SAMPIT, radarsampit.jawapos.com - Gencarnya pemerintah memasarkan penjualan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tak mempengaruhi kestabilan harga beras di pasaran. Sebagian merk beras pabrikan dan beras lokal tetap mengalami kenaikan.
Pantauan Radar Sampit, harga beras merek kura-kura dan Anggur Hijau dijual seharga Rp 90.000 per kemasan 5 kg atau mengalami kenaikan Rp 15.000, beras Anak Ayam dijual Rp 87.000 per 5 kg, beras Lahap dijual Rp 82.000 per 5 kg. Beras ini juga mengalami kenaikan Rp 10.000-15.000.
Sedangkan beras petani lokal seperti beras Mayang Anyar dijual Rp 20.000 dan beras Epang Kuala dijual seharga Rp 17.000 per kg. Rata-rata beras lokal mengalami kenaikan Rp 2.000.
"Beras karung buatan pabrik sudah naik sejak Januari, Juni naik lagi. Kalau beras lokal sudah setengah bulan ini naiknya," ujar Muhammad Pedagang Beras di Jalan Ir Juanda, Sampit, Sabtu (6/9).
Muhammad mengatakan, program beras SPHP yang dilaksanakan pemerintah tidak mempengaruhi kestabilan harga beras di pasaran. Namun, dengan adanya beras SPHP yang dijual terjangkau seharga Rp 60.000 per 5 kg cukup mempengaruhi penurunan omzet pendapatan hingga 25 persen.
"Beras SPHP memang sangat membantu masyarakat karena disubsidi pemerintah dengan harga terjangkau. Menjaga ketersediaan beras itu benar, tetapi belum bisa menstabilkan harga dipasaran. Beras pabrikan dari Jawa tetap saja naik, beras petani lokal juga ikut-ikutan naik," ujar Muhammad.
Muhammad berharap pemerintah bantu mengatasi kestabilan harga beras di pasaran, bukan hanya menyediakan beras SPHP dengan harga murah.
"Membantu menyediakan beras SPHP itu memang solusi yang baik. Tapi, tidak semua masyarakat mengonsumsi beras SPHP, semua masyarakat punya seleranya masing-masing. Kalau boleh menyarankan, lebih baik pemerintah memikirkan bagaimana harga beras dari berbagai merek yang ada di pasaran ini kembali stabil, sehingga masyarakat tetap punya pilihan dan pedagang juga merasakan dampak positifnya," tandasnya. (hgn/yit)
Editor : Heru Prayitno