FAHRY ILHAMI SAMOSIR, Sampit
Anak berkebutuhan khusus memiliki hak untuk mengeyam pendidikan hingga ke jenjang lebih tinggi. Salah satu upaya pemerintah dalam menyediakan akses pendidikan bagi para anak berkebutuhan khusus, yakni dengan membuka sekolah inklusi.
Akan tetapi, upaya pemerintah untuk mengubah stigma masyarakat soal anak berkebutuhan khusus melalui kebijakan sekolah inklusi itu belum terpenuhi secara menyeluruh. Salah satunya terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Dalam layanan pendidikan, anak dengan kebutuhan khusus masih terdiskriminasi. Sekolah lebih mengutamakan anak-anak yang memiliki kemampuan kognitif normal. Kondisi demikian membuat orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus khawatir pada masa depan anaknya.
Hal tersebut terungkap dalam acara Seminar Parenting bertajuk ”Mengenal dan Mendampingi Anak Inklusi” yang diselenggarakan Bhayangkari Cabang Kotim di Aula Bhayangkari, Jalan DI Panjaitan, Kecamatan Baamang, Sampit, Rabu (2/2).
Ary Anisa, psikolog yang bertugas di RSUD dr Murjani Sampit saat menjadi narasumber mengungkapkan, hampir tidak ada sekolah negeri atau swasta di Sampit yang mau menerima anak berkebutuhan khusus. Artinya, sekolah inklusi di Kotim saat ini belum ada. Kalaupun ada, masih belum memenuhi standar pendidikan untuk sekolah inklusi.
Hal tersebut berbanding terbalik dengan imbauan pemerintah saat ini. Padahal, menurutnya, anak berkebutuhan khusus berhak mendapatkan pendidikan di sekolah negeri dan bebas memilih sekolah yang diinginkannya. Sebab, di sekolah itu anak berkebutuhan khusus bisa belajar meskipun dari segi kognitif terbatas.
”Paling tidak mereka (anak berkebutuhan khusus, Red) bisa belajar keterampilan, latihan bersosialisasi, komunikasi, hingga latihan berinteraksi di sekolah reguler tersebut. Namun, pada nyatanya anak berkebutuhan khusus masih dianggap harus bersekolah di sekolah luar biasa (LSB),” ujar Nisa.
Nisa menambahkan, perhatian bagi anak kerkebutuhan khusus jangan sampai terabaikan. Mereka juga berhak mendapatkan pendidikan yang standar serta mendapatkan perhatian yang sama dengan anak-anak lainnya yang lebih beruntung dari sisi fisik maupun kemampuan mental dan kognitif.
”Yang saya tahu, anak berkebutuhan khusus di Kotim setiap tahunnya semakin banyak. Namun, banyak yang saya temui malah disekolahkan yang tidak tepat. Padahal, kalau dinilai secara IQ, anak itu cukup pintar. Namun, karena anak itu memiliki retardasi mental ringan, akhirnya dia disekolahkan di SLB (sekolah luar biasa, Red),” katanya.
Sementara itu, Ketua Bhayangkari Cabang Kotim Ririn Sarpani sempat menunjukkan rasa emosionalnya ketika mendengarkan langsung salah satu ibu Bhayangkari yang menceritakan pengalaman anaknya yang berkebutuhan khusus, ditolak saat ingin mengeyam pendidikan di salah satu sekolah negeri di Kota Sampit.
Ririn Sarpani tak bisa membendung air matanya di depan ratusan ibu Bhayangkari Cabang Polres Kotim yang hadir di acara tersebut. Pasalnya, Ririn merupakan seorang ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Karena itu, dia mengajak para ibu agar memiliki rasa empati sosial terhadap anak berkebutuhan khusus.
”Ini adalah bagian dari kita semua (ibu Bhayangkari, Red) agar mempunyai empati sosial walaupun ibu lainnya (ibu Bhayangkara Cabang Kotim, Red) tidak memiliki anak berkebutuhan khusus,” ujar Ririn.
Dalam waktu dekat dia akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk membahas masalah tersebut agar sekolah negeri maupun swasta bersedia menerima anak inklusi dengan menyiapkan fasilitas, sarana, dan prasarana yang layak. (***/ign)
Catatan:
Berita ini mengalami perbaikan pada paragraf lima sesuai koreksi narasumber seminar untuk menghindari bias. Redaksi. Editor : Administrator