SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Hampir dua pekan warga Desa Hanjalipan, Kecamatan Kotabesi, Kotawaringin Timur (Kotim), hidup dikepung banjir.
Desa yang berada di bantaran Sungai Mentaya itu kembali menjadi langganan bencana. Bukan hanya akibat hujan deras, tetapi juga kiriman air dari wilayah utara Kotim.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan, sekitar 2 kilometer jalan desa terendam air setinggi 30–60 sentimeter.
Puncak banjir terjadi 17 September 2025, dengan 4 RT terdampak. ”Yang terdalam di RT 1 dan RT 4,” ujarnya, Jumat (26/9).
Kondisi sempat membaik, namun air kembali naik saat Sungai Mentaya pasang.
”Ada lima rumah yang kemasukan air. Rata-rata rumah warga berbentuk panggung cukup tinggi, jadi air tidak sampai memenuhi lantai rumah,” tambahnya.
Banjir juga memutus akses warga. Aktivitas sehari-hari hanya bisa dilakukan dengan perahu.
Untuk menuju kecamatan, warga harus memutar lewat jalan perkebunan di Desa Jemaras dengan waktu tempuh hingga tiga jam.
Sekolah juga terdampak. SDN 1 Hanjalipan terendam air sehingga aktivitas belajar terganggu.
”Kondisi ini sudah kami laporkan ke Disdik. Mungkin akan ada pembelajaran alternatif agar kegiatan belajar tetap berjalan,” kata Multazam.
Beruntung, Puskesmas Pembantu (Pustu) setempat masih aman karena bangunan bertiang panggung.
Meski begitu, tenaga kesehatan tetap diminta bersiaga mengantisipasi penyakit akibat banjir.
Masalah lain yang rawan adalah listrik.
”Sekarang sudah pakai PLN. Kami sudah melaporkan ke PLN agar memberi edukasi warga supaya tetap aman beraktivitas di genangan banjir,” ucapnya.
Wakil Bupati Kotim Irawati yang ikut meninjau lokasi meminta warga meningkatkan kewaspadaan.
”Kami ingatkan kades, dari laporan BMKG potensi hujan akan meningkat pada dasarian 1 Oktober. Ini perlu diwaspadai, khususnya di Desa Hanjalipan yang sangat rawan banjir,” tegasnya.
Sebelumnya, sejumlah kecamatan di utara Kotim seperti Tualan Hulu, Antang Kalang, Telaga Antang, Bukit Santuai, dan Parenggean juga terendam. Namun, genangan hanya berlangsung singkat, 12 jam hingga 3 hari.
Sementara itu, jembatan di Desa Beringin Agung, Kecamatan Telaga Antang, yang sempat putus karena banjir, kini sudah diperbaiki Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat, dan Kawasan Permukiman (DSDABMBKPRKP) Kotim.
”Jembatan sudah fungsional, bisa dilalui kendaraan roda dua, tiga, hingga enam. Akses ke Desa Tanjung Harapan kembali lancar,” kata Multazam. (hgn/ign)
Editor : Gunawan.