SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Rotan pernah menjadi salah satu komoditas andalan di Kabupaten Kotawaringin Timur dalam mendongkrak perekonomian rakyat.
Setelah masa jaya berlalu, hasil hutan itu kian ditinggalkan. Sebagian warga yang sebelumnya bergantung pada rotan, mulai beralih ke perkebunan kelapa sawit.
Pengusaha rotan di Kotim, Dahlan Ismail mengatakan, komoditas rotan yang tersedia di Kotim saat ini hanya menyisakan 30 persen.
Komoditas tersebut terancam punah, karena setiap tahunnya selalu menurun dan banyaknya petani rotan mengganti tanamannya ke kelapa sawit.
Perkebunan kelapa sawit secara ekonomi dinilai menjanjikan keuntungan lebih besar, karena bisa dipanen dua kali dalam sebulan.
Adapun rotan hanya bisa dilakukan dua tahun sekali. Hal itu disinyalir membuat banyak petani yang beralih menanam kelapa sawit.
”Banyak yang menebang rotan mereka dan menggantinya dengan menanam kelapa sawit. Ini tidak mungkin juga dilarang," kata Dahlan Ismail.
Dahlan sendiri memilih tetap bertahan menggeluti usaha rotan. Dia memiliki kebun rotan sendiri serta menampung rotan hasil panen dari petani di sejumlah kecamatan untuk dijual ke industri di Cirebon.
Menurutnya, sektor rotan mengalami penurunan sejak diberlakukannya larangan ekspor rotan mentah pada akhir 2011 silam. Saat itu banyak pengusaha rotan yang gulung tikar, termasuk di Kotawaringin Timur.
Hal itu karena rotan menumpuk hingga membusuk tidak ada pembeli. Dampaknya, pengusaha tidak mampu membiayai pekerja, sehingga mereka memilih tutup.
”Di tempat saya ini sekarang pekerjanya hanya sekitar 60 orang. Dulu lebih dari 200 orang. Larangan ekspor itu memang langsung berdampak," ujar Dahlan.
Pria yang sejak dulu getol dan vokal memperjuangkan aspirasi petani rotan ini mengaku prihatin dengan kondisi sektor rotan saat ini.
Padahal, hasil rotan masih cukup menjanjikan jika pemerintah membuat regulasi yang lebih menguntungkan petani dan pelaku usaha rotan, misalnya membuka kembali keran ekspor rotan dengan sistem buka tutup atau menggunakan kuota.
Dahlan menegaskan, rotan merupakan hasil budidaya, sehingga keberlangsungannya terjaga. Untuk itu, seharusnya ekspor rotan mentah tetap diizinkan, karena tidak berdampak buruk terhadap lingkungan.
Rotan sengaja ditanam dan hasilnya dipanen kemudian. Justru mempertahankan kebun rotan berarti otomatis mempertahankan hutan, karena rotan memerlukan tegakan pohon tempat rotan tumbuh merambat.
Tanam tumbuh rotan diatur, karena memang dibudidayakan, sehingga tidak ada kekhawatiran akan habis selama kebunnya masih ada.
Sejak dulu, lanjut Dahlan, sektor rotan berjalan secara mandiri tanpa bantuan pemerintah. Sektor ini juga menyerap tenaga kerja sangat banyak sehingga membawa dampak besar terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di desa.
Kini, kebun rotan di Kotim mulai tergerus oleh perkebunan kelapa sawit. Kebanyakan kebun rotan yang tersisa hanya di beberapa kecamatan, seperti di Kecamatan Seranau, Kotabesi, Cempaga, dan Cempaga Hulu.
Untuk wilayah utara semakin sedikit kebun rotan, karena banyak yang beralih fungsi menjadi kebun kelapa sawit. (ang/ign)
Editor : Slamet Harmoko