN : Upacara tiwah yang dilaksanakan di Desa Pondok Damar, Minggu (26/10).

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Upacara Tiwah menjadi salah satu budaya adat dayak yang masih dipercayai umat Hindu Kaharingan untuk mengantarkan arwah ke alam keabadian atau Lewu Tatau.

Ritual ini juga untuk menghormati dan mengenang jasa para leluhur dan memperkuat tali silaturahmi antar keluarga dan masyarakat.

Desa Pondok Damar, Kecamatan Mentaya Hilir Utara dengan penduduk 70 persen beragama hindu masih mempertahankan warisan budaya yang terus dijaga secara turun temurun.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim Wim Reinardt Kalawa Benung yang menyaksikan upacara tiwah di Desa Pondok Damar pada Minggu (26/10) juga mendukung ritual tiwah tersebut.

"Kami harapkan upacara tiwah ini terus dijaga kelestariannya, diadakan secara berkesinambungan dan bisa dilaksanakan di desa lain untuk mendatangkan wisatawan agar mereka lebih mengenal ritual keagamaan umat hindu kaharingan," kata Wim RK Benung.

Untuk terus menjaga kelestarian budaya suku dayak, Wim juga berencana kegiatan upacara tiwah bisa dilaksanakan secara massal di Kota Sampit.

"Kita akan koordinasi dengan majelis daerah agama hindu kaharingan agar kegiatan seperti ini bisa sinergi dengan Disbudpar,"ujarnya.

Jika memungkinkan dalam acara tiwah juga ditampilkan leluhan yang menjadi bagian dari acara tiwah dengan mengunakan kapal saling lempar bambu.

"Ritual leluhan saling lempar bambu sudah tidak pernah dilakukan di Kota Sampit. Kami berharap bisa diwujudkan di tahun 2026," ujarnya.

Kegiatan ini juga sebagai ajang promosi budaya agar dikenali dan diketahui masyarakat secara luas.

"Di masa yang akan datang, ritual tiwah ataupun budaya adat dayak lainnya tidak hanya dikenalkan ke publik tapi diharapkan bisa menghasilkan pendapatan untuk daerah," ujarnya.

Pisor Janel I Antang menjelaskan ritual tiwah bertujuan untuk mengantarkan almarhum dari alam dunia menuju alam yang lebih sempurna.

"Untuk kegiatan yang sederhana dilakukan gali tanah, nyaki matei. Setelah itu kita nyorat sandung. Dan dilanjutkan daring satu malam, pemotongan kerbau dan babi supaya mengantarkan arwah lebih sempurna," ujar Janel I Antang.

Ritual tiwah juga diawali dengan talengkang penangkapan ayam, babi, kerbau sebagai bagian dari penyempurnaan ritual.

"Setelah diantar ke sandung, setelah tabala. Mereka menuju rumah baru menemui orang tua almarhum ibu,bapak, kakek, nenek. Potong kerbau itu untuk sesajian, sebagai pengganti. Jika dimasa lalu manusia yang menjadi korban, ini sudah tidak lagi manusia yang dikorbankan," ujarnya.

Kades Pondok Damar Kenos menambahkan bahwa upacara tiwah adalah ritual yang sudah dilaksanakan secara turun temurun sesuai kemampuan keluarga.

"Kalau tidak mampu, bisa diadakan sederhana, nyorat istilahnya. Berhubung yang punya acara keluarga demang almarhmum Asbulah kita laksanakan secara daring satu malam sesuai kemampuan keluarganya," kata Kenos.

Kenos mengatakan akan tetap menjaga warisan budaya dengan mengadakan ritual tiwah secara berkala.

"Ritual tiwah akan terus kami lestarikan. Kami juga ada menerima bantuan dari dana aspirasi Anggota DPRD Bu Linda. Beliau mengarahkan agar kebudayaan hindu kaharingan di Pondok Damar agar tetap dipertahankan. Walaupun kerabat almarhum ini ada yang menganut agama berbeda, tetapi pihak keluarga tetap mempertahankan ritual tiwah untuk tetap dilaksanakan," pungkasnya. (hgn)

Editor : Slamet Harmoko
#Hindu Kaharingan #Tiwah Massal #kotim #budaya dayak adalah #tiwah