Radar Utama Kalteng Metropolis Si Ongol Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Sengkarut Jalan Lingkar Selatan Sampit, Perbaikan Urat Nadi Ekonomi Kini Tinggal Kenangan Akibat Efisiensi Anggaran

Radar Sampit • Rabu, 2 April 2025 | 08:00 WIB

 

TINJAU JALAN: Gubernur Kalteng Sugianto Sabran didampingi Kapolda Kalteng dan Danrem 102/Panju Panjung, serta Bupati dan Wabup Kotim saat meninjau perbaikan jalan lingkar selatan Sampit, Sabtu (29/3).
TINJAU JALAN: Gubernur Kalteng Sugianto Sabran didampingi Kapolda Kalteng dan Danrem 102/Panju Panjung, serta Bupati dan Wabup Kotim saat meninjau perbaikan jalan lingkar selatan Sampit, Sabtu (29/3).

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah berdampak pada proyek infrastruktur, termasuk di Sampit. Ruas jalan lingkar selatan yang sejatinya perlu penanganan mendesak, dipangkas besar-besaran.

Kotim akan terus dihadapkan pada masalah menahun yang tak kunjung beres; jalan rusak dan truk masuk kota.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalteng Shalahuddin saat mendampingi kunjungan kerja Gubernur Kalteng Agustiar Sabran Sabtu (29/3) lalu mengatakan, anggaran perbaikan jalan lingkar selatan mengalami pemangkasan signifikan.

Dari semula Rp30 miliar, kini hanya tersedia Rp3,5 miliar. Pemangkasan ini merupakan bagian dari kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan oleh pemerintah pusat hingga daerah.

”Perbaikan jalan lingkar selatan yang semula direncanakan dengan anggaran Rp30 miliar kini hanya tersisa Rp3,5 miliar. Ini merupakan bagian dari kebijakan efisiensi anggaran yang terjadi secara nasional,” ungkapnya Sabtu, (29/3).

Ia menambahkan, kemungkinan adanya tambahan anggaran masih terbuka dalam pembahasan anggaran perubahan setelah Idulfitri.

Namun, untuk saat ini, prioritas utama adalah mempertahankan fungsi jalan agar tetap dapat digunakan oleh masyarakat. Panjang ruas jalan tersebut 7,3 kilometer dan 1,7 kilometer di antaranya belum selesai diperbaiki.

Dalam beberapa tahun terakhir pihaknya mengupayakan peningkatan jalan lingkar selatan dengan harapan bisa memperlancar arus lalu lintas di Kotim. Mengingat jalan itu merupakan jalur utama bagi kendaraan berat atau angkutan.

Selain jalan lingkar selatan, beberapa proyek jalan lainnya juga terkena dampak efisiensi anggaran, seperti perbaikan Jalan HM Arsyad yang menghubungkan Sampit-Samuda hingga Ujung Pandaran di Kecamatan Teluk Sampit, serta akses dari Pelantaran-Parenggean ke Tumbang Sangai.

”Dengan kondisi anggaran saat ini, target kami bukan menyelesaikan perbaikan secara menyeluruh, tetapi memastikan bahwa jalan-jalan ini tetap bisa difungsikan dengan baik,” jelas Shalahuddin.

Catatan Radar Sampit, jalan lingkar selatan Kota Sampit merupakan ruas strategis yang menjadi urat nadi perekonomian. Jalur itu dikhususkan bagi kendaraan angkutan berat perusahaan yang bebannya melebih tonase jalan umum agar tak melintasi jalanan dalam Kota Sampit.

Kendati menjadi ruas strategis, jalan yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah itu belum juga beres hingga pergantian kepemimpinan tahun 2025.

Selama beberapa tahun belakangan, jalan tersebut berkutat pada kerusakan yang tak berkesudahan. Jadi keluhan para sopir, terutama saat musim hujan.

Tak ingin mengambil risiko, para sopir ramai-ramai melintasi jalanan dalam Kota Sampit yang dinilai lebih aman dan nyaman. Alhasil, jalanan kota yang sempit dengan kualitas yang tak diperuntukkan bagi angkutan berat, harus menanggung beban berlebihan.

 

Jadi Sorotan Tahunan

Kisah-kisah kerusakan jalan kota yang dikaitkan dengan seringnya lintasan angkutan berat, nyaris selalu mengemuka setiap tahun. Wakil rakyat di DPRD Kotim silih berganti menyoroti kondisi tersebut dan mendesak pemerintah untuk bertanggung jawab.

Bima Santoso, anggota Komisi IV DPRD Kotim periode 2019-2024, pada Agustus 2022 lalu pernah mengatakan, belum jelasnya penanganan jalan lingkar selatan berpotensi membuat amarah warga memuncak.

Pasalnya, selama ruas itu rusak parah, angkutan berat bakal terus melenggang dalam Kota Sampit. Bima menuturkan, kegelisahan masyarakat semakin tidak terbendung. Apalagi angkutan yang melintas berbobot besar. Di atas 10 ton.

Bahkan, ada yang sampai sekitar 18 ton. Monster jalanan tersebut akan semakin menambah kerusakan jalan kota serta sangat membahayakan keselamatan pengguna jalan lainnya.

”Jangan sampai masyarakat yang turun tangan mengambil tindakan, karena masyarakat yang merasa kesulitan kalau jalan dalam kota rusak,” tegasnya.

Pemkab Kotim bukannya berpangku tangan. Berkali-kali pemerintah mengajak perusahaan untuk bersama-sama memelihara agar ruas itu tetap fungsional.

Meski kesepakatan terealisasi, namun ketahanan jalan dari upaya penimbunan tak sampai setengah tahun. Lubang kerusakan selalu menghiasi jalan tersebut di beberapa titik.

Alhasil, ”raksasa jalanan” kembali ramai-ramai melenggang dalam perkotaan. Trafiknya kian tinggi.

Upaya Dinas Perhubungan Kotim mengimbau, melarang, hingga menjaga agar truk tak masuk kota selalu sia-sia. Truk masih bebas melenggang ketika tak ada petugas jaga di titik masuk kota.

 

Fasilitas Rusak

Tingginya lalu lintas truk berdampak buruk. Selain merusak jalan, tak jarang truk mengalami kecelakaan tunggal, terperosok akibat ukurannya yang besar dan berat.

Kondisi itu membuat fasilitas pemerintahan dan publik rusak. Perumdam Tirta Mentaya Kotim dibuat kerepotan, karena beberapa kali kejadian itu membuat pipa rusak.

Pelanggan air minum menjadi korban. Selain aliran yang macet, kualitas air memburuk karena bercampur lumpur. Perlu lebih sehari sampai kondisi itu normal kembali.

Lalu lintas truk yang menyebabkan fasilitas rusak paling disorot pernah terjadi 12 Juli 2024 lalu.

Sebuah truk mengangkut alat berat menabrak tiang traffic light di persimpangan Jalan Pelita – Jalan HM Arsyad. Kerugian akibat kejadian itu mencapai sekitar Rp300 juta lebih.

Meski perusahaan akhirnya bertanggung jawab, kejadian itu tak lepas dari tingginya lalu lintas truk di jalanan Kota Sampit akibat belum beresnya jalur lingkar selatan.

 

Biang Keladi Kecelakaan

Jalanan yang padat dengan trafik lalu lintas truk yang tinggi meningkatkan potensi kecelakaan. Sejumlah kejadian melibatkan angkutan berat menelan korban nyawa warga Kotim.

Pada 24 Mei 2023 silam, nyawa Misriyah (43) melayang saat melintas di perempatan Jalan Kapten Mulyono – MT Haryono. Kecelakaan itu melibatkan sebuah truk.

Misriyah ketika itu berniat menyalip truk dari sebelah kiri. Tak disangka, saat menyalip, setang bagian kanan motor yang dikendarai Misriyah menyenggol bagian samping kiri truk.

Motornya langsung roboh dan masuk ke bawah kolong truk. Misriyah meninggal seketika di lokasi kejadian setelah roda belakang sebelah kiri truk melindasnya. Warga yang melihat kejadian itu pun bergegas melapor ke polisi.

Kecelakaan itu kembali membuat penanganan jalan lingkar selatan jadi sorotan. Pasalnya, Jalan Kapten Mulyono menjadi salah satu ruas padat yang kerap dilintasi truk angkutan berat, termasuk truk CPO.

Tingginya potensi kecelakaan, juga berkaitan dengan ulah sejumlah sopir yang dinilai seenaknya saat melintasi jalanan kota.

Radar Sampit beberapa kali menjumpai angkutan berat dengan bodi raksasa, ”bersaing” dengan kendaraan umum di jalanan. Sejumlah warga mengeluhkan sebagian sopir yang dinilai ugal-ugalan melintas.

Ketika kondisi itu ramai jadi sorotan, Radar Sampit mencatat Dishub Kotim kerap menindaklanjuti dengan pernyataan memperketat masuknya truk masuk kota.

Akan tetapi, kondisi yang sama terus berulang. Keterbatasan petugas tak mampu mengantisipasi tingginya lalu lintas truk yang masuk Sampit.

Saat dikonfirmasi, sejumlah sopir mengaku terpaksa melintasi jalanan dalam kota karena ruas lingkar selatan yang rusak.

”Kalau membawa angkutan melintasi jalan lingkar selatan yang dalam kondisi rusak, bisa-bisa kami celaka. Tak jarang truk terjebak saat memaksa lewat jalan yang rusak. Bahkan, ada kendaraan yang rusak karena melintasi jalan tersebut saat kerusakannya parah,” kata Ahmad, seorang sopir truk di Sampit.

 

Gagal Diperjuangkan

Sementara itu, anggota DPRD Kalteng perwakilan Kotim-Seruyan dinilai gagal memperjuangkan aspirasi pembangunan jalan lingkar selatan. Sebab, sudah lima tahun terakhir ini jalan tersebut tidak kunjung selesai.

”Intinya kami nilai baik pemerintah daerah ataupun DPRD Kalteng wakil dari Kotim ini  tidak peka dengan kondisi jalan lingkar selatan. Tahun ini alasannya efisiensi lagi. Artinya, kami menyesalkan pembangunan jalan lingkar itu tidak ada,” kata Supardi, sopir truk yang kerap melintasi jalur tersebut, baru-baru ini.

Menurutnya, jika wakil rakyat asal Kotim punya niat baik, tidak ada salahnya dana aspirasi mereka dilarikan untuk pembangunan jalan lingkar selatan tersebut. ”Kalaupun ada niat untuk menyelesaikan bisa saja dana aspirasi masing-masing DPRD itu diarahkan pembangunan jalan lingkar selatan itu. Tapi, itulah kondisinya sekarang. Kalaupun rusak parah nanti truk-truk akan masuk Kota Sampit,” kata dia.

Kuncoro, sopir truk CPO mengaku memilih melintas di dalam Kota Sampit daripada jalan lingkar selatan karena berisiko. Kondisi jalan yang rusak itu membuat dirinya tidak yakin dan rentan membahayakan pengguna jalan dan muatannya terbalik.

”Kami bawa muatan CPO 8 -10 ton lewat jalan rusak, kalau terbalik dan lain sebagainya kami sopir juga yang kena oleh bos. Lebih baik masuk dalam kota meski jalannya pelan-pelan, yang penting selamat,” katanya.

Dia awalnya berharap kepada Gubernur Kalteng terpilih, Agustiar Sabran, untuk memperhatikan jalan lingkar selatan itu. Dia pun awalnya menykini jika pemprov akan berpihak kepada pembangunan jalan itu.

”Karena waktu itu Pj Bupati Kotim di media juga berjanji  tahun ini akan mulus pembangunannya oleh Gubernur, tapi kenyataannya kena efisiensi. Apakah memang harus dikorbankan lagi anggaran jalan itu?” katanya. (yn/ang/ign)

Editor : Slamet Harmoko
#jalan rusak #Lingkar Selatan #efisiensi anggaran #sampit #anggaran