SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Penutupan total Jembatan Sei Lenggana di Jalan Jenderal Sudirman Km 21, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), sejak Senin (28/7/2025) pagi membuat arus lalu lintas dialihkan ke jembatan darurat.
Namun, kebijakan ini justru menimbulkan keluhan dari pengguna jalan karena harus mengantre berjam-jam akibat sistem buka tutup.
“Aduh, antre-nya lama banget. Nasib-nasib. Kami bisa terjebak berjam-jam di sini. Jalurnya sempit, cuma bisa satu arah, makanya antre panjang,” keluh salah seorang sopir travel, Adhariafi Aan, Selasa (29/7/2025).
Hal senada juga dikeluhkan Firin, pengguna jalan lainnya.
Menurutnya, pihak kontraktor seharusnya lebih matang dalam menghitung dampak penutupan jembatan utama, mengingat jalur tersebut merupakan poros utama lalu lintas di Kalimantan Tengah.
“Ini jalur utama, lalu lintasnya padat. Mestinya dibuat perhitungan yang lebih baik, jangan sampai pengguna jalan yang jadi korban,” tambah Firin.
Ungkapan tak jauh beda juga diutarakan Mulyono, sopir travel antar kota ini. Menurutnya hari ini dia harus antre 3 jam agar bisa melintas di jalur alternatif.
"Jembatan alternatif hanya untuk satu jalur, akhirnya saya antre sekitar 3 jam hingga akhirnya bisa melintas," ujarnya.
Pantauan di lapangan, antrean kendaraan, khususnya mobil pribadi dan angkutan umum, tampak mengular hingga beberapa kilometer.
Kendaraan berat seperti truk dan bus juga menambah kepadatan, meski petugas berusaha mengatur sistem buka tutup agar arus tetap berjalan.
Sementara itu, di tengah keluhan tersebut, sempat beredar video di media sosial yang menyebut jembatan alternatif Sei Lenggana ambruk akibat desakan kendaraan. Namun, kabar itu dipastikan tidak benar alias hoaks.
“Tidak benar jembatan ambruk. Itu hoaks. Memang ada getaran saat kendaraan melintas, tapi itu wajar. Petugas kami terus berjaga dan mengatur lalu lintas agar tetap lancar dan aman,” kata Kasatlantas Polres Kotim AKP Hariyanto.
Hariyanto menjelaskan, jembatan darurat Sei Lenggana saat ini masih dalam masa uji coba. Pihak kepolisian bersama dinas terkait terus memantau struktur dan kelayakan jembatan darurat yang memiliki kapasitas maksimal 8 ton tersebut.
“Kami minta pengguna jalan tetap waspada dan mematuhi batas kecepatan, terutama kendaraan berat. Jangan melebihi batas muatan demi keselamatan bersama,” imbaunya.
Diketahui, jembatan utama Sei Lenggana ditutup total untuk tahap pembongkaran dan pembangunan ulang.
Sebagai pengganti, digunakan jembatan darurat yang hanya bisa dilintasi satu jalur sehingga menyebabkan antrean panjang. (*)
Editor : Slamet Harmoko