Radarsampit.jawapos.com - Ancaman terhadap investasi di Indonesia kembali terjadi. Sekelompok ormas disebut melakukan aksi premanisme karena mengganggu proses pembangunan pabrik BYD di Subang, Jawa Barat.
Kejadian ini berpotensi makin membuat buruk citra Indonesia di mata internasional terkait maraknya gangguan terhadap investasi.
Hal ini sempat menjadi sorotan Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno saat memenuhi undangan Pemerintah China dalam rangkaian kunjungan di Shenzhen, China.
“Sempat ada permasalahan terkait premanisme, ormas, yang mengganggu pembangunan sarana produksi BYD. Saya kira pemerintah harus tegas untuk kemudian menangani permasalahan ini,” ujarnya.
Eddy meminta agar pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap masalah ini karena dapat merugikan berbagai pihak yang bersangkutan.
“Itu jaminan keamanan adalah hal yang paling mendasar bagi investasi untuk masuk ke Indonesia,” lanjutnya.
Jika terus dibiarkan, dikhawatirkan para investor asing tidak nyaman dengan situasi ini sehingga menarik kembali investasinya karena merasa tidak ada jaminan keamanan.
“Jangan sampai investor datang ke Indonesia dan merasa tidak mendapat jaminan keamanan,” kata Eddy.
Menanggapi hal ini Kementrian Investasi dan Hilirisasi menyatakan akan menindaklanjuti kasus tersebut dengan tegas.
Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi (BKPM), Nurul Ichwan, menyampaikan akan melakukan komunikasi dengan pihak manajemen BYD untuk informasi yang lebih akurat.
Pemerintah berencana akan akan mengerahkan Satgas (Satuan Tugas) Premanisme jika kasus ini terbukti benar adanya.
Meskipun sedikit ada kendala karena kasus ini, proses pembangunan pabrik BYD di Subang terbilang lancar dan sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Direncanakan proses pembangunan pabrik ini akan diselesaikan pada akhir tahun 2025. Produksi dijadwalkan mulai awal 2026 dengan kapasitas 150.000 unit kendaraan listrik (EV) per tahun.
Pabrik BYD ini dibangun di atas lahan seluas 126 hektare dengan investasi belasan triliun rupiah. Proyek ini akan menjadikan Indonesia memiliki pabrik otomotif terbesar se Asia Tenggara, menggeser Thailand. (*/jpg)
Editor : Slamet Harmoko