Radarsampit.jawapos.com - Ketupat dan opor ayam. Satu set makanan yang selalu hadir dan menjadi primadona saat Hari Raya Idul Fitri.
Namun, tahukah Anda bahwa di balik kelezatannya, ketupat dan opor ayam menyimpan makna filosofis yang mendalam?
Ketupat, atau dalam bahasa Jawa disebut kupat , memiliki makna ganda: Ngaku Lepat (mengakui kesalahan) dan Laku Papat (empat tindakan).
Ngaku Lepat mengajarkan kita untuk mengakui kesalahan, sementara Laku Papat merujuk pada empat tindakan saat Lebaran: lebaran (berakhirnya puasa), luberan (bersedekah), leburan (melebur dosa), dan laburan (menjaga kesucian hati).
Bentuk ketupat yang segi empat juga melambangkan empat arah mata angin dengan satu pusat, menggambarkan keseimbangan alam dan kehidupan. Tak hanya itu, anyaman ketupat yang rumit mencerminkan kompleksitas kesalahan manusia.
Saat dibuka, nasi putih di dalamnya melambangkan hati yang bersih setelah memohon ampun.
Filosofi ini diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-15 sebagai bagian dari dakwah Islam di Jawa.
Sunan Kalijaga menggunakan budaya lokal, termasuk ketupat, untuk menyebarkan ajaran Islam dengan cara yang mudah diterima masyarakat.
Lalu, bagaimana dengan opor ayam?
Opor, yang terbuat dari santan ( santen ), memiliki bunyi mirip dengan pangapunten (permintaan maaf).
Santan dalam opor melambangkan permintaan maaf yang tulus.
Kombinasi ketupat dan opor ayam menjadi simbol permintaan maaf dan niat untuk memperbaiki diri dengan hati yang suci.
Tradisi ini juga erat kaitannya dengan sungkeman , di mana anak-anak bersimpuh di hadapan orang tua untuk memohon maaf.
Prosesi ini mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, rendah hati, dan memohon keikhlasan.
Sungkeman menjadi momen yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan, mengingatkan kita untuk selalu menjaga hubungan baik dengan keluarga dan sesama.
Selain itu, ketupat dan opor ayam juga melambangkan kebersamaan dan kehangatan keluarga.
Saat Lebaran, keluarga berkumpul untuk menikmati hidangan ini bersama, menciptakan momen kebersamaan yang penuh makna.
Jadi, saat menyantap ketupat dan opor ayam di Hari Raya, kita tidak hanya menikmati kelezatannya, tetapi juga merenungkan makna di baliknya.
Kedua hidangan ini mengingatkan kita untuk selalu meminta maaf, memaafkan, dan menjaga kesucian hati. (sai/jpg)
Editor : Slamet Harmoko