Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Data BPS, Penduduk Miskin di Kalteng Bertambah 3 Ribuan Orang Lantaran Dampak dari Sejumlah Faktor

Dodi Abdul Qadir • Kamis, 16 Januari 2025 | 07:00 WIB
Salah satu kegiatan operasi pasar  sembako di Palangka Raya, untuk menekan inflasi pada tahun 2024 lalu.
Salah satu kegiatan operasi pasar sembako di Palangka Raya, untuk menekan inflasi pada tahun 2024 lalu.

PALANGKA RAYA,radarsampit.jawapos.com - Badan Pusat Statistik Kalimantan Tengah (Kalteng) menyampaikan, persentase penduduk miskin provinsi ini pada September 2024 sebesar 5,26 persen. Meningkat 0,09 persen poin terhadap Maret 2024. Sedangkan, jumlah penduduk miskin pada September 2024 sebesar 149,24 ribu orang, meningkat 3,61 ribu orang terhadap Maret 2024.

Kepala BPS Kalteng Agnes Widiastuti memaparkan, persentase penduduk miskin perkotaan pada September 2024 sebesar 5,22 persen, meningkat dibandingkan Maret 2024 dari sebesar 4,89 persen. Sementara itu, persentase penduduk miskin perdesaan pada September 2024 sebesar 5,29 persen, menurun dibandingkan Maret 2024 yang sebesar 5,38 persen.

“Dibanding Maret 2024, jumlah penduduk miskin September 2024 perkotaan meningkat sebanyak 5,17 ribu orang (dari 60,17 ribu orang pada Maret 2024 menjadi 65,34 ribu orang pada September 2024),” paparnya saat merilis data tersebut, Rabu (15/1).

Agnes melanjutkan, pada periode yang sama, jumlah penduduk miskin perdesaan menurun sebanyak 1,56 ribu orang (dari 85,46 ribu orang pada Maret 2024 menjadi 83,90 ribu orang pada September 2024).

Diuraikannya, garis Kemiskinan pada September 2024 tercatat berpenghasilan sebesar Rp641.524,00/kapita/ bulan dengan komposisi Garis Kemiskinan Makanan sebesar 495.595,00 (77,25 persen) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan sebesar Rp145.929,00 (22,75 persen). Pada September 2024, rata-rata rumah tangga miskin di Provinsi Kalteng memiliki 4,68 orang anggota rumah tangga. Dengan demikian, besarnya garis kemiskinan per rumah tangga secara rata-rata adalah sebesar Rp3.002.332,00/ rumah tangga miskin/bulan.

Agnes menyebutkan, hal itu terjadi setelah adanya kenaikan harga barang kebutuhan pokok sebagai dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak.Selain itu karena ada pembatasan mobilitas penduduk saat pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia.

Ia melanjutkan, peranan komoditas makanan yang memberikan sumbangan terbesar pada garis kemiskinan, pada umumnya hampir sama. Harga beras masih memberi sumbangan terbesar, yakni sebesar 20,93 persen di perkotaan dan 24,69 persen di pedesaan. Kemudian harga rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua terhadap garis kemiskinan, yakni (13,37) persen di perkotaan dan 14,59 persen di pedesaan).

Komoditas lainnya adalah daging ayam ras (6,04 persen di perkotaan dan 5,09 persen di pedesaan), telur ayam ras (4,64 persen di perkotaan dan 3,76 persen di pedesaan), mie instan (3,38 persen di perkotaan dan 2,94 persen di pedesaan), gula pasir (2,53 persen di perkotaan dan 3,50 persen di perdesaan), dan seterusnya.

Kemudian, komoditas bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar garis kemiskinan, yakni perumahan (8,09 persen di perkotaan dan 9,50 persen di pedesaan), bahan bakar minyak (4,68 persen di perkotaan dan 2,80 persen di perdesaan), dan listrik (3,40 persen di perkotaan dan 1,66 persen di pedesaan). Urutan selanjutnya adalah sumbangan dari pendidikan, perlengkapan mandi, perawatan kulit, muka, kuku, dan rambut serta sabun cuci.

Dijelaskan Agnes, garis kemiskinan per rumah tangga adalah gambaran besarnya nilai rata-rata rupiah minimum yang harus dikeluarkan oleh rumah tangga untuk memenuhi kebutuhannya, agar tidak dikategorikan miskin. Secara rata-rata, pengeluaran rupiah untuk Garis Kemiskinan per rumah tangga sebesar Rp3.002.332,00/bulan.

“Meski demikian, persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan,” terangya.

Baca Juga: Langkah-Langkah Pemerintah Jaga Stabilitas Inflasi di Palangka Raya

Kemudian lanjut Agnes, faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan, yakni Pertumbuhan Ekonomi Kalteng Triwulan III Tahun 2024 tumbuh sebesar 4,64 persen (y-on-y). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Agustus 2024 menurun, tetapi pekerja setengah penganggur meningkat 0,08 persen poin pada Agustus 2024.Lalu, Inflasi pada September 2024 (y-on-y) sebesar 1,45 persen dan inflasi bulanan sebesar 0,07 persen.

Agnes menambahkan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memiliki andil terbesar terhadap inflasi Kalteng .Nilai Tukar Petani (NTP) pada September 2024 sebesar 125,38, menurun 0,27 persen dibandingkan NTP bulan sebelumnya, terutama pada subsektor tanaman pangan, hortikultura, dan peternakan.

“Bulan September 2024 merupakan puncak panen padi, produksi padi di Kalteng pada September 2024 sebesar 86,31 ribu ton GK. Namun kita yakin kedepan bisa lebih baik,” pungkasnya. (daq/gus)

Editor : Agus Jaka Purnama
#dampak #rumah tangga #Miskin Perkotaan #Maret 2024 #jumlah penduduk miskin #sumbangan #PALANGKA RAYA #garis kemiskinan #kalimantan tengah #badan pusat stastik (bps) #september 2024 #faktor #rumah tangga miskin #persentase #merilis #penduduk miskin #penduduk