SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Produksi sektor usaha perkebunan karet di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah terus mengalami penurunan.
Kondisi demikian disebabkan masyarakat banyak membuang kebun karet dan menggantinya menjadi kelapa sawit.
Salah satu tokoh masyarakat di Desa Terantang, Kecamatan Seranau, Abdul Kadir mengatakan, perubahan terhadap kebun karet dikarenakan harganya sudah tidak lagi mencukupi kebutuhan hidup petani.
”Masalahnya harganya sudah tidak seimbang dengan harga bahan pokok saat ini. Harga satu kilo karet hanya Rp10 ribu, sementara harga beras sudah di angka Rp14 ribu,“ kata dia, kemarin.
Selain itu, lanjutnya, persolan karet harus setiap hari dilakukan panen dan menguras banyak waktu dan tenaga untuk mendapatkannya.
Adapun pada usaha kelapa sawit, hanya dalam periode dua minggu sudah merasakan panen.
Kadir menyarankan ada langkah preventif dari pemerintah untuk tetap bisa mempertahankan produksi karet di Kotim. Salah satunya melalui program bantuan kepada petani karet tersebut.
”Ke depannya kita tidak tahu lagi masa depan karet ini, apakah harga terus membaik atau justru stagnan. Tapi saya menyarankan kalau bisa lahan karet ini jangan dibuang dulu,” katanya.
Menurutnya, persolan beralihnya warga ke sektor kelapa sawit mengancam pasokan karet dalam negeri.
Selama ini Kotim merupakan daerah penghasil. Akan tetapi, untuk menjaga stabilitas harga tidak sesuai dengan harapan petani.
Sejauh ini pengepul karet warga memilih menjual ke luar daerah, di antaranya Palangka Raya hingga Banjarmasin.
Pabrik lokal sudah mulai meredup. PT Sampit merupakan perusahaan yang selama ini menerima hasil panen karet dari petani yang memproduksi lembaran karet siap ekspor tersebut.
Di satu sisi, Pemkab Kotim berharap pabrik karet PT Sampit International bisa beroperasi kembali dengan menyelesaikan masalah internal mereka.
”PT Sampit adalah perusahaan yang ada sudah cukup lama. Kami selaku pemerintah daerah dan juga orang Sampit, kalau bisa perusahaan ini tetap beroperasi," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kotawaringin Timur, Johny Tangkere.
PT Sampit International didirikan pada 25 Januari 1955. Konon, pabrik karet yang berlokasi di pinggir Sungai Mentaya Kecamatan Mentawa Baru Ketapang ini sudah lebih dulu berdiri dibanding permukiman warga yang kemudian cukup padat bermunculan di sekitar pabrik.
Perusahaan yang seakan sudah menjadi salah satu ikon Kota Sampit ini beberapa kali menjadi perhatian lantaran masalah keterlambatan gaji.
Belum lama ini, masalah terus membelit perusahaan itu yang dibayang-bayangi dengan masa suramnya. (ang/ign)
Editor : Slamet Harmoko