SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Sungai Mentaya di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali menjadi sorotan. Dalam kurun waktu 15 tahun terakhir, tercatat sedikitnya 54 kasus serangan buaya terhadap manusia terjadi di wilayah ini.
Data tersebut menunjukkan bahwa Sungai Mentaya dan daerah sekitarnya layak disebut sebagai “sarang maut” bagi warga yang beraktivitas di bantaran sungai.
Berdasarkan data periode 2010 hingga 2025, kasus serangan buaya paling banyak terjadi di wilayah pesisir selatan Kotim, terutama di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan dengan 15 kasus, disusul Teluk Sampit sebanyak 13 kasus, kemudian Seranau (8 kasus), Mentaya Hilir Utara (6 kasus), dan Pulau Hanaut (5 kasus).
Dari total kasus tersebut, 9 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara lebih dari 20 orang mengalami luka-luka akibat gigitan reptil buas ini. Sebagian besar korban adalah warga yang tengah beraktivitas di sungai, seperti mandi (22 kasus), mencuci pakaian (7 kasus), mencari kerang (6 kasus), serta berwudu (6 kasus).
“Terakhi serangan di Desa Camba Kecamatan Kota Besi, korban mengalami luka, itu belum masuk dalam data di atas,” jelas Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Resort Sampit Muriansyah, Selasa (28/10/2025).
Tren serangan juga sempat melonjak tajam pada tahun 2020, dengan 15 kasus dalam satu tahun angka tertinggi selama satu dekade terakhir.
Fakta ini menunjukkan bahwa konflik antara manusia dan buaya di Kotim belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Kawasan Sungai Mentaya dan anak-anak sungainya menjadi lokasi yang paling sering terjadi insiden. Jenis buaya yang teridentifikasi dalam hampir semua kasus adalah Crocodylus porosus, atau yang dikenal dengan sebutan buaya muara, spesies buaya terbesar dan paling agresif di dunia.
Muriansyah kerap menegaskan bahwa tingginya kasus konflik buaya di Kotim berkaitan erat dengan menyempitnya habitat alami akibat pembukaan lahan dan aktivitas manusia yang semakin mendekati wilayah perairan tempat buaya hidup.
“Sungai Mentaya dan sekitarnya memang menjadi habitat alami buaya muara. Mereka sangat sensitif terhadap gangguan. Ketika manusia terlalu sering beraktivitas di tepian sungai, potensi konflik meningkat,” jelasnya.
Selain faktor habitat, perilaku masyarakat yang masih sering mandi dan mencuci di sungai juga menjadi penyebab utama meningkatnya risiko serangan.
Padahal, BKSDA telah berulang kali mengimbau warga untuk tidak beraktivitas di sungai pada pagi dan sore hari, karena pada waktu tersebut buaya lebih aktif berburu mangsa.
Serangan-serangan yang terjadi di Kotim selama 15 tahun terakhir menunjukkan bahwa konflik manusia dan satwa liar ini belum bisa sepenuhnya dikendalikan. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keselamatan masih menjadi tantangan besar di tengah upaya konservasi yang dilakukan pemerintah.
BKSDA bersama pemerintah daerah terus melakukan patroli dan sosialisasi di daerah rawan serangan, sekaligus mengevakuasi buaya yang dianggap membahayakan warga.
Namun, hingga kini Sungai Mentaya tetap menyimpan ancaman tersembunyi di balik arusnya yang tenang.
“Warga perlu memahami bahwa Sungai Mentaya bukan hanya sumber kehidupan, tapi juga rumah bagi predator yang telah lama mendiami wilayah ini. Waspada dan jaga jarak saat beraktivitas di sekitar sungai,” imbau Muriansyah.
Dengan angka yang terus bertambah setiap tahun, Sungai Mentaya kini dikenal bukan hanya sebagai urat nadi kehidupan masyarakat pesisir Kotim, tetapi juga sebagai “sarang maut” yang menuntut kewaspadaan tinggi dari setiap warga yang hidup di sekitarnya. (oes)
Editor : Slamet Harmoko