Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Warga Khawatir Ada Lonjakan Kelahiran Buaya di Sungai Mentaya

Agus Jaka Purnama • Senin, 14 April 2025 | 07:00 WIB
Warga Pulau Hanaut dan sejumlah petugas saat mencari satu korban terkaman buaya, yang akhirnya ditemukan tak bernyawa, Sabtu (5/4).
Warga Pulau Hanaut dan sejumlah petugas saat mencari satu korban terkaman buaya, yang akhirnya ditemukan tak bernyawa, Sabtu (5/4).

SAMPIT,radarsampit.jawapos.com - Teror keberadaan Buaya bakal terus menghantui masyarakat di pesisir Sungai Mentaya, khususnya di wilayah Kecamatan Mentawa Hilir Utara, Mentaya Hilir Utara dan dan Kecamatan Pulau Hanaut, yang baru-baru tadi didapati korban keganasan buaya.

Warga setempat bahkan memperkirakan jumlah habitat buaya di sungai tersebut saat ini semakin bertambah banyak, sehingga dinilai sangat mengancam manusia ketika beraktivitas di sungai.

Ono (70), salah satu warga Desa Bapinang Hilir Kecamatan Pulau Hanaut, saat dibincangi radar sampit baru-baru tadi mengungkapkan, bahwa durasi kemunculan buaya di wilayah itu terasa semakin sering dalam setahun terakhir.

“Bahkan sering ada di bawah dermaga rumah warga, menunggu disitu. Warga di sini biasanya sudah tahu kalau hewan itu muncul, karena bau amisnya yang menyengat,” ungkapnya.

Selain itu lanjutnya, saat ini sudah sangat jarang ada warga yang mau mandi langsung ke sungai maupun mengambil air dengan cara manual, lantaran ketakutan dengan buaya.

Ono pun menilai, buaya-buaya yang ada di perairan sekitar Kecamatan Pulau Hanaut itu, sudah semakin berkembang biak. Lantaran tak jarang warga juga mendapati sekumpulan anak buaya terlihat berenang diperairan.

Pihaknya pun berharap, pemerintah segera mengambil tindakan untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat, khususnya ketika beraktivitas di sungai di Kecamatan Pulau Hanaut.

“Kami mengerti buaya hewan dilindungi, jadi kami pun tidak berani mengambil tindakan sendiri untuk mengatasi keganasan buaya.  Ingin kami pancing atau jebak, takut kalau hewan itu mati, dan kami kena sanksi,” timpal Edi, salah satu warga lainnya.

Sementara itu, sejauh ini wacana Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) untuk menjadikan Pulau Hanibung yang berlokasi di Desa Camba, Kecamatan Kotabesi, sebagai tempat penangkaran buaya, belum ada tanda-tanda akan terwujud.

Sebelumnya pada tahun 2024 lalu, Pemkab Kotim telah melaksanakan pertemuan dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Pangkalanbun, Kalteng di Bapperida Kotim untuk membahas rencana titik survey sekaligus pembentukan Tim Survey ke Pulau Hanibung.

Tim sudah terbentuk melibatkan 7 orang dari BKSDA Kalteng dan enam orang masyarakat Desa Camba. Selanjutnya, survey sosial, ekonomi dan keanekaragaman hayati di Pulau Hanibung telah dijadwalkan selama empat hari mulai 27-30 Mei 2024.

Baca Juga: Misterius! Kakek Darmin yang Hilang Dekat Pulau Buaya Belum Ketemu

Sebelum dilaksanakan survey, digelar sosialisasi mengumpulkan puluhan tokoh masyarakat, tokoh adat dan pemuda untuk menyampaikan terkait rencana Pulau Hanibung yang akan dijadikan wisata taman satwa, khususnya buaya.

Rencananya, dalam pengelolaannya ke depan, Pemkab Kotim memastikan akan melibatkan masyarakat Desa Camba dalam hal pengembangan wisata.(gus)

 

Editor : Agus Jaka Purnama
#sungai mentaya #Pulau Hanaut #masyarakat #kecamatan #Aktivitas #bksda #buaya #penangkaran #Mentaya Hilir Utara #mentaya hilir selatan #sampit #korban #Desa Bapinang #kotawaringin timur #kalteng #warga