PANGKALAN BUN, radarsampit.jawapos.com– Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Pangkalan Bun beberapa hari terakhir menjadi keluhan masyarakat.
Baik pengendara roda dua maupun roda empat harus rela mengantre panjang untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM), baik jenis Pertalite maupun Pertamax.
Pantauan di lapangan menunjukkan, antrean tampak mengular di empat SPBU dalam kota, sementara satu SPBU di Jalan Iskandar bahkan sering tutup.
Belum diketahui penyebabnya apakah tidak ada stok BBM atau ada persoalan lain.
Kondisi ini menimbulkan beragam spekulasi di kalangan warga.
Ada yang menduga kelangkaan disebabkan oleh ulah pelangsir atau pengetap, sementara yang lain beranggapan pasokan BBM tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang terus meningkat.
Di SPBU Jalan Diponegoro, antrean kendaraan roda empat bahkan mencapai area makam Skip, sementara kendaraan roda dua tampak berjubel silih berganti.
Hal serupa juga terlihat di SPBU Bundaran Tudung Saji dan SPBU Paku Negara yang menjadi salah satu titik paling ramai.
“Ada apa ini BBM susah didapat? Padahal kami mau beli Pertamax, bukan Pertalite. Kalau Pertalite mungkin karena subsidi, tapi sekarang Pertamax juga sulit dicari,” ujar salah seorang warga yang ikut antre, Selasa (7/10/2025).
Kondisi ini membuat masyarakat berharap ada langkah cepat dari pihak berwenang untuk menstabilkan ketersediaan BBM di wilayah Kotawaringin Barat.
Menanggapi hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat melalui Asisten II Setda Kobar, Hasan Basri, menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah melakukan koordinasi dengan pihak Pertamina untuk menindaklanjuti keluhan masyarakat.
“Kami secara regulasi memang memiliki fungsi koordinasi dalam hal distribusi BBM. Koordinasi kami sangat baik selama ini. Beberapa waktu lalu memang terjadi kendala distribusi, namun kini suplai BBM sudah tiba di Pertamina Kumai dan diharapkan akan segera berangsur normal,” ujarnya.
Sementara itu, Sales Branch Manager Kalimantan Tengah PT Pertamina Patra Niaga, Joseph Farel, menjelaskan bahwa gangguan distribusi BBM di wilayah Kobar terjadi karena beberapa faktor.
Salah satunya adalah kendala cuaca yang menghambat pengiriman BBM dari Kotabaru, Banjarmasin.
“Pengiriman seharusnya tiba pada 4 Oktober, namun tertunda karena kondisi cuaca di perairan,” jelasnya.
Farel menambahkan, tingginya permintaan (demand) BBM juga menjadi penyebab lain.
Pada momen HUT Kabupaten Kotawaringin Barat, banyak kegiatan besar digelar, termasuk konser penyanyi nasional Judika dalam Kobar Expo yang menarik ribuan pengunjung dari luar daerah.
“Biasanya masyarakat hanya mengisi BBM sekali untuk beberapa hari, namun karena banyak aktivitas tambahan, konsumsi BBM meningkat signifikan,” paparnya.
Ia mencatat biasanya dalam sehari suplai BBM menghabiskan hanya 150 KL tetapi dalam beberapa hari belakangan mencapai 200 KL.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Pertamina telah mengambil langkah cepat, antara lain alih suplai ke Integrated Terminal Sampit sejak 1 Oktober 2025.
Selain itu, kapal pengangkut 1.500 kiloliter (KL) Pertamax juga telah tiba di Fuel Terminal Pangkalan Bun dan mulai didistribusikan pada 7 Oktober 2025 siang.
Kapal kedua yang membawa 2.000 KL Pertalite dijadwalkan tiba keesokan harinya, 8 Oktober 2025.
“Kami juga menambah jam operasional Fuel Terminal Pangkalan Bun agar penyaluran ke SPBU bisa maksimal. Jadi masyarakat tidak perlu panik, pasokan BBM akan segera normal,” tutup Farel. (sam)
Editor : Slamet Harmoko