SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resor Sampit belum menerima banyak laporan terkait kemunculan atau gangguan satwa liar di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur, hingga awal Juli 2025.
Padahal, berdasarkan data tahun-tahun sebelumnya, situasi ini bisa berubah drastis begitu musim kemarau mulai terasa.
Kepala BKSDA Resor Sampit Muriansyah, menyebutkan bahwa kemunculan satwa liar seperti orangutan dan beruang madu biasanya meningkat saat musim kemarau tiba.
Mereka kerap keluar dari habitat alaminya di hutan atau semak belukar untuk mencari sumber makanan.
“Biasanya, kalau sudah musim kemarau, laporan gangguan satwa liar mulai meningkat. Satwa seperti orangutan dan beruang madu mulai bergeser ke ladang, kebun, bahkan mendekati permukiman warga,” jelas Muriansyah, Sabtu (5/7/2025).
Fenomena ini terjadi karena saat kemarau, sumber makanan di dalam hutan mulai menipis. Selain itu, satwa liar juga cenderung menjauhi wilayah hutan yang terdampak kebakaran atau dipenuhi asap.
Namun sejauh ini, laporan gangguan satwa liar masih minim. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kondisi cuaca yang masih cukup basah, sehingga satwa belum terdorong untuk keluar dari habitatnya.
Meski situasi masih relatif aman, BKSDA mengingatkan bahwa potensi konflik manusia dengan satwa liar bisa muncul secara tiba-tiba, terutama jika cuaca berubah drastis dalam waktu singkat.
“Ancaman bisa muncul kapan saja. Karena itu kami mengimbau masyarakat tetap waspada dan segera melapor jika melihat satwa liar di luar habitatnya,” tegas Muriansyah.
BKSDA Resor Sampit juga mengingatkan agar masyarakat tidak melakukan tindakan membahayakan terhadap satwa liar.
Sebagian besar satwa tersebut merupakan hewan dilindungi dan hanya keluar dari hutan karena terdorong kondisi alam. (oes)
Editor : Slamet Harmoko