SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, terus mengoptimalkan pembentukan bank sampah sebagai upaya mengurangi timbunan sampah.
Selain menjaga kebersihan lingkungan, program ini juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim, Marjuki, mengatakan bahwa setiap desa dan kelurahan didorong memiliki tempat pengolahan sampah berbasis prinsip reduce, reuse, recycle (TPS 3R) serta minimal satu unit bank sampah.
“Semuanya bisa dimulai dari rumah tangga, yakni dengan membiasakan memilah sampah sejak awal,” ujarnya, Jumat (13/9).
Saat ini, produksi sampah rumah tangga di Kotim mencapai sekitar 245,5 ton per hari. Sekitar 98,5 ton di antaranya berasal dari kawasan perkotaan Sampit, khususnya Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang.
Untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), pemerintah telah membangun tujuh depo sampah dan satu TPS 3R di kawasan tersebut.
Marjuki menambahkan, keberadaan bank sampah diyakini menjadi solusi pengelolaan sampah berkelanjutan. Sampah bernilai ekonomi seperti botol plastik dan kertas dapat ditukar atau ditabung oleh masyarakat. “Sampah yang tadinya dianggap tidak berguna bisa menjadi sumber penghasilan,” tegasnya.
Saat ini, satu bank sampah telah beroperasi di Jalan Pangeran Antasari, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, di bawah binaan DLH Kotim. Bank sampah tersebut mengadopsi konsep pengelolaan berbasis partisipasi masyarakat.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Kotim, Yayat Hidayat, mengungkapkan bahwa bank sampah swasta bernama Bank Sampah Lestari Alamku telah beroperasi selama tiga bulan dan mendapat respons positif.
“Ibu-ibu rumah tangga mulai banyak yang menjadi nasabah. Sampah yang dikumpulkan bahkan sudah dipasarkan hingga ke Banjarmasin,” ujarnya.
Sebelumnya, DLH juga pernah mengelola bank sampah di kawasan Perumahan Tidar sejak 2013. Namun, kegiatan operasionalnya terhenti dalam beberapa tahun terakhir.
Yayat menyebut pihaknya berencana mengaktifkan kembali bank sampah tersebut dengan menggandeng Karang Taruna dan memperbaiki peralatan yang rusak.
Menariknya, Bank Sampah Lestari Alamku menerapkan tiga sistem: sedekah, barter, dan tabungan. Pengelola, Yusuf Nuril, menjelaskan bahwa warga dapat menyumbangkan sampah nonorganik sebagai sedekah, menukarnya dengan kebutuhan pokok, atau menabung dalam bentuk uang.
Selain mengurangi beban sampah, data dari bank sampah juga bermanfaat untuk evaluasi pengelolaan sampah daerah, mendukung penilaian Adipura, dan mendorong sekolah-sekolah mendirikan bank sampah di lingkungan masing-masing. (yn/yit)
Editor : Heru Prayitno