SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Pemerintah punya cara mengentaskan kemiskinan melalui jalur pendidikan yang dinamakan program Sekolah Rakyat.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 55 di Kabupaten Kotawaringin Timur mulai melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Sekolah Rakyat Terintegrasi 55 di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi salah satu Sekolah Rakyat di Indonesia yang mulai beroperasi.
Ditandai dengan dibukanya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) oleh Wakil Bupati Kotim Irawati bersama jajaran pejabat instansi terkait di Gedung Islamic Center.
Ada Sekolah Rakyat di Katingan, Palangka Raya dan hari ini Kotim yang sudah dibuka. Selanjutnya Sekolah Rakyat di Gunung Mas yang nantinya akan beroperasi di Provinsi Kalimantan Tengah," kata Irawati, Wakil Bupati Kotim, Rabu (30/9).
Keberadaan Sekolah Rakyat menjadi bagian dari upaya pemerintah mengentaskan kemiskinan melalui jalur pendidikan.
Melalui Sekolah Rakyat akan mencetak anak bangsa yang cerdas, mandiri, unggul dan berkualitas.
”Kita semua menyadari bahwa masih banyak anak-anak menggalami keterbatasan, belum sepenuhnya mendapatkan akses pendidikan yang layak. Baik karena kendala geografis, ekonomi, maupun kondisi sosial lainnya," ujar Irawati.
Karena itu, Kementerian Sosial melalui Pemkab Kotim berupaya menghadirkan sekolah rakyat sebagai solusi nyata, jembatan harapan bagi anak-anak bangsa untuk terus belajar meraih cita-cita.
”Kehadiran sekolah rakyat ini bukan sekadar menambah jumlah sekolah, namun lebih dari itu, ini adalah perwujudan dari nilai-nilai keadilan sosial yang kita junjung tinggi," ujarnya.
Sekolah rakyat adalah lembaga pendidikan yang dirancang khusus untuk menjangkau mereka yang paling membutuhkan, memberikan kesempatan kedua, bahkan kesempatan pertama, bagi anak-anak yang selama ini mungkin terpinggirkan dari sistem pendidikan formal.
”Kita ingin memastikan bahwa tidak ada satu pun anak di Kotim yang tertinggal dalam mendapatkan hak dasarnya untuk mengenyam pendidikan," ujarnya.
Dia mengajak seluruh jajaran perangkat daerah, Dinas sosial, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Badan Pusat Statistik, Camat, Lurah, para ketua rt/rw, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan dan seluruh masyarakat Kotim untuk turut serta menyukseskan program ini.
”Mari kita satukan tekad, curahkan segenap pikiran dan tenaga demi terwujudnya generasi Kotim yang cerdas, berkarakter mulia, mandiri, dan berdaya saing global," ujarnya.
Program sekolah rakyat di Kotim adalah bagian integral dari visi besar pemerintah pusat untuk pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan di seluruh indonesia.
”Saya memiliki harapan yang sangat besar agar inisiatif ini tidak hanya berjalan, tetapi benar-benar sukses dan menjadi model percontohan. Kesuksesan di Kotim akan menunjukkan bahwa dengan sinergi antara pemerintah daerah, pusat, dan seluruh elemen masyarakat, kita mampu mengatasi tantangan akses pendidikan dan memastikan tidak ada lagi anak bangsa yang tertinggal dari hak dasarnya untuk belajar dan berkembang," ujarnya.
Dia meyakini dengan kolaborasi yang kuat dari seluruh pihak, mulai dari jajaran dinas terkait, para pendamping sosial PKH, orang tua siswa, hingga seluruh masyarakat, Pemkab Kotim bisa mewujudkan harapan ini.
”Mari kita jadikan sekolah rakyat di Kotim sebagai bukti nyata komitmen kita dalam mendukung program pemerintah pusat, demi mencetak generasi penerus yang cerdas, berkarakter, dan siap menjadi agen perubahan positif," ujarnya.
Dengan semangat kebersamaan dan gotong royong, sekolah rakyat di Kotim akan menjadi mercusuar pendidikan yang mampu mencetak generasi emas di masa depan.
”Semoga segala ikhtiar kita hari ini mendapatkan ridho dari Allah, dan membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat Kotim. Mari kita jadikan pendidikan sebagai fondasi utama untuk membangun kabupaten yang lebih maju dan sejahtera," ujarnya.
Kepala Dinas Sosial Kotim Hawianan mengatakan Kementerian Sosial ditugaskan melaksanakan salah satu program Presiden RI Prabowo Subianto yaitu sekolah rakyat dengan tujuannya memberikan kesempatan pendidikan setara bagi anak-anak keluarga tidak mampu melalui Sekolah Rakyat.
Program ini mengusung sistem pendidikan berasrama gratis dan berkualitas, khusus untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.
Langkah strategis ini dipandang mampu memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan.
”Sistem asrama adalah pendekatan strategis, menyediakan fasilitas tempat tinggal bagi peserta didik dari daerah terpencil atau yang kesulitan mengakses pendidikan berkualitas. Tujuannya memberi kesempatan belajar lebih luas dan meningkatkan mutu pendidikan secara signifikan,” jelas Hawianan.
Hawianan mengatakan, lokasi Sekolah Rakyat saat ini merupakan Sekolah Rintisan 1C.
Penetapannya melalui proses panjang dan verifikasi ketat dari berbagai leading sector di tingkat kementerian pusat.
Sekolah ini telah memenuhi standar yang ditetapkan untuk memberikan layanan pendidikan berkualitas.
Rekrutmen siswa dilakukan berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Prioritas diberikan kepada calon siswa dari desil 1 dan 2, yakni kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah.
Namun, kesempatan juga dibuka bagi masyarakat di luar desil tersebut jika layak mendapatkan layanan.
”Proses verifikasi dilakukan berlapis agar bantuan pendidikan tepat sasaran. Hasilnya, ditetapkan 100 calon siswa, terdiri dari 50 siswa SD dan 50 siswa SMA, dengan kriteria utama, putus sekolah, tidak pernah sekolah, dan rentan putus sekolah," ujarnya.
Para siswa berasal dari 15 kecamatan di Kotim. Nama mereka juga sudah resmi tertuang dalam Keputusan Bupati Kotim Nomor 188.45/0318/Huk-DINSOS/2025 tentang Penetapan Peserta Didik Baru Sekolah Rakyat di Gedung Islamic Center Tahun Ajaran 2025/2026.
”Penetapan ini memastikan mereka memiliki hak penuh untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak di Sekolah Rakyat. Kehadiran sekolah ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan harapan baru bagi masa depan anak-anak,” ujar Hawianan.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 55 Kotim Nikkon Bhastari, mengatakan siswa mulai menginap di asrama pada 29 September 2025. MPLS berlangsung sejak 30 September selama 14 hari ke depan.
”Selama MPLS, siswa siswi menjalani rutinitas harian siswa dimulai sejak subuh, bangun, mandi, senam, sarapan, makan tiga kali sehari, serta mendapat snack pada pukul 10.00 dan 15.00 WIB," ujar Nikkon.
Kegiatan MPLS juga melibatkan TNI-Polri untuk pembentukan karakter, serta tim khusus untuk pencegahan bullying.
Ada pula kegiatan matrikulasi yang disesuaikan dengan kondisi siswa. Kurikulum sekolah ini menggunakan sistem plus SKS, sehingga siswa berprestasi dapat lebih cepat naik kelas.
”Ada dua siswa SD dan dua siswa SMA yang sakit, sedang dalam perawatan. Mereka tetap diprioritaskan masuk di sekolah rakyat. Saat ini pemeriksaan kesehatan gratis untuk siswa SMA juga masih berlangsung. Jika penyakit ringan, pengobatan langsung dilakukan di sekolah,” ujar Nikkon.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 55 Kotim juga sudah dilengkapi 16 guru yang siap mengajar ke Sampit mulai tanggal 26-28 September 2025.
”Masih ada kekurangan guru agama islam, kristen, hindu, sejarah, kimia, seni budaya yang masih proses perekrutan," katanya. (hgn)
Editor : Gunawan.