SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Keluhan warga Kecamatan Mentaya Hilir Selatan soal air PDAM yang sering mati ternyata bukan kasus baru. Hampir setiap bulan, masyarakat dipusingkan aliran air yang tersendat hingga berminggu-minggu.
Di kawasan Bagandung, Kelurahan Samuda Kota, masalah ini bahkan sudah jadi langganan.
“Kalau ada kerusakan, di daerah lain paling lama dua atau tiga hari sudah mengalir lagi. Tapi di Bagandung bisa sampai lima atau enam hari. Padahal jaraknya cuma satu kilometer dari pasar Samuda,” keluh Kim, warga setempat, Rabu (3/9/2025).
Menurut PDAM Samuda, akar masalah utama ada pada kapasitas mesin pompa yang masih kecil. Mesin di Bagendang dan Desa Rambang tidak sanggup mendorong air ke semua jalur pipa. Alhasil, wilayah pesisir Samuda selalu tertinggal mendapat aliran.
Situasi kian runyam setelah pemerintah meminta PDAM juga menyalurkan air ke penampungan di Desa Seijum Raya. Dengan mesin terbatas, aliran ke Samuda otomatis makin berkurang.
“Sudah diajukan untuk penambahan mesin, tapi belum terealisasi. Jadi masyarakat taunya air mati, komplainnya ke kami,” jelas Budi, pimpinan PDAM Samuda.
Masalah lain yang memperparah adalah pasokan listrik tidak stabil di Bagendang maupun Ramban, Kecamatan Mentaya Hilir Utara. Begitu tegangan turun, mesin pompa melemah dan distribusi air kembali kacau, meski baru saja normal.
“Begitu mau lancar, tiba-tiba listrik drop, mesin terganggu. Distribusi yang mestinya lancar jadi terhambat lagi,” ujarnya.
Pelaksana Tugas Direktur Perumdam Tirta Mentaya Edy Dyufriadi, menyebut gangguan terakhir dipicu pecahnya sambungan Gibold Joint pada pipa berdiameter 16 inci di Jalan HM Arsyad Kilometer 30. Perbaikan sudah dilakukan sejak Selasa (26/8/2025), namun distribusi masih belum normal karena tekanan belum merata.
“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini dan berterima kasih atas pengertian warga,” kata Edy.
Masyarakat berharap akar masalah benar-benar dituntaskan. Mulai dari penambahan kapasitas mesin, perbaikan jaringan pipa, hingga jaminan listrik stabil di wilayah hulu.
“Air bersih itu kebutuhan dasar. Jangan sampai kepercayaan masyarakat ikut mengering bersama air yang tidak pernah mengalir,” tegas Mutakim. (oes)
Editor : Slamet Harmoko