radarsampit.jawapos.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sepertinya dilanda kegalauan. Usai mengeluarkan pertanyaan agar warga sipil di Teheran dipindahkan yang mengindikasikan adanya perang besar, empat hari setelahnya, Trump justru seolah memberi waktu Iran untuk bersiap.
Trump memberi waktu Iran dua minggu untuk menghindari kemungkinan serangan udara AS. Dilansir AFP, Sabtu (21/6), Trump mengatakan, masih ingin melihat apakah orang-orang masih menggunakan akal. Namun, batas waktu tersebut merupakan batas maksimal.
Sehingga, Trump dapat dimungkinkan mengambil keputusan sebelum batas waktu tersebut berakhir. "Saya memberikan mereka waktu, dan saya mengatakan dua minggu akan menjadi waktu maksimum," ujarnya, Jumat (20/6), usai ditanya apakah dirinya dapat mengambil keputusan menyerang Iran sebelum batas waktu yang ditetapkan.
Selain itu, dia menegaskan, dirinya kemungkinan tidak akan menghentikan Israel untuk menyerang Iran. Sebab saat ini, sekutunya itu berada dalam posisi menang.
Dia pun sepertinya enggan menanggapi upaya Eropa untuk melakukan mediasi demi mengakhiri konflik yang terjadi. Sementara itu, pada Kamis (19/6), dalam pernyataan resmi yang dirilis Gedung Putih, Presiden AS itu mengungkapkan alasan pemberian waktu dua minggu ke depan untuk memutuskan pihaknya akan cawe-cawe atau tidak dalam perang Israel-Iran ini.
Sebelumnya melalui media sosial, Trump mengunggah pesan: "Kami sekarang memiliki kendali penuh dan absolut atas langit Iran".
"Iran memiliki pelacak udara yang bagus dan peralatan pertahanan lainnya, dan jumlahnya banyak. Tetapi tidak sebanding dengan apa yang dibuat, dirancang, dan diproduksi di Amerika Serikat. Tidak ada yang melakukannya lebih baik daripada Amerika Serikat."
Dalam pesan lainnya, Trump menulis: "Kami tahu persis di mana sosok yang disebut 'Pemimpin Tertinggi' bersembunyi." "Ia adalah target yang mudah, tetapi aman di sana - Kami tidak akan menghabisinya (membunuhnya!), setidaknya untuk saat ini." D
Dalam pesan ketiga, Trump menulis: "MENYERAH TANPA SYARAT!"Pesan-pesan Trump tersebut, yang ditulis dalam bentuk orang pertama jamak, tampaknya menunjukkan sikap berbeda.
Dia menyebut, dalam rentang waktu itu, akan ada peluang besar untuk berunding dengan Iran. Pernyataan tersebut kemudian dipandang secara luas sebagai kemungkinan adanya jeda dua pekan untuk negosiasi.
Negara-negara Eropa pun langsung bergegas melakukan pembicaraan dengan Teheran terkait kemungkinan tersebut. Akan tetapi, harapan jeda perang itu sepertinya minim terjadi.
Terbaru, Trump justru menolak pembicaraan yang digelar negara-negara Eropa, seperti Inggris, Prancis, Jerman dan Uni Eropa dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi, di Jenewa, Swiss, pada Jumat (20/6). "Mereka (Eropa, red) tidak membantu. Iran tidak ingin berbicara dengan Eropa. Mereka ingin berbicara dengan kita. Eropa tidak akan dapat membantu dalam hal ini," ungkapnya.
Sementara itu, Araghchi, setelah pembicaraan di Jenewa, juga menegaskan posisi Iran. Menurutnya, Iran tidak akan melanjutkan perundingan dengan AS sebelum Israel menghentikan serangannya. Atas tuntutan tersebut, Trump menyebut hal itu sulit dipenuhi.
Dia mengibaratkan, sekutunya kini dalam posisi menang sehingga akan sulit diminta berhenti. "Tetapi kami siap, bersedia, dan mampu, dan kami telah berbicara dengan Iran, dan kita akan melihat apa yang akan terjadi," ujarnya.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pun telah menolak tegas ultimatum Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mendesak Iran menyerah tanpa syarat di tengah konflik bersenjata dengan Israel. Dalam pernyataan melalui siaran televisi nasional, Rabu 18 Juni 2025, Khamenei menyatakan Iran tidak akan tunduk pada tekanan militer atau ancaman AS.
“Orang-orang cerdas yang mengenal Iran, bangsa Iran, dan sejarahnya tidak akan pernah berbicara kepada bangsa ini dengan bahasa yang mengancam karena bangsa Iran tidak akan menyerah,” ujar Khamenei seperti dikutip Reuters.
Terpisah, meski hingga kini Iran belum menyampaikan permintaan bantuan, namun sekutunya, Rusia telah berulang kali melakukan pembelaan. Terbaru, Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah wawancara pada hari Sabtu (21/6), seperti dikutip dari Reuters dan Sky News Arabia, menyebut Iran tidak sedang merancang senjata nuklir seperti tudingan Israel.
Rusia telah berulang kali memberi tahu Israel bahwa tidak ada bukti atas tuduhan tersebut. "Rusia, dan juga IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional), tidak pernah memiliki bukti bahwa Iran sedang mempersiapkan diri untuk memperoleh senjata nuklir, sebagaimana yang telah berulang kali kami sampaikan kepada pimpinan Israel," tulis Sky News Arabia mengutip pernyataan Putin.
Dalam wawancara tersebut, Putin juga menegaskan, bahwa Rusia siap mendukung Iran dalam mengembangkan program nuklir untuk tujuan damai. Yang mana, Iran memiliki hak untuk melakukan penelitian tersebut.
Sebelumnya, dalam forum ekonomi di St. Petersburg pada Jumat, Putin mengatakan, pihaknya telah berbagi ide tentang cara menghentikan pertumpahan darah dalam konflik Iran-Israel dengan kedua belah pihak. Namun, dia tidak merinci tentang ide-ide tersebut.(zal/es/jpc/gus)
Editor : Agus Jaka Purnama