Radar Utama Kalteng Metropolis Hukrim Nasional Olahraga Featured Hiburan Serba Serbi Opini Oto Tekno

Tegaskan Penutupan Hanya Sementara, Pemerintah Sediakan Jalan Alternatif Pembangunan di Jembatan Terantang

Heny Pusnita • Selasa, 10 Desember 2024 | 11:13 WIB

 

PENGECEKAN: Sejumlah Staf Bina Marga Dinas SDABMBKPRKP Kotim mengecek pembangunan jembatan box culvert di perbatasan Desa Terantang-Terantang Hilir, pekan lalu
PENGECEKAN: Sejumlah Staf Bina Marga Dinas SDABMBKPRKP Kotim mengecek pembangunan jembatan box culvert di perbatasan Desa Terantang-Terantang Hilir, pekan lalu

SAMPIT, radarsampit.jawapos.com – Pembangunan jembatan box culvert di perbatasan Desa Terantang dan Terantang Hilir, Kecamatan Seranau, yang menuai protes sejumlah warga, langsung direspons instansi terkait dan pemerintah kecamatan setempat.

Penutupan tersebut dinilai hanya sementara. Selain itu, ada akses alternatif yang disediakan.

”Tadi kami sudah turun ke lapangan bersama perangkat desa dan Sekretaris BPD untuk mengecek pekerjaan di lapangan. Intinya, kami berusaha mencari solusi agar akses masyarakat tetap lancar," kata Dwi Kushendro, Plt Camat Seranau, Senin (9/12).

Dwi meminta masyarakat memahami kendala teknis yang terjadi akibat curah hujan dan air pasang. Hal itu mempengaruhi pekerjaan pembangunan box culvert.

”Kami sudah diturunkan tiga mesin alkon penyedot air agar pekerjaan pengecoran bisa tetap dilakukan, tetapi curah hujan yang cukup tinggi menyebabkan proses pekerjaan sedikit terganggu," katanya.

Kades Terantang Aswadi Syukur melalui Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Abdul Wahab menambahkan, selama jembatan ditutup sementara, masyarakat masih melewati jalur alternatif.

Jalur itu berjarak sekitar 400 meter dari jembatan box culvert yang sedang dikerjakan menuju arah bawah (pinggir sungai) Jalan Desa Terantang - Terantang Hilir.

Motor bisa lancar lewat. Mobil juga bisa, tetapi bergantian. Akan tetapi, untuk mobil yang membawa muatan di atas setengah ton tidak bisa, karena jembatan hanya terbuat dari kayu ulin, sehingga apabila dipaksakan akan cepat rusak, bahkan ambruk," kata Abdul Wahab.

Abdul Wahab mengaku menerima komplain dari beberapa warga Desa Terantang Hilir yang sehari-harinya mengangkut hasil kebun sawit. Sebaliknya, warga Desa Terantang mendukung penuh pembangunan tersebut.

”Warga setempat (Terantang, Red) tidak ada yang komplain, malah mendukung pembangunan ini. Tetapi, ada warga dari Desa Terantang Hilir yang komplain karena mengangkut hasil kebun sawit," katanya.

Sebenarnya, dia melanjutkan, ada dua solusi yang bisa dilakukan agar masyarakat tetap bisa mengakses jalan meskipun jembatan sedang diperbaiki.

”Biasanya pengangkutan sawit itu menggunakan kelotok. Sebelum dibuka jalan, mengirim hasil kebun sawit juga pakai kelotok, tetapi memang ongkosnya lebih besar dibandingkan lewat jalur darat," ujarnya.

Apabila tak ingin mengirim hasil kebun menggunakan kelotok karena biaya yang besar, tambahnya, bisa menggunakan solusi kedua, yakni dengan cara melangsir hasil kebun.

”Melangsir hasil kebun ini maksudnya, muatan sawit dari Desa Terantang Hilir itu dibongkar muat di jembatan box culvert yang sedang dikerjakan, tetapi dari arah Desa Terantang harus ada pikap lain yang menyambutnya. Ini biayanya lebih ringan, meskipun tetap memerlukan tenaga bongkar muatnya," ujarnya.

Terpisah, Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim Mentana Dhinar Tistama mengatakan, dirinya menerima aduan dari masyarakat melalui WhatsApp beberapa hari lalu.

Aduan itu kemudian ditindaklanjuti dengan menurunkan sejumlah staf Bidang Bina Marga beserta Penjabat Pembuat Komitmen (PPK) Pembangunan Jembatan Box Culvert di Desa Terantang pada Sabtu (7/12).

”Kami langsung tindak lanjuti, berkoordinasi dengan perangkat desa dan camat untuk mencari solusi agar akses mobilisasi warga tidak terganggu," kata Mentana.

Mentana menegaskan, penutupan jembatan hanya dilakukan sementara waktu sambil menunggu pekerjaan pengecoran dinding penahan jembatan.

”Sebelum pembangunan jembatan ini dilakukan, kami sudah memikirkan dampak dan risikonya, sehingga ketika terjadi kendala, masih ada solusi dengan melewati jalur alternatif untuk akses masyarakat," ujarnya.

Staf Bidang Bina Marga Dinas SDABMBKPRKP Kotim Bagus Anugrah Nusantara yang saat itu mengecek lokasi pekerjaan jembatan box culvert menambahkan, penutupan jembatan dilakukan Jumat (6/12) dan selambat-lambatnya selama sepekan.

”Sebenarnya jembatan tidak ditutup lama. Kami hanya menutup sementara 4-5 hari dan secepatnya akan segera dibuka," kata Bagus.

Beberapa hari setelah jembatan ditutup, pekerja sudah berupaya membangun jembatan darurat. Namun, karena kondisi tanah tidak memungkinkan dan selalu longsor.

”Kami minta pekerja membangun jembatan darurat dan sudah dua kali dicoba tidak bisa, tanah longsor. Untuk saat ini pekerjaan masih pengecoran lantai, setelah itu dilanjutkan pengecoran dinding penahan. Kalau itu sudah dibangun dinding penahan, jembatan darurat bisa dikerjakan dan jembatan bisa segera dibuka kembali," ujarnya.

Staf Bidang Bina Marga yang juga sebagai PPK Pembangunan Jembatan Box Culvert di Desa Terantang Satria Wijaya mengatakan, proyek itu dikerjakan CV Rahmat Faisal selaku kontraktor pelaksana dengan nama kegiatan rekonstruksi Jalan Cempaka Mulia Timur Menuju Pulau Hanaut.

”Sesuai perjanjian kontrak, pekerjaan sudah dimulai 19 September dan ditenggat selesai 17 Desember 2024 dengan nilai kontrak sebesar Rp195.500.000," kata Satria Wijaya.

Satria meminta masyarakat setempat bersabar dan memahami situasi kendala teknis di lapangan yang disebabkan karena curah hujan tinggi selama beberapa pekan terakhir.

”Dalam beberapa pekan terakhir intensitas curah hujan cukup tinggi ditambah air pasang sehingga sedikit menghambat pekerjaan. Namun, kami akan terus mendorong penyedia jasa yang menjadi rekanan kami agar dapat menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu," katanya.

Informasi pembangunan infrastruktur di ruas jalan itu yang dinilai menghambat total akses darat warga untuk mengangkut hasil perkebunan, sebelumnya disampaikan tokoh masyarakat setempat yang juga anggota DPRD Kotim, Abdul Kadir.

”Warga sudah mengancam akan ada aksi, karena mereka tidak bisa keluar bawa pikap untuk mengangkut hasil kebun mereka. Pembangunan jembatan box itu memutus total jalan. Mestinya tidak begitu,” tegasnya.

Abdul Kadir menegaskan, pelaksanaan proyek itu menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat yang selama ini mengandalkan jalur darat. ”Seperi halnya buah sawit warga tak bisa dijual keluar kampung, karena jalan itu hanya bisa dilewati motor saja. Sementara pikap tak bisa melintas,” katanya. (hgn/ign)

Editor : Slamet Harmoko
#seranau #terantanghilir #jembatan #sampit #penutupan jalan